Konservasi Elang Jawa Libatkan Swasta

CIBINONG, (PR).- Pemerintah menargetkan penambahan populasi elang jawa sebanyak 5-10 persen pada 2025. Satwa yang jumlahnya diperkirakan tersisa ratusan ekor itu kesulitan berkembang biak akibat perburuan liar dan kerusakan hutan di dataran tinggi.

Taman Safari Indonesia Bogor telah menangkar satwa tersebut sejak tahun 2000 sebagai upaya konservasi. Direktur Utama Taman Safari Indonesia Jansen Manansang mengaku lebih serius mengembangkan program konservasi tersebut mulai 2010 dengan membentuk tim khusus untuk penelitian.

"Ke depan, kami akan bangun kandang terstandar untuk mendapatkan anakan untuk program lepas liar elang jawa," kata Jansen saat acara penandatanganan nota kesepahaman dengan PT Smelting, Minggu, 4 Maret 2018. Namun, pengembangan program tersebut membutuhkan dana yang besar.

Pendanaan program konservasi elang di TSI mendapatkan bantuan dari perusahaan swasta. Penandatanganan kerja sama TSI dengan PT Smelting itu dilakukan langsung oleh Presiden Direktur Hiroshi Kondo untuk jangka waktu lima tahun ke depan.

Jansen berharap bantuan serupa dapat diikuti perusahaan lainnya hingga mewujudkan target penambahan populasi elang jenis ini pada 2025. "Elang jawa ini identik dengan Garuda yang menjadi lambang Negara Indonesia. Satwa tersebut dijadikan maskot satwa langka Indonesia sejak 1992," katanya menjelaskan alasan konservasi satwa tersebut.

Jansen menyebutkan populasi elang jawa tersebar di Pulau Jawa dari ujung Barat di Taman Nasional Ujung Kulon hingga Semenanjung Blambangan Purwo di ujung Timur. Namun, keberadaannya terus berkurang akibat kerusakan habitatnya di hutan hujan tropis dengan ketinggian 2.200-3.000 meter di atas permukaan laut.

Penjodohan elang

Program konservasi Taman Safari Indonesia baru membuahkan hasil setelah sepasang elang jawa menghasilkan sebutir telur pada 2017 lalu. Elang betina berusia delapan bulan yang menetas dari telur tersebut diklaim memiliki fisik dan perilaku normal layaknya elang di habitat aslinya.

Kurator satwa Taman Safari Indonesia Bogor, Imam Purwadi menceritakan proses perkawinan elang jawa yang membutuhkan penanganan istimewa di tempatnya. "Kendala lainnya dalam penjodohan. Sifat elang yang kawin satu kali setahun perlu penanganan khusus. Terkadang walaupun hidup bersama, mereka tidak mau kawin," katanya.

Koleksi elang jawa di TSI Bogor disebut mencapai lima ekor, termasuk seekor anakannya. Imam mengakui kondisi kandang di tempatnya belum memadai secara ukuran dan fasilitasnya. Ia menjelaskan sarang elang paling tidak membutuhkan luas 12x12 meter persegi dengan ketinggian minimal 14 meter.

Selain elang jawa, Imam menyebutkan koleksi elang di TSI Bogor mencapai 12 spesies dengan total individu sekitar 24 ekor. Ia mengaku kerap menemukan elang jawa di kawasan TSI Bogor khususnya di pepohonan tinggi. Karena itu, pihaknya juga terus mengembangkan kawasan hutan sekitar agar menjadi habitat satwa tersebut.

Sementara itu, Presdir PT Smelting Hiroshi Kondo mengatakan alasannya memberikan bantuan untuk program konservasi elang jawa pertama di TSI. "Ini merupakan komitmen kami sebagai perusahaan pengolahan tembaga pada perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia," katanya seusai acara.

Hiroshi mengatakan bantuan serupa rencananya juga diberikan pada program pelestarian harimau sumatera dan badak yang juga mengalami kepunahan. Khusus elang jawa, ia mengakui satwa tersebut perlu dilestarikan karena merupakan lambang Negara Indonesia.***




Sumber ( http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2018/03/04/konservasi-elang-jawa-libatkan-swasta-420561)

  >> Ke Indeks Berita 

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon