Selamat Datang di Website Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat
Peta Situs  Kontak    Mail    Login   
Minggu,   23 Juli 2017
 
Jum'at, 4 Januari 2008
Deklarasi Bersama untuk Mewujudkan Tata Kelola Hutan Berbasis Elemen Masyarakat

Corneille Ewango, sang Botanist dan aktivis lingkungan bisa saja didaulat menjadi "pahlawan" dikarenakan kontribusinya terhadap kelestarian hutan di Kongo. Begitupun India yang memiliki Jadav "Molai" Payeng sebagai sosok pelindung dan pelestari hutan di India. Tapi, Indonesia tentu tidak kalah hebatnya karena memiliki Pak Bambang Istiawan dan Ibu Rosita sebagai "Forest Man"-nya Kota Hujan.

Beliau berdua dengan penuh dedikasi mengabdikan diri sebagai pegiat ekosistem dan lingkungan selama belasan tahun dengan membentuk Hutan Organik di wilayah Puncak Bogor tepatnya Megamendung, Bogor - Jawa Barat.

Kita tentunya patut bersyukur dan berbangga diri karena masih ada orang-orang seperti Pak Bambang Istiawan dan Ibu Rosita di tanah air tercinta ini. Mereka merupakan segelintir bagian dari masyarakat Indonesia yang memiliki rasa cinta dan pengabdian yang berlebih terhadap keberlanjutan masa depan alam dan lingkungan khususnya hutan di Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Suzanne Simard, sang Forest Ecologist bahwasanya "A forest is much more than what you see".

Awal mula perkenalan kami dengan Pak Bambang Istiawan bermula ketika himpunan kemahasiswaan di kampus kami yang ternama khususnya di bidang pertanian melakukan silaturahmi dengan mengunjungi Hutan Organik milik beliau.

Kami disambut baik dan sungguh terkesima dengan kebaikan dan kerendahan hati yang beliau miliki. Kami tidak hanya memperoleh pelajaran bermanfaat yang sangat berharga melainkan berkesempatan pula melakukan penanaman pohon di Hutan Organik kepunyaan beliau tersebut.

Jujur saja kami begitu terinspirasi dengan apa yang Pak Bambang dan Ibu Rosita lakukan selama ini karena apa yang mereka lakukan tidak hanya sebatas teori melainkan kerja nyata. Pak Bambang dan Ibu Rosita mengubah lahan yang awalnya tandus dan gersang menjadi lebat dan rimbun dengan pepohonan dan pelengkap ekosistem lainnya.

Tentu butuh waktu yang tidak singkat untuk mewujudkan semuanya tapi berkat kegigihan dan kerja keras beliau akhirnya apa yang diharapkan bisa terjadi. Selain itu Pak Bambang dan Ibu Rosita juga memberdayakan kelompok tani binaannya yang terdiri dari masyarakat di sekitar hutan.

Berkat inspirasi yang telah Pak Bambang dan Ibu Rosita tularkan maka kami pun berinisiatif dan berupaya melakukan satu langkah kecil yang sekiranya bermakna dan bermanfaat terutama bagi banyak orang dalam rangka turut serta berpartisipasi dalam mendukung kelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Maka tepat pada Sabtu, 14 Maret 2015 silam bertempat di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) diadakanlah acara "Deklarasi Bersama untuk Mewujudkan Tata Kelola Hutan Berbasis Masyarakat oleh Seluruh Elemen Masyarakat Bogor Raya" yang diinisiasi oleh segenap Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). Hal ini dilakukan semata-mata guna membangun sinergi antara berbagai elemen masyarakat untuk perlindungan hutan dan konservasi alam di Indonesia.

Adapun Deklarasi Bogor Raya untuk mewujudkan tata kelola hutan berbasis masyarakat tersebut dihadiri oleh pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bogor, Polres Kabupaten Bogor, Kodim 0612 Kabupaten Bogor.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dan yang paling penting ialah dihadiri oleh para Kepala Desa dan Kelompok Tani sekitar Hutan Bogor Raya. Wow!

Berdasarkan laporan yang ada semenjak 2013 silam keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan memang semakin membaik. Hal ini dibuktikan melalui sekitar 4000-an izin pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan ketika itu.

Kendati demikian upaya peninjauan terhadap kebijakan pemerintah khususnya tentang lingkungan dan konservasi alam tetap harus dikawal. Selain itu rumusan analisis terhadap dampak ekonomi dan lingkungan terhadap industri yang berbasis hutan juga perlu ditelaah lebih lanjut.

Berkenaan dengan hal tersebut maka perlunya melestarikan kembali kearifan lokal khususnya di bidang ekologi di dalam masyarakat Indonesia. Sebagaimana dipahami bersama bahwa hutan merupakan bagian dari kehidupan para masyarakat tradisional sehingga pantang untuk melakukan perusakan hutan ataupun memanfaatkan hutan dengan mengabaikan aspek kelestarian.

Hal ini dikarenakan dapat mengancam keberlangsungan hidup alam dan seisinya. Oleh karenanya masyarakat tradisional kita memiliki kearifan tersendiri dalam memanfaatkan hutan agar tetap lestari.

Masyarakat juga perlu diarahkan dan diupayakan terkait peningkatan kemampuannya di bidang wirausaha masyarakat. Misalnya dengan melakukan usaha agroforestry yang mempunyai nilai jual di pasar. Usaha ini merupakan penggunaan sistem lahan untuk suatu tanaman tahunan dan semusim pada lahan yang sama baik sebagai tanaman pertanian, ternak dalam pengaturan secara spasial maupun semusim.

Pada dasarnya, pengembangan lapangan kerja tentu harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Frans Wanggai (2009) dalam bukunya yang berjudul "Manajemen Hutan: Pengelolaan Sumberdaya Hutan Secara Berkelanjutan" menjelaskan bahwa dalam beberapa hal, penyelenggaraan kehutanan harus memperhatikan asas kebersamaan.

Maksudnya agar dalam penyelenggaraan kehutanan menerapkan pola usaha bersama sehingga terjalin saling keterkaitan dan saling ketergantungan secara sinergis antara masyarakat setempat, pemerintah dan pengusaha untuk pemberdayaan usaha kecil maupun menengah.

Penyelenggaraan kehutanan berasaskan keterbukaan juga perlu diterapkan di mana hal ini dimaksudkan pula agar setiap penyelenggaraan kegiatan kehutanan mengikutsertakan masyarakat dan memperhatikan aspirasi masyarakat.

The last but not least, sinergi yang berasal dari asas keterpaduan juga menjadi satu hal terpenting yang perlu digalakkan dalam pelaksanaannya. Hal ini diimaksudkan agar setiap penyelenggaraan kehutanan dapat dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan kepentingan nasional dan sektor lain dalam kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat setempat.

Oleh karena itu pengelolaan hutan harus dilakukan secara terpadu dan berwawasan lingkungan. Hal ini karena disadari bahwa gerakan penyadaran akan terciptanya sinergi antar pihak terhadap konservasi dan pelestarian lingkungan dan alam tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah sehinga masyarakat pun harus terlibat aktif didalamnya.



Sumber  : https://www.qureta.com/post/deklarasi-bersama-untuk-mewujudkan-tata-kelola-hutan-berbasis-elemen-masyarakat
Penulis  :
File  : ---
Telah Dibaca  : 63 Kali

  >> Ke Indeks Sorotan Kita 




Polling
  Menurut Anda Populasi pohon di Kota Bandung
Sangat Banyak
Cukup Banyak
Kurang Banyak
Sedikit
Sangat Kurang


Peta Kawasan Hutan
Pelayanan



 

Google Analytics Alternative