| Jum'at, 21 September 2007 |
|
12 Negara Bersatu Atasi Soal Hutan
COP-13 Momentum Penting Perdanaan Kehutanan
JAKARTA, KOMPAS
– Dua belas Negara yang memiliki hutan hujan tropis sepakat bersatu
mempromosikan pengelolaan hutan berkelanjutan, termasuk mengurangi emisi karbon
karbon akibat rusaknya hutan dalam rangka mengurangi dampak perubahan dampak
perubahan perubahan iklim global.
Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono akan meminpin Pertemuan Khusus Tingkat Tinggi
Negara-negara Pemilik Hutan Hujan Tropis di Gedung PBB di New
York, Amerika Serikat, 24 September 2007 mendatang.
“Pertemuan
ini diantaranya meningkatkan posisi tawar dalam Konferensi para Pihak ke-13
(COP-13) di Bali, Desember mendatang,” kata Menteri
Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar kepada wartawan seusai penutupan workshop
Jurnalis Lingkungan “Perubahan Iklim dan Pemanasan Global” di Jakarta,
Selasa (18/9).
Dua belas
Negara atau disebt Forest 12 (F12), yaitu Indonesia, Brasil, Kosta Rika,
Kmaerun, Kolombia, Gabon, Malaysia, Kongo, Republik Demokratik Kongo, Meksiko,
Papua Niugini, dan Peru. Sebelumnya hanya delapan Negara yang bergabung.
Wetsland
Internatioanal menobatkan Indonesia
di peringkat ke tiga setelah AS dan China
dalam jumlah emisi CO˛. Sumbangan terbesar emisi karbon oleh Indonesia,yaitu
dari hutan. Selain itu, Greenpeace juga memosisikan Indonesia
sebagai perusak hutan nomor satu di dunia.
Skema yang
ditawarkan adalah reforestasi-konversi lahan bukan hutan menjadi hutan kembali
dengan penanaman dan sebagainya pada lahan bukan hutan yang sebelumnya adalah
hutan, dan aforestasi-konversi lahan yang 50 tahun terakhir bukan hutan menjadi hutan.
Neagara-negara
F12 akan mengajukan skema mencegah dehutanisasi melalui langkah-langkah
konservasi hutan seperti hutan lindung.
Menurut
rencana. Seusai pertemuan di sela-sela sidang Umum PBB itu F12 akan
mengeluarkan beberapa pernyataan bersama.
Pengelolaan Berkelanjutan
Pernyataan
itu bisa dibagi dua, komitmen para 12 negara sendiri dan ajakan kepada dunia
untuk bersama-sama mempromosikan pengelolaan hutan berkelanjutan guna mendukung
pencapaian pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pengentasan kaum miskin, dan
memberikan kontribusi dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim.
Untuk
finalisasi draf pernyataan bersama, Duta Besar RI
untuk PBB akan mengadakan berbagai pertemuan dengan utusan Negara-negara yang
diundang.
Komoitmen
bersama yang dibangun adalah memperkuat ikatan persahabatan dan kerjasama
antarpemerintah pemilik hutan hujan tropis, serta kesepakatan untuk memastikan
bahwa persoalan hutan bisa masuk kedalam Kerangka Kerja PBB tentang Konvensi
Perubahan Iklim (UNFCCC) pascatahun 2012-batas Protokol Kyoto.
Ke-12
negara tersebut antara lain juga berencana membuat Plan Of Action yang sama.
Mereka juga akan mengajak dunia untuk menyadari pentingnya keberadaan hutan
hujan tropis.
Hingga tahun 2012, skema pembiayaan terkait pengurangan
dampak perubahan iklim disusun melalui mekanisme pembangunan bersih (clean development mechanism/CDM). Namun,
skema itu dianggap rumit dan kurang mengadopsi fungsi penting dari hutan hujan
tropis.
Seperti
diungkapkan Rachmat, berdasarkan perhitungan harga perhektar hutan dalam
keadaan baik senilai 10 dollar AS, Indonesia
berpeluang memperoleh dana kompensasi untuk upaya mencegah dehutanisasi senilai
370 juta dollar AS pertahun.
Belum termasuk
pembiayaan hutan dengan standar dibawah itu yang bisa mendapat lebih kecil dari
5 dollar AS,” katanya. Menrut Rachmat, dana tersebut baru bisa turun jika dana
itu dimanfaatkan sebaik-baiknya.” Dengan komitmen seperti itu, maka akan muncul
sikap efisien dalam menggunakan dana,” tambahnya. Menurut Rachmat, Brasil yang
selama ini dipamdang sebagai “pesaing” Indonesia
sudah merasa nyaman dengan langkah F12.
Dikatakan
Rachmat, pertemuan di Bali mendatang amat penting untuk
memastikan langkah berikut, khususnya untuk skema pasca tahun 2012.
Berhati-hati
Dalam
Workshop Jurnalis dengan narasumber Harry Suryadi dari Masyarakat Jurnalis
Lingkungan Indonesia (SIEJ) ditegaskan, pemberitaan atau penulisan soal
pemanasan global dn perubahan iklim harus dilakukan secara berhati-hati.
Fakta-fakta
terkait dengan cuaca tidak bisa secara langsung dikaitkan dengan perubahan
iklim mebutuhkan waktu puluhan tahun, lebih dari 30 tahun.
Kalangan
pers juga menyadari bahwa isu lingkungan selama ini secara umum selalu kalah
populer oleh isu politik, ekonomi, hukum, dan pertahanan keamanan. Padahal,
menurut seorang peserta, Budiyati Abiyoga, isu lingkungan ini sebenarnya
strategis untuk mengubah perilaku orang perorang terkait dengan penyelamatan
kondisi lingkungan secara keseluruhan, termasuk mengurangi emisi karbon,
misalnya dengan tidak banyak menggunakan AC dan berperilaku hemat energi.
: Degradasi Fungsi Hutan Memprihatinkan Dishut Jabar Bertekad Pulihkan Fungsi Hutan Pada Tahun 2010 Hutan Sukawayana Kian Kritis Menhut MS. Kaban Tanam 8500 Pohon Pemhijauan di Bogor KBU Rusak, Bandung dalam Incaran Bencana
| Sumber |
: |
Kompas |
| Penulis |
: |
GSA/ISW |
| File |
: |
12 Negara Bersatu Atasi Soal Hutan.doc (29 KB) [download] |
| Telah Dibaca |
: |
604 Kali |
|