Dinas Kehutanan Prov Jabar

Elang Jawa Masih Ditemukan di Gunung Gede Pangrango

CIANJUR, (PR).- Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) masih menjadi hunian yang nyaman bagi Elang Jawa. Sarang satwa langka tersebut, baru-baru ini ditemukan di dalam kawasan TNGGP.

Burung pemangsa yang paling dilindungi itu pun berhasil diabadikan dalam sebuah potret oleh Tim Monitoring Elang Jawa TNGGP. Tim yang terdiri dari Fungsional Pengendali Ekisistem Hutan, Fungsional Polisi Hutan, Fungsional Penyuluh Kehutanan dan Masyarakat Mitra Polhut mengabadikan momen induk elang bersama anaknya, yang diperkirakan baru berusia 1-2 minggu.

"Lokasi sarangnya ada di dalam kawasan konservasi, tapi untuk posisi jelasnya kami tidak bisa sebutkan. Khawatirnya nanti malah diburu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, apalagi Elang Jawa ini nilai ekonomisnya sangat tinggi," kata Humas Balai Besar TNGGP, Ade Bagja Hidayat Selasa, 23 April 2019.

Ia menceritakan, elang tersebut pertama kali terpantau oleh tim monitoring pada 13 April 2019 lalu. Kemudian, satwa itu kembali terpantau pada 18 April 2019. Hanya saja, tim tidak bisa terlalu sering melakukan pantauan terhadap kondisi sarang dari jarak dekat.

Hal itu dikhawatirkan, akan menganggu aktivitas elang tersebut. Lebih lanjut dikatakan, penemuan induk elang beserta anaknya itu menjadi berita yang menggembirakan. Terlebih, dalam IUCN Red List elang jawa ditetapkan sebagai hewan yang terancam punah dan termasuk sebagai satwa dilindungi sesuai Peraturan Menteri LHK Nomor 106 tahun 2018.

"Keberadaan satwa ini juga menjadi salah satu indikator kondisi kesehatan ekosistem. Adanya mereka, mengindikasikan kalau kawasan konservasi ituTNGGP masih terjaga," ucapnya.

Ade menambahkan, elang sebagai top predator termasuk satwa yang peka terhadap kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, jika induk elang masih melahirkan keturunannya, bisa dikatakan TNGGP menjadi rumah yang nyaman untuk mereka berkembang biak.

Atas dasar tersebut, Ade pun menilai jika kawasan Gede Pangrango perlu tetap dipertahankan sebagai hutan konservasi. Soalnya, keberadaan satwa-satwa di dalamnya menjadi salah satu hal penting yang juga perlu terus dilindungi.

"Dan ini membutuhkan peran serta dari semua pihak untuk tetap menjaga kelestarian kawasan konservasi TNGGP. Supaya terus menjadi rumah yang nyaman Elang Jawa dan tentunya jenis satwa yang dilindungi lainnya," ujar dia.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu ditemukan seekor elang brontok di kawasan Cianjur. Penemuan satwa dilindungi itu sempat menghebohkan warga, elang yang diduga dipelihara secara ilegal tersebut ditemukan terluka karena tersangkut di kabel listrik.

Petugas PPNS BKSDA Jawa Barat, Ajat Sudrajat mengungkapkan, tidak pernah ada izin untuk kepemilikan elang jenis apapun. Apabila ditemukan seseorang memelihara elang, dapat dipastikan jika itu bersifat ilegal.

"Perburuan liar untuk pemeliharaan hingga perdagangan satwa langka itu masih terjadi. Nilai ekonomisnya memang tinggi, dan kondisi seperti itu akan berdampak pada populasi elang yang berkurang," ucapnya.

Ia mengingatkan, jika kembang biak elang tergolong sulit karena satwa tersebut memang tidak bisa dikawinkan untuk menghasilkan keturunan. Maka dari itu, hingga saat ini elang termasuk dilindungi dan tidak boleh dipelihara atau diperdagangkan sama sekali.***



Sumber ( https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2019/04/23/elang-jawa-masih-ditemukan-di-gunung-gede-pangrango)

Telah Dibaca:192 Kali


Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon

Home   Contact   Email   LogIn



Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat