Tetes Hujan Bisa Hasilkan Energi Listrik

Kondisi alam Indonesia yang di sebagian tempat memiliki curah hujan tinggi menginspirasi dua siswa SMK Cakra Buana Depok, Luthfi Adhyaksadiputra (16), kelas 2 IPA, dan Cliff A G Muskitta (15) kelas 2 IPA. Mereka menilai hujan bisa dimanfaatkan sebagai salah satu energi alternatif selain panas bumi atau tenaga matahari. Dua siswa ini lalu membuat sebuah alat yang bisa mengubah tetes air hujan menjadi energi alternatif.

Karya mereka berhasil meraih juara I pada Lomba Karya Ilmiah untuk Siswa Tingkat Nasional Tahun 2012 dengan tema "Inovasi Teknologi Pengendalian Sumber Daya Air untuk Menghadapi Dampak Perubahan" yang digelar Pusat Litbang Sumber Daya Air.

Menurut Cliff, ide memanfaatkan tetes hujan muncul awal tahun lalu. Saat itu ia dan Luthfi merasakan cuaca hujan terus menerus. Terbersit dalam pikiran kenapa hujan tidak dimanfaatkan untuk sesuatu yang berguna. Mereka pun mendapat ide bagaimana air hujan bisa dijadikan energi. Setelah ide muncul, mereka mendiskusikannya dengan guru. Akhirnya pada bulan Maret tahun lalu, dibimbing Nopi Melani, guru Fisika di sekolahnya, mereka mulai melakukan penelitian tentang energi dari air hujan.

"Selama ini yang sudah ada energi memanfaatkan tenaga surya atau matahari, ada juga tenaga panas bumi. Kenapa air hujan tidak bisa, kami penasaran dan ternyata dengan pelajaran fisika yang kami dapat, ada tekniknya dengan bantuan alat tertentu," kata Cliff ditemui seusai menerima piala dari Wamen PU Hermanto Dardak, Rabu (2/5).

Dipaparkan siswa yang akan mendaftar beasiswa di NUS Singapur ini, alat yang dibuatnya terdiri dari magnet, kawat, per dan mika. Untuk merangkai komponen tersebut agar bisa menghasilkan energi, mereka membuat alat dengan menggunakan ilmu teori fisika,  Hukum Induksi Faraday.

Kawat dililit menjadi 100 lilitan yang akan dijadikan sebagai kumparan. Setelah itu kawat ini ditempelkan pada magnet. Selanjutnya, kawat dan magnet ini disusun dengan komponen lainnya dengan mika yang dimanfaatkan sebagai penampang.

"Jadi ketika hujan, tetesan air akan jatuh di penampang, saat itulah per bergerak naik turun dan juga menggerakan kumparan dan medan magnet. Pertemuan medan magnet dan kumpuran inilah yang menghasilkan energi, atau istilahnya dalam fisika menghasilkan fluks," kata siswa yang pernah meraih medali dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2011 ini.

Ukuran alat ini hanya 16x16 sentimeter. Dari alat ini baru bisa menghasilkan listrik 48 milovolt. Alat ini masih dikatakan sebagai prototipe. Namun bila diaplikasikan dengan ukuran lebih besar dan komponennya juga disesuaikan bisa menghasilkan energi yang besar juga.

Dicontohkan, bila ukurannya diperbesar tiga kali lipat atau lebih bisa menghasilkan listrik 48 volt yang bisa menghidupkan lampu. Agar alat ini bisa berfungsi, maka tetes hujan yang jatuh di penampang adalah tetesan yang cukup deras. Kalau hanya sekadar rintik hujan, alat tidak akan bergerak atau berfungsi. Semakin deras air hujan yang turun maka akan semakin baik energi yang dihasilkan.

Komponen alat ini, menurut Luthfi, dari barang-barang yang bisa didapat di Indonesia. Hanya saja, saat untuk membuat alat ini mereka mendapat kendala memperoleh magnet ukuran kecil. Mereka sampai berburu magnet ke Bandung. Itu pun setelah dapat hanya beberapa saja persediaan, sementara mereka butuh 16 magnet yang disesuaikan dengan jumlah kumparan dan per yang mereka sebut satu sel yang terdiri dari kumparan kawat, per, magnet dan mika. Mereka baru bisa mendapat magnet setelah pesan selama satu minggu.

"Dalam satu alat ini ada 16 sel, kami susun segi empat," ujar siswa yang baru pertama ikut lomba karya ilmiah ini.

Untuk biaya, mereka hanya menghabiskan biaya Rp 500 ribu untuk satu alat. Komponen paling mahal adalah magnet dengan harga satuan Rp 22 ribu. Kini dengan prototipe yang sudah ada, mereka ingin mengembangkan lebih baik lagi.

Menurut siswa yang ingin melanjutkan ke Fakultas Kedokteran UI ini, meski sederhana, bila alat ini diaplikasikan maka yang perlu diperhatikan adalah magnet. Karena medan magnet akan terus berkurang selain itu magnet juga bisa berkarat.

"Alat ini kami harap bisa bermanfaat khususnya bagi desa-desa yang sulit dijangkau aliran listrik," katanya.

Ditemui di lokasi yang sama, Ketua Panitia Lomba dan Peneliti dari Pusat Litbang Sumber Daya Air, Ratna Hidayat, hasil karya pemenang pertama ini dinilai orisinal. Mereka juga bisa mempresentasikan karya mereka dengan baik serta kegunaan alat tersebut yang juga dinilai punya manfaat.



:
  • Teknologi Sistem Peringkat Bahaya kebakaran Hutan
  • Sukun Gantikan Nasi
  • Ekspor Rotan Akan Ditutup
  • Klon Gmb 7 Menjadi Primadona Peremajaan Teh
  • Jalawure, Tumbuhan Liar Sumber Pangan Alternatif

    Sumber ( jabar.tribunnews.com)

  •   >> Ke Indeks Berita 

    Link

    Polling

      Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
    1 - 5 pohon
    5 - 10 pohon
    10 - 15 pohon
    lebih dari 15 pohon
    tidak menanam pohon

    Home   Contact   Email   LogIn



    Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat