Cari Artikel :

No Judul File
1
PENGELOLAAN HHBK HATA SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN DI CITUMANG KABUPATEN PANGANDARAN, POTENSI YANG HARUS DI LESTARIKAN

PENGELOLAAN HHBK HATA

SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN DI CITUMANG KABUPATEN PANGANDARAN, POTENSI YANG HARUS DI LESTARIKAN

Oleh :

SUYARNO

(Teknisi, Balai Litbang Teknologi Agroforestry, Ciamis)

 

Pendahuluan


Hutan sebagai sumber daya alam mempunyai potensi menghasilkan kayu sebagai komoditi utamanya dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) sebagai hasil ikutannya. Pengelolaan hutan lestari harus bisa menjaga kelestarian baik hasil utamanya berupa kayu maupun hasil hutan bukan kayu, karena dalam perkembangnnya hutan telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar seperti untuk pemenuhan kebutuhan akan pangan dan energi, bahan bangunan bahkan lahan untuk bercocok tanam.


Beberapa jenis hasil hutan bukan kayu baik dari kawasan hutan maupun hutan rakyat yang telah dikenal antara lain, seperti bambu, buah-buahan, getah, bibit, tanaman obat. Berbeda hal nya dengan hata sebagai komoditi HHBK sejenis paku-pakuan yang belum banyak dikenal secara luas di masyarakat tetapi memiliki potensi yang cukup tinggi.


Hata sebagai komoditi HHBK meskipun belum dikenal secara luas tetapi sudah populer dikenal oleh masyarakat di Bali dan Lombok sebagai bahan baku kerajinan, bahkan di KPHL Rinjani Barat tanaman hata diarahkan menjadi HHBK unggulan sebagai bahan baku kerajinan anyaman hata yang telah diangkat menjadi salah satu kerajinan unggulan Provinsi NTB terutama Pulau Lombok. Tingkat permintaan kerajinan anyaman hata baik untuk pasar dalam negeri maupun untuk keperluan ekspor terus meningkat, ditunjukkan dengan para pengrajin hata di Lombok pada saat sekarang kebutuhan bahan bakunya sudah dipasok dari daerah lain dari Pulau Sumbawa, NTT, Kalimantan dan bahkan juga berasal dari Citumang Jawa Barat.


Citumang sebagai salah satu daerah yang mensuplay kebutuhan bahan baku hata di Lombok mempunyai potensi yang cukup besar dengan ketersediaan bahan baku hata yang melimpah untuk dikembangkan menjadi pusat kerajinan hata.  Potensi ini akhirnya menarik pihak stake holder pemda Kab. Ciamis yaitu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ciamis (saat ini pindah ke Pangandaran) tertarik untuk mengembangkan hata menjadi centra kerajinan hata di Citumang Kabupaten  Pangandaran.


Hata/Ketak


Hata adalah nama daerah masyarakat Jawa Barat, sedangkan untuk di Lombok lebih dikenal dengan nama ketak, merupakan bahan baku utama kerajinan di Citumang. Hata/ketak  dalam bahasa latinnya Lygodium circinnatum (Burm.f) Sw. adalah tumbuhan paku merambat (Schizaeaeceae) yang panjangnya dapat mencapai 10 m dan diameter batang 2-5 mm. Bentuk daunnya menjari 2-5 dengan tepi daun bergerigi, pada permukaan bawahnya terdapat sporangium. Jenis ini memiliki rimpang pendek kurang dari 10 cm, sedikit berdaging dan menjalar di dalam tanah. Secara umum Lygodium mempunyai akar yang merayap, berambut tapi tidak bersisik, daun-daunnya monostichous, melilit dan pertumbuhannya tidak dapat didefinisikan. Rantingnya tidak panjang, ranting primernya pendek, ujungnya terhenti dan ditutupi oleh rambut dan setiap ujungnya terdapat sepasang ranting sekunder. Hata tumbuh subur pada tempat-tempat terbuka dan hutan-hutan sekunder mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1.500 m dpl.


Hata Sumber Pendapatan Bagi Masyarakat Citumang


Hata secara umum oleh masyarakat Jawa Barat dianggap sebagai tanaman liar atau bahkan gulma karena merambat pada pohon yang berada di sekitarnya sehingga sering kali tanaman ini dibersihkan/dibabat  pada saat musim kemarau. Demikian halnya oleh masyarakat Citumang pada awalnya menganggap hata itu tanaman liar atau gulma yang tidak ada manfaatnya sehingga dibersihkan pada saat musim kemarau dibuang dan di bakar.


Persepsi dan anggapan tersebut mulai berubah bahwa hata adalah tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang dapat dijual sejak tahun 1999 dipelopori oleh dua orang tokoh masyarakat yaitu Pak Misman dan Ibu Ida yang sekarang menjadi ketua kelompok pengrajin ketak, karena adanya permintaan batang hata dari Jawa Timur 


Tahun 1999 atas prakarsa dua tokoh masyarakat tersebut  hata yang awalnya tanaman yang tidak bernilai bahkan dianggap gulma, menjadi komoditi andalan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari oleh banyak kepala keluarga di Citumang.


Masyarakat Citumang memperoleh pendapatan dari hata terbagi dalam tiga bagian yaitu 1). Masyarakat mencari hata dan menjual dalam bentuk bahan baku mentah 2). Masyarakat menjual dalam bentuk bahan baku jadi dan 3) masyarakat menjual hata dalam bentuk hasil kerajinan.


1.    Masyarakat mencari hata dan menjual dalam bentuk bahan baku mentah

Hata oleh para pemilik lahan banyak  yang tidak dimanfaatkan dan dianggap tanaman pengganggu oleh karena itu pada saat ada orang yang mencari hata sangat dipersilahkan dan tidak perlu membeli kepada pemilik lahan. Dalam perkembangannya permintaan bahan baku hata yang terus meningkat sehingga pada saat ini hampir 80% penduduk kampung Citumang menjadi pemungut hata di sela-sela pekerjaan utamanya bertani.

Banyaknya permintaan dan banyaknya para pemungut hata menyebabkan keberadaan hata semakin langka dan untuk memenuhi kebutuhan permintaan dari Bali dan Lombok, para pemungut mencari hata hingga ke wilayah luar Citumang bahkan sampai ke wilayah Tasikmalaya dan  Garut. Pemungut hata menjual hata dalam bentuk batang utuh basah dan belum dibersihkan ruasnya dengan harga Rp. 7.500/ikat. Pengiriman ketak/hata oleh Ibu Ida dilakukan sebulan sekali sebanyak satu mobil bak dengan jumlah 200.000 – 400.000 batang per pengiriman. Rata –rata jumlah ketak yang di suplay oleh pemungut setiap harinya sebanyak 100 ikat (10.000 batang), dengan rata rata satu orang pemungut mensuplay 10 ikat per hari.



2.    Masyarakat menjual dalam bentuk bahan baku jadi

Bahan baku mentah adalah batang hata yang masih utuh, adapun bahan baku jadi adalah batang hata yang sudah dibagi menjadi 4 dan sudah kering. Pembagian batang hata menjadi 4 menggunakan alat bantu berupa obeng bunga. Batang hata yang sudah terbagi menjadi 4 selanjutnya dijemur selama 1 hari dan diikat per 100 batang.


Harga beli hata dari pemungut yang sudah kering sebesar Rp. 11.000/ikat untuk ukuran panjang 140 cm. Ketak dengan ukuran panjang 120-130 cm dibeli dengan harga Rp. 70/btg atau Rp. 7.000/ikat.



3.    Masyarakat menjual hata dalam bentuk hasil kerajinan.

Citumang menjadi centra kerajinan hata di mulai pada tahun 2015 dengan fasilitator Bapak Asep Barnas (Dewan Kerajinan Nasional) dari Tasikmalaya melatih sebanyak 30 orang warga Citumang untuk membuat kerajinan  anyaman dari hata. Pelatihan tersebut menghasilkan kerajinan berupa anyaman tas, topi, gelang dll. Kerajinan hata sampai dengan saat sekarang masih ditekuni oleh 10 orang dengan penjualan secara rutin mengirimkan gelang hata sebanyak 1.000 biji dengan harga Rp. 3.500/biji ke Toko Mirota Batik di Yogyakarta setiap 6 bulan sekali. Produk lain yang dijual ke Yogyakarta berupa tatakan gelas yang dijual oleh pengrajin dengan harga Rp. 4.500/buah. Produk kerajinan yang lainnya berupa tas, topi dijual di shouroom di Citumang dengan pangsa pasar para wisatawan body rafting.


Peluang Pasar Kerajinan Hata


Citumang sebagai daerah penghasil bahan baku hata hampir seluruh penjualannya untuk mensuplay bahan baku kerajinan di Lombok. Kerajinan ketak di Lombok masih mempunyai peluang besar untuk menerima hata dari Citumang. Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian NTB (2010) dalam  Devy PK. dkk. 2015, menyatakan bahwa produk kerajinan anyaman ketak terdapat di 6 (enam) kabupaten yaitu Kabupaten Bima, Dompu, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara dan Lombok Timur dengan 69 sentra, unit usaha 15.649 buah dan dapat menampung tenaga kerja sebanyak 26.331 orang serta menyerap investasi sebesar 3.816.663.000 dengan nilai produksi sebesar 26.862.701.


Disamping itu, peluang usaha hata  juga di dapat dari keberpihakan pemda Kabupaten Pangandaran dalam hal penjualan produk dan promosi produk kerajinan hata dengan mengundang dan memfasilitasi dalam hal pameran seperti Inacraft dll. Pemda Kabupaten Pangandaran juga telah memfasilitasi adanya pengiriman pengrajin hata untuk studi banding langsung ke tempat kerajinan hata di Lombok, karena kerajinan anyaman hata telah menjadi salah satu kerajinan unggulan di Provinsi NTB terutama di Pulau Lombok. Hasil penelitian Tauhid (2012) dalam Devy PK. dkk. 2015, menunjukkan bahwa produksi anyaman ketak/hata di Pulau Lombok telah menembus pasar mancanegara seperti Jepang, Thailand hingga Eropa


Kendala Dalam Kelestarian Hasil dan Kelestarian Budidaya


Pengelolaan hata sebagai komoditi HHBK untuk menuju pengelolaan hutan lestari, baik dari segi kelestarian hasil maupun kelestarian budidayanya, menghadapi berbagai tantangan sebagai berikut:

 

a.    Kendala Kelestarian Hasil

Ketersediaan bahan baku semakin berkurang

Tingkat permintaan bahan baku di Citumang yang terus meningkat menyebabkan semakin jauhnya orang mencari bahan baku hata di kebun dan sampai dengan saat sekarang bahan baku hata sudah dikirim dari Kecamatan Cijeungjing yang berjarak hampir 100 km.


 

Informasi pasar kerajinan hata masih terbatas

Kerajinan hata Citumang masih sebatas mensuplay kebutuhan ke Yogyakarta, Lombok dan penjualan ditempat. Informasi pasar masih sangat terbatas sehingga belum bisa merambah ke daerah lain.


 

Promosi dan publikasi masih terbatas

Pelaksanaan pameran kerajinan yang difasilitasi dari Pemda masih sangat terbatas, promosi kerajinan di tempat wisata juga masih terbatas. Promosi dan publikasi kerajinan hata masih sangat minim sehingga menyebabkan masyarakat belum banyak yang tau tentang kerajinan hata dengan segala kelebihannya.


 

b.    Kendala Kelestarian Budidaya

Bahan baku yang semakin sulit disebabkan oleh ketidak seimbangan antara pertumbuhan hata secara alami di alam dan tingkat pemanenan, disamping faktor perbanyakan tanaman hata yang sangat sulit di lakukan. Hata di citumang dan daerah lainnya di Jawa Barat masih mengandalkan hata yang tumbuh secara alami, sehingga stok tanaman semakin habis dengan tingkat pemanenan yang tinggi.


 

Pertumbuhan alami masih diandalkan oleh para pencari hata karena  adanya persepsi masyarakat bahwa tanaman hata merupakan tanaman pengganggu

 

Kondisi demikian akan mengancam kepunahan bahan baku kerajinan hata dan lebih jauhnya dapat menurunkan tingkat biodiversitas dari hutan. Oleh karena itu kepedulian dari berbagai stakeholder terkait sangat di perlukan untuk menjaga kelestarian HHBK hata yang telah memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat yang bergerak di bidang usaha hata dan kerajinannya.


Penutup

Peluang pasar yang masih sangat terbuka baik pada tingkat kebutuhan bahan baku kering maupun kerajinan ketak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat citumang khususnya dan umumnya masyarakat yang bergerak dibidang usaha hata untuk terus mengembangkan usahanya.


Kerajinan hata citumang sudah berjalan tetapi masih sangat potensial untuk terus dikembangkan mengingat tingkat kebutuhan kerajinan hata yang masih tinggi. Peranan pemerintah masih sangat diperlukan oleh para pengrajin hata dalam hal pameran, publikasi dan promosi dalam berbagai even sehingga kerajinan hata lebih dikenal oleh masyarakat luas.


Dalam hal perbanyakan tanaman hata yang masih menjadi kendala, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry pada saat sekarang ini masih terus melakukan uji coba perbanyakan tanaman hata dengan menggunakan spora.


Sinergi dari berbagai pihak untuk peduli terhadap pengembangan hata masih sangat diperlukan dengan harapan hata tetap lestari dari faktor budidayanya maupun kerajinannya sehingga dapat meningkatkan tingkat pendapatan petani pengrajin hata dan dapat dijadikan sebagai kerajinan khas Citumang Kabupaten Pangandaran.


Daftar Pustaka

Kuswantoro, D.P., W. Handayani, T.S. Widianingsih, D. Maharani dan Suyarno. 2015. Laporan Hasil Penelitian Potensi Pengembangan HHBK Jenis Ketak dengan Pola Agroforestry untuk Mendukung Kawasan Lindung di KPHL Rinjani Barat. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry. Ciamis


Kuswantoro, D.P., T.S. Widianingsih, W. Handayani, 2015. Peluang dan Tantangan Pengembangan Paku Ketak  (Lygodium circinnatum (Burn. F) Swartz) di Pulau Lombok. Prosiding Seminar Sewindu BPTHHBK Mataram. Balai Litbang HHBK, Mataram

 

 Sumber : Surili Dishut Jabar Edisi 74

 

Tanggal : 2019-01-24
E-mail : surya32
Pilih File ./data/sosialisasi/jamurTiram.flv

2
Membidik Konsumen Hasil Penelitian Melalui pengembangan

Membidik Konsumen Hasil Penelitian Melalui pengembangan

Oleh : Fasis Mangkuwibowo

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

Jalan Palagan Tentara Pelajar Km. 15 Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta

 

Telah banyak hasil hasil penelitian yang telah dilahirkan, baik dari lembaga riset perguruan tinggi dan pemerintahan namun banyak sekali yang tidak dapat diaplikasikan pada masyarakat. Pasalnya, para peneliti melakukan penelitian hanya untuk memuaskan keingintahuan diri sendiri, kurang bergaul dengan masyarakat, dan tidak menyadari tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Sebetulnya peneliti di Indonesia sudah cukup mendapat dana dari pemerintah, tetapi peneliti sendirilah yang membuat masalah karena terlalu mementingkan diri sendiri. Banyak peneliti hanya meneliti untuk mendapatkan poin penilaian agar bisa naik pangkat dan golongan yang berpengaruh pada besarnya tunjangan fungsional. Sementara hasil penelitiannya hanya masuk ke perpustakaan tanpa bisa dinikmati masyarakat.

Pengembangan hasil penelitian merupakan suatu upaya untuk menjembatani agar penelitian tersebut bisa diaplikasikan pada skala operasional di tingkat pengguna atau apabila penelitian tersebut merupakan suatu produk seperti benih unggul, maka akan memberikan peningkatan produksi.

Pengembangan hasil penelitian di bidang pemuliaan tanaman hutan yang dilakukan di Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Yogyakarta bisa diartikan sebagai upaya memaksimalkan hasil penelitian tersebut agar lebih bermanfaat, baik yang bermanfaat secara ilmiah maupun pemanfaatan non ilmiah. Pengembangan hasil penelitian ini juga bisa diartikan sebagai penyempurnaan teknik maupun produk hasil penelitian. Program penelitian pemuliaan difokuskan dapat mengatasi  permasalahan yang ada sehingga luaran yang dihasilkan dapat menjadi bahan strategis dalam pengambilan kebijakan guna mendukung kebutuhan bahan baku industri kayu. Penelitian dapat dikatakan berhasil apabila teknologi/ hasil penelitian itu dimanfaatkan oleh pengguna yaitu praktisi seperti perusahaan HTI, petani hutan rakyat/HTR, pengusaha agribisnis, dan pengambil kebijakan di tingkat pusat maupun daerah, di samping untuk meningkatkan khasanah IPTEK.

Dalam upaya mempertegas kemanfaatan hasil penelitian dalam bidang pemuliaan maka sasaran yang harus dituju harus jelas sesuai dengan hasil inovasi maupun produk yang dihasilkan. Untuk itu sasaran dari pengguna hasil penelitian ini harus diidentifikasi secara cermat siapakah yang paling membutukan agar hasil penelitian yang diaplikasikan nantinya  tepat sasaran 

PEMANFAATAN HASIL PENELITIAN

Pembangunan Kebun Benih Unggul

Untuk mewujudkan agar hasil penelitaian dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Yogyakarta dapat bermanfaat dan dipakai oleh pengguna, langkah pertama adalah dengan mengidentifikasi hasil-hasil penelitian yang sekiranya bisa diaplikasikan. Diantara produk hasil pemuliaan jenis yang sudah bisa dimanfaatkan adalah benih unggul Acacia mangium, Kayu Putih, Jabon merah dan Eucalyptus pellita.

Hasil penelitian dari BBPPBPTH yang bisa diaplikasikan adalah produk benih unggul yang secara langsung bisa dimanfaatkan oleh masyarakat / pengguna. Sedangkan hasil lain berupa teknologi inovasi yang bisa ditularkan kepada masyarakat. Untuk teknologi hasil inovasi ini dapat dilakukan pada pendampingan-pendampingan para pemulia dalam pembangunan kebun benih.

Mekanisme yang digunakan untuk menjembatani antara produk hasil penelitian BBPPBPTH kepada pengguna, dilakukan melalui kegiatan pembangunan Kebun Benih Semai (KBS) Jenis Acacia mangium dan Jabon merah melalui kerjasama pengembangan antara Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan dengan BBPPBPTH di Tahun 2013. Skenario yang dibangun atas kerjasama ini adalah agar Pemkab Pacitan dapat memiliki sumber benih unggul kualitas terbaik karena KBS yang dibangun tersebut merupakan KBS generasi  ketiga atau F3. Dalam kerjasama ini Pemkab cukup menyediakan lahan untuk lokasi pembangunan KBS serta mengalokasikan sedikit anggaran untuk penanaman dan pemeliharaannya karena bibitnya telah disiapkan BBPPBPTH termasuk pendampingan dalam menentukan desain, penanaman pengukuran dan seleksi tanaman sampai KBS tersebut telah menghasilkan benih unggul.  Selanjutnya pendampingan terus dilakukan dalam upaya sertifikasi KBS tersebut untuk mendapatkan legalitas sebagai sumber benih yang dapat dikomersilkan.

Manfaat positif yang didapatkan Pemerintah Kabupaten Pacitan bersumber dari nilai komersial benih unggul yang diproduksi dari KBS tersebut, dimana permintaan benih unggul cukup banyak terutama untuk kegiatan Hutan Tanaman Industri (HTI), selain itu harga benih unggul lebih tinggi dibandingkan benih dari tegakan sembarang yang belum disertifikasi.  Dari penjualan hasil benih unggul inilah Pendapatan Asli Daerah kabupaten Pacitan  dapat ditingkatkan.

Untuk memberikan keyakinan kepada Pemkab akan pentingnya membangun KBS ini maka pada waktu bersamaan  dilakukan pula upaya penanaman bibit unggul di masyarakat. Pada tahun yang sama dilakukan penanaman bibit unggul Acacia mangium dan Jabon merah di lahan masyarakat Kecamatan Purwogondo Kabupaten Pacitan. Selain maksud tersebut diatas penanaman di lahan masyarakat ini juga bermanfaat sebagai alat verifikasi produk penelitian yang diterpakan pada skala operasional.


Pengembangan Hasil Penelitian Selanjutnya

Dengan menjamurnya industri kayu lapis dari Jawa Barat sampai ujung Jawa Timur yang memanfaatkan kayu sengon sebagai satu-satunya sumber bahan baku, maka bisa dibayangkan akan begitu besarnya kebutuhan pasokan kayu sengon dari masyarakat, yang akhirnya akan bermuara pada kebutuhan bibit sengon berkualitas dalam jumlah yang besar pula.  Peluang seperti itulah yang seharusnya ditindaklanjuti oleh semua pihak untuk saling bekerjasama antara pemerintah, masyarakat dan pengusah untuk mendapatkan manfaat yang saling menguntungkan. Tahun 2018 ini BBPPBPTH akan menghasilkan  benih sengon dengan kualitas tahan karat tumor dan produktivitas yang tinggi  (pertumbuhan dan kelurusan yang baik). Benih unggul ini adalah hasil dari KBS Sengon generasi pertama (F-1).  Pola pengembangan hasil penelitian yang sama seperti yang dilakukan di Kabupaten Pacitan akan dilakukan untuk jenis ini. Namun karena pasokan kayu sengon ini berasal dari hutan rakyat maka mekanisme kerjasama pengembangan yang saling menguntungkan tersebut dilakukan melalui kerjasama pengembangan antara Pemerintah Daerah sebagai penyedia benih unggul melalui pembangunan KBS-nya, masyarakat sebagai pemilik lahan serta Industri yang sebagai pengada bibit unggul dari KBS. Memang diperlukan kejelian, komunikasi yang baik dan sedikit akrobatik untuk menghubungkan mata rantai yang terkait dari hasil penelitian agar dapat dirasakan sampai tingkat pengguna.  Untuk itu BBPPBPTH membuka pintu seluasnya kepada  piha-pihak yang tertarik untuk memanfaatkan hasil penelitian, tidak terkecuali Pemerintah Daerah dan masyarakat di Jawa Barat untuk memanfaatkan komoditas sengon yang saat ini menjadi primadona.


Sumber : Surili Dishut Jabar edisi 74


Tanggal : 2019-01-24
E-mail : surya32
Pilih File ./data/sosialisasi/jamurTiram.flv

3
AGROFORESTRI DAN PENGELOLAAN HUTAN LESTARI MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN

AGROFORESTRI DAN PENGELOLAAN HUTAN LESTARI MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN


Oleh. Aji Winara, S.Hut. M.Si


“KOPI” saat ini menjadi alat diplomasi Gubernur Jawa Barat, Dr. Ahmad Heriyawan dengan dunia internasional. Kopi java preanger selalu menjadi souvenir Gubernur Jawa Barat dalam kunjungannya ke luar negeri seperti ke Jepang, Tiongkok, Australia, Finlandia dan Swedia. Terakhir Swedia membangun hubungan dagang komoditas kopi dengan Jawa Barat (www.pikiran-rakyat.com/luar-negeri/2018-04-29).

Kopi merupakan salah satu komoditi unggulan agroforestri dari Jawa Barat khususnya agroforestri di wilayah dataran sedang hingga dataran tinggi. Hadirnya agroforestri kopi menjadi solusi bagi sistem pertanian yang ekonomis namun tetap menghadirkan hutan di dalamnya atau kebalikannya tetap hutan terjaga namun tanaman bernilai ekonomi tinggi tetap tersedia. Hal ini terjadi karena hadirnya pohon dapat meningkatkan produktivitas kopi yaitu memberikan naungan yang diperlukan oleh kopi. Selain itu hadirnya hutan sebagai penaung tanaman kopi dapat meningkatkan fungsi hidrologi untuk kawasan-kawasan dengan kelerengan curam atau hutan lindung dengan munculnya mata air baru. Secara sosial agroforestri kopi dapat meningkatkan peran gender dan mengurangi pengangguran sebagaimana pengalaman seorang pengusaha agroforestri kopi di wilayah dataran tinggi Bandung. Agroforestri kopi merupakan salah satu contoh sukses pengelolaan hutan lestari yang melibatkan secara langsung masyarakat di Jawa Barat baik dikawasan perhutanan sosial, kawasan hutan lindung maupun kawasan hutan milik atau hutan rakyat.


Gambar 1. Agroforestri sengon dan kopi di Kabupaten Ciamis

Konsep Agroforestri Secara Umum

Agroforestri merupakan sebuah sistem pengelolaan hutan yang mengakomodasi hadirnya sistem budidaya non kehutanan (pertanian, peternakan dan perikanan) didalam sistem budidaya kehutanan (silvikultur) atau sebaliknya. Hadirnya agroforestri menjadi bagian penting dalam konsep pengelolaan hutan lestari yakni hutan lestari dan masyarakat sejahtera dalam arti kelestarian produksi tetap berjalan, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya dari hutan dan lingkungan tidak terganggu atau bertambah lebih baik kualitasnya. Implementasi agroforestri biasanya dilakukan pada kawasan hutan negara maupun hutan milik  atau areal penggunaan lain.

Agroforestri dapat dikategorikan menurut himpunan kriteria berdasarkan struktur, fungsi, sosial ekonomi dan ekologi. Kriteria struktur mengacu pada komposisi komponennya baik pengaturan spasial, vertikal, horizontal maupun temporal. Contoh agroforestri berdasarkan komposisi komponennya meliputi: 1) kombinasi silvikultur dan budidaya pertanian   disebut wanatani atau agrisilvikultur (pohon dan tanaman pangan atau rempah-rempah), wanafarma (pohon dan tanaman obat) dan wanadaya (pohon dan tanaman penghasil energi); 2) kombinasi silvikultur dan budidaya peternakan  meliputi silvopastural (pohon dan pakan ternak) dan serikultur (pohon dan lebah madu); 3) kombinasi silvikultur dan budidaya perikanan meliputi silvofishery (pohon dan tambak atau kolam ikan). Pohon dalam definisi agroforestri ini tidak hanya pohon sebagai penghasil kayu pertukangan namun termasuk pohon dan palem atau pandan (hasil hutan bukan kayu), sebagai contoh pohon penghasil minyak atsiri (kayu putih dan eukaliptus), penghasil pangan (sukun, matoa, pohon buah-buahan lainnya), penghasil rempah-rempah (kemiri), penghasil getah (pinus, damar, tengkawang), penghasil obat-obatan (jamblang), penghasil energi (kaliandra, akasia auri), penghasil biodiesel (nyamplung dan malapari). Sementara itu kriteria struktur berdasarkan pengaturan ruang (spasial) seperti pohon sebagai pembatas (tree along boarder), sistem lorong (alternate row) atau sistem campuran tidak beraturan.

Kriteria agroforestri berdasarkan fungsi ekologi mengacu pada fungsi utama atau peran sistem tersebut yang biasanya diperankan oleh komponen pohon. Contohnya pohon sebagai penaung utama (bagi tanaman kopi, kakao, kapulaga), pohon sebagai pelindung angin di laut (windbreak), pohon sebagai sabuk pelindung atau pohon sebagai konservasi tanah dan air.

Adapun kriteria agroforestri berdasarkan aspek sosial ekonomi lebih menitikbertakan pada pengelolaan agroforestri dan nilai ekonomi. Berdasarkan hal tersebut maka agroforestri bersifat komersial, pertengahan dan subsisten. Agroforestri komersial bertujuan utama pada produksi untuk dijual yang biasanya komoditi tunggal atau agroforestri sederhana, skalanya besar dengan pemilik lahan bisa pemerintah, perusahaan atau swasta dengan tenaga kerja menggunakan buruh atau tenaga kontrak. Agroforestri intermediet atau pertengahan tergolong antara komersil dan subsisten yang biasanya menggunakan tanaman cepat tumbuh dan tanaman tahunan seperti kopi dan coklat sebagai penyusun atau kebun campuran antara penghasil kayu dengan buah-buahan. Sementara itu agroforestri subsisten lebih menggunakan lahan agroforestri untuk pemenuhan kebutuhan harian rumah tangga seperti tanaman pokok semusim (padi, jagung, ketela pohon, ubi,sayuran), tanaman tahunan dan tanaman pohon sebagai tambahan atau pelengkap. Pola subsisten banyak dilaksanakan oleh masyarakat sekitar hutan atau pedesaan.

Agroforestri dan Pengelolaan Hutan Lestari

Konsep pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management) secara umum adalah pengelolaan hutan yang menjamin lestarinya fungsi produksi, fungsi sosial dan fungsi lingkungan atau ekologi. Dalam konsep agroforestri, ketiga pilar pengelolaan hutan lestari tersebut tetap terjaga.

Kelestarian fungsi produksi sangat kental nuansanya pada sistem agroforestri meskipun pada komoditi yang mana lebih banyak sangat bergantung pada kriteria sebagaimana dijelaskan sebelumya. Agroforestri tetap menjaga kelestarian fungsi produksi tanaman kehutanan baik penghasil kayu ataupun HHBK. Demikian pula kesletarian fungsi produksi komoditi non kehutanan seperti kelestraian hasil pertanian pada agrisilvikultur, kelestarian komoditi peternakan pada silvopastural atau kelestarian komoditi perikanan pada silvofishery.

Kelestarian fungsi sosial banyak menjadi perhatian utama dalam agroforestri karena agroforestri sangat kuat kaitannya dengan masyarakat sekitar hutan sebagai aktor utama. Agroforestri hadir juga sebagai salah satu solusi dalam mengatasi konflik lahan pada hutan negara khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan lahan garapan dengan diberikannya hak garap bukan hak milik kepada masyarakat yang terlanjut sudah merambah. Contoh agroforestri sebagai solusi resolusi konflik di hutan negara adalah agroforestri hasil hutan bukan kayu (kemiri, pakem dan kedawung) dan tanaman obat-obatan (temulawak, kunyit, jahe, cabe jawa) di Taman Nasional Meru Betiri Jawa Timur. Lahan tersebut sebelumnya telah mengalami penebangan liar dan masyarakat banyak merambah taman nasional hingga zona inti untuk mencari pohon tumbuhan obat seperti pakem dan kedawung. Saat ini agroforestri di kawasan hutan negara masuk dalam program perhutanan sosial (PS), hutan kemasyarakatan (HKm) atau kemitraan pengelolaan hutan. Contohnya agroforestri di kawasan hutan produksi yang dikelola oleh PT Perhutani di Pulau Jawa menggunakan konsep pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) dimana salah satu contoh  prakteknya adalah pola agrisilvikultur  atau menanam tanaman tanaman pangan diantara tanaman pepohonan jati atau pinus guna pemenuhan kebutuhan pangan lokal masyarakat (bersifat subsisten). 

Sementara itu kelestarian fungsi ekologi tetap diperhatikan sebagai unsur penting pada agroforestri khususnya untuk menjaga bahkan meningkatkan kualitas tapak (tanah), hidrologi dan ruang hidup bagi biodiversitas. Adanya pemupukan dengan pupuk organik serta hadirnya seresah pohon diharapkan mampu memperbaiki kualitas tanah. Sementara itu adanya konsep multistrata pada agroforestri diharapkan dapat mengurangi erosi tanah. Selain itu adanya multijenis tumbuhan pada penyusun agroforestri dapat menyediakan ruang tumbuh yang lebih luas bagi biodiversitas. Begitu beragamnya pola agroforestri menunjukkan bahwa agroforestri sangat potensial sebagai solusi bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hariannya namun tetap dapat menghadirkan fungsi ekologis tanaman kehutanan dalam pola tanamnya.

Agroforestri dan Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan menjadi prioritas nasional pemerintah saat ini. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik kuantitasnya, kualitas, aman, merata dan terjangkau. Permasalahan utama ketahanan pangan yang dirasakan saat ini adalah pertumbuhan permintaan akan pangan lebih cepat daripada pertumbuhan penyediaan produksi pangan, sementara itu kendala konversi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian serta menurunnya kualitas kesuburan lahan masih menjadi kendala utama khususnya di Pulau Jawa.

Kekurangan pangan masih identik dengan masyarakat sekitar hutan karena aksesnya terhadap lahan budidaya pertanian yang terbatas disamping daya jualnya komoditi yang dihasilkan masih rendah.   Kawasan hutan memiliki areal yang cukup luas dan memungkinkan untuk dilakukan kegiatan budidaya pertanian khususnya tanaman pangan, sehingga kehutanan diwajibkan untuk tetap berkontribusi dalam mendukung program nasional ketahanan pangan khususnya bagi masyarakat disekitar hutan. Salah satu akses budidaya tanaman pangan di kawasan hutan adalah kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan perhutanan sosial di wilayah produksi atau zona pemanfaatan tradisional bagi kawasan lindung dan kawasan konservasi meskipun dengan bingkai aturan tertentu.

Tabel 1. Contoh jenis-jenis komoditi pada agroforestri sumber pangan dari kawasan hutan

Jenis Pohon

Tanaman Pangan

Pola Tanam

Ciri khas

Sengon, Manglid, Gmelina, Suren, Pinus, Jati, Mahoni, Akasia, Manglid, kayu putih, Pohon buah-buahan

Padi, jagung, kedelai, kacang ijo, kacang tanah, ketela pohon, ubi jalar, pisang, sayuran

Lorong, pembatas luar

  • Jarak tanam pohon lebar (pembagian ruang 30 % pohon : 70 % tanaman bawah)
  • Biasanya bertahan hingga 3 tahun pertama jika jarak tanam pohon standar monokultur
  • Pohon lebih sebagai tabungan

  • Strategi ruang cahaya pada prunning pohon yang tinggi

Porang, garut, ganyong, talas, gadung, jalawure

Bawah tegakan

  • Tanamannya bukan sumber makanan pokok atau masih alternatif
  • Pemanfaatan lahan kosong dibawah tegakan
  • Diperlukan manajemen pruning hingga naungan tidak lebih dari 50 %
  • Pohon sebagai tanaman utama

 

Tantangan Agroforestri

Agroforestri sebagai salah satu sistem silvikultur harus mampu menjamin berlanjuntan fungsi produksi, fungsi sosial dan fungsi lingkungan dari sistem tersebut. Beberapa tantangan dalam mewujudkan agroforestri yang lestari antara lain daya dukung teknis budidaya, ekonomi dan sosial.

Kendala teknis budidaya yaitu karakteristik agronomi sebagian besar tanaman pangan khususnya tanaman pangan prioritas nasional yaitu padi, jagung dan kedelai (PAJALE), membutuhkan cahaya matahari yang cukup tinggi untuk berfotosintesis sehingga hadirnya pohon memberikan pembatasan cahaya matahari menuju lantai hutan karena adanya naungan. Kendala tersebut biasanya disiasati dengan adanya optimalisasi tanaman pangan di tiga tahun pertama penanaman tanaman kehutanan atau dilakukan pengaturan jarak tanam bagi tanaman kehutanan menjadi lebih lebar sehingga tersedia ruang tumbuh yang cukup optimum bagi tanaman pertanian. Produktivitas tanaman per satuan luas pada agroforestri tidak bisa dibandingkan dengan produktivitas pada pola monokultur baik untuk tanaman kehutanan maupun pertanian. Misalnya sengon monokultur tentu lebih tinggi produktivitasnya per hektarnya dibandingkan hasil agroforestri karena ruang tumbuhnya lebih banyak, demikian pula tanaman pertanian secara monokultur lebih tinggi dibandingkan yang ditanam pada pola agroforestri. Namun produktivtas keseluruhan agroforestri jika digabung antara pertanian dengan kehutanan bisa lebih tinggi jika dikelola secara intensif apalagi terdapat beberapa jenis tanaman pertanian yang mensyaratkan adanya naungan untuk optimum dalam berproduksi seperti garut, kopi, coklat, kapulaga dan lada.

Kendala ekonomi dalam pengembangan agroforestri adalah berawal dari pemilihan jenis tanaman. Agroforestri dapat memberikan nilai ekonomi tinggi jika jenis tanaman yang dipilih untuk ditanam adalah jenis yang bernilai ekonomi tinggi atau tanaman yang telah memiliki pasar disekitar lokasi agroforestri. Beberapa jenis tanaman pertanian dapat bernilai ekonomi tinggi dan idealnya dipadukan dengan tanaman kehutanan karena membutuhkan naungan. Namun tanaman tersebut membutuhkan syarat lingkungan tertentu untuk produktif seperti kopi dan kapulaga biasanya di dataran sedang hingga tinggi,  lada di dataran sedang. Selain itu produktivitas tanaman pun sangat bergantung sama varietasnya, misalnya padi lahan basah lebih tinggi produktivitasnya dibandingkan padi lahan kering (padi gogo) bahkan padi lahan kering lebih lama masa panennya. Dengan demikian pemilihan jenis sangat menentukan nilai ekonomi sistem agroforestri.

Sementara itu kendala sosial lebih pada budaya menanam dan ketersediaan waktu untuk mengolah lahan. Para petani di sekitar hutan lebih mengutamakan tanaman bawah dibandingkan tanaman kayu sehingga fokus pada penyediaan ruang tumbuh dan akses cahaya matahari pada lahan. Yang terjadi biasanya jarak tanam sangat lebar sehingga jumlah pohon sangat sedikit atau persentase prunning sangat tinggi. Selain itu para petani sekitar hutan yang bertani pada lahan basah seperti sawah cenderung lebih banyak menggunakan waktu utama untuk bersawah, sedangkan hutan atau kebun hanya menggunakan waktu sisa. Hal ini akan berakibat pada pemilihan jenis yang cenderung tidak diperlukan intensif dalam pemeliharaan, padahal pemeliharaan tanaman secara intensif akan meningkatkan produktivitas tanaman. Secara sosial terdapat pula kendala teknis yang berdampak pada kondisi lingkungan akibat kebiasaan dalam budidaya. Contohnya penyiapan lahan yang intensif untuk tanaman bawah (pada lahan dengan kelerengan curam dapat menimbulkan erosi tanah berlebih), pencemaran akibat penggunaan bahan kimia berlebih (herbisida, pestisida) dan penyiapan lahan dengan membakar.

Sumber : Surili Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Edisi 74
Tanggal : 2019-01-22
E-mail : surya32
Pilih File ./data/sosialisasi/jamurTiram.flv

4
INOKULASI GAHARU YANG LESTARI

INOKULASI GAHARU YANG LESTARI

Y.M.M. Anita Nugraheni1 dan Lutfi Anggadhania2

1Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Tanaman Huan

Jalan Pakuan, Ciheuleut PO BOX 105 Bogor 16001

2Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Jalan Dharma Bhakti No 7 Langko Lingsar Lombok Barat 83371

 

email : 1yosephinmartha@gmail.com, 2anggadhania.lutfi@gmail.com

 

Pendahuluan

Gaharu telah dikenal luas sebagai salah satu komoditas yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Selain karena kegunaannya yang beragam, ketersediaannya di alam mulai menipis. Budidaya gaharu menjadi salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut. Selain budidaya gaharu dengan penanaman, saat ini induksi gaharu secara buatan untuk memperoleh gaharu tanpa memburunya di alam juga telah banyak dilakukan.

Menurut Mulyaningsih (2015) pada tahun 1970-an, salah satu wilayah di Lombok yaitu Ampenan merupakan salah satu daerah pengekspor gaharu yang terkenal. Tujuannya ke daerah Timur Tengah terutama Arab Saudi. Akan tetapi semakin lama ekspor semakin berkurang karena gaharu di alam semakin sulit dicari. Pada tahun 2003, populasi pohon penghasil gaharu di NTB (Sumbawa) diperkirakan tinggal 100.000 pohon yang terdiri atas populasi pohon 15 batang per ha dan anakan 10.000 batang per ha. Sehingga pada tahun 1996 pemerintah daerah terutama Kabupaten Lombok Barat mencanangkan untuk membudidayakan pohon penghasil gaharu, baik di kawasan hutan yang selanjutnya digunakan sebagai sumber benih gaharu, maupun di kawasan kebun milik penduduk, sebagai salah satu upaya untuk melestarikan keberadaan pohon gaharu di daerah tersebut (Mulyaningsih, 2015).

Banyak kalangan yang tertarik untuk bergerak di dunia pergaharuan karena nilai ekonomisnya yang tinggi dan manfaatnya yang beragam, antara lain untuk industri parfum hio, dupa, kosmetik, penghasil antioksidan, obat-obatan, dan daunnya bisa dimanfaatkan sebagai teh (Mega dan Swastini, 2010; Samsuri dan Fitriani, 2013; Siran dan Turjaman, 2010). Baru-baru ini juga diketahui bahwa pada essensial oil dari gaharu (Aquilaria crassna) mengandung senyawa anti pankreatik kanker (Dahham, Tabana, Hassan, Ahamed, Majid, Majid, 2016), serta dari teh gaharu tersebut juga mengandung senyawa obat seperti antibakteri, antitumor, anti-inflamatori, antidiabetik, antihistamin, antiarthritik, antifungal, dan analgesik (Adam, Lee, Mohamed, 2017). Masyarakat Lombok sendiri sudah sejak lama mengenal kayu gaharu, dan lebih banyak mengenalnya dengan nama daerah, yaitu Ketimunan. Pemanfaatan gaharu ini oleh masyarakat Lombok juga masih berkisar pada hasil gubal gaharunya saja, sehingga pohon ketimunan di Lombok juga terancam kelestariaanya.


Inokulasi Gaharu pada Cabang

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu di bawah koordinator Puslitbang Hutan sejak tahun 2013 telah menerapkan teknik inokulasi gaharu pada cabang dengan tujuan panen gaharu yang lestari. Ada 2 metode yang telah dilakukan, yaitu menggunakan inokulan cair dan implan. Kedua metode ini menerapkan inokulasi hanya pada cabang tanpa melukai bagian batangnya. Tujuannya adalah agar inang pembentuk gaharu yang diinokulasi tidak mengalami kematian dan batang utama masih tegak berdiri. Tujuan lainnya adalah agar kelestariannya dapat terjaga, sehingga selain dipanen gaharunya, masih dapat dipanen juga buahnya, untuk tujuan pembudidayaan. Upaya ini perlu dilakukan karena untuk memperoleh pohon penghasil gaharu yang siap untuk diinokulasi memerlukan waktu yang cukup lama karena pertumbuhannya yang cukup lambat. Siap yang dimaksud dalam hal ini adalah memiliki ukuran diameter cabang yang cukup besar, sehingga saat diinokulasi tidak mudah rusak (patah/pecah).

Inang gaharu yang dipilih biasanya memiliki kriteria sebagai berikut: sehat, tidak terserang hama maupun penyakit tertentu, belum pernah diinokulasi, telah berumur lebih dari 7 tahun atau sudah memiliki perakaran yang kuat dan cabang yang cukup besar untuk diinokulasi, cabang yang akan diinokulasi minimal berdiameter 5 cm, diupayakan dipilih pohon yang memiliki cabang yang cukup banyak, agar diperoleh cabang yang banyak, sebelum dilakukan inokulasi dapat dilakukan pemangkasan atau perlakuan pendahuluan (Nugraheni, Anggadhania, & Mansyur, 2013).


Inokulasi Cabang menggunakan Inokulan Cair

Metode inokulasi menggunakan inokulan cair (Gambar 1) dilakukan dengan alat mata bor ulir berukuran diameter 3 mm, dosis inokulan sebesar 2 ml, dengan posisi spiral / melingkari cabang yang diinokulasi (Nugraheni & Anggadhania, 2014).





Metode inokulan cair
Sumber : Nugraheni & Anggadhania, (2014)



Hasilnya setelah 1,5 tahun
Sumber : Nugraheni & Anggadhania, (2014)

Berdasarkan pengamatan setelah 1,5 tahun inokulasi, terlihat bahwa tidak ditemukan gejala kematian, tajuk pohon yang diinokulasi juga tetap hijau, tidak terlihat daun yang rontok ataupun tanda busuk pada batang/pangkal batang, sehingga diharapkan teknik inokulasi ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif yang mendukung upaya pelestarian tanaman penghasil gaharu (Nugraheni & Anggadhania, 2014).

 

Inokulasi Cabang Metode Implan

Metode implan dilakukan dengan cara setiap cabang dibor dengan bor 12 mm, jarak dari pangkal pohon 10 cm, serta interval tiap lubangnya sepanjang 10 cm (Gambar 2). Kayu penyangga yang sudah direndam dalam kultur spora dimasukkan ke dalam sedotan. Sedotan berfungsi untuk menjaga masuknya air hujan pada lubang inokulasi yang dapat menyebabkan pelapukan. Pohon G. verstegii yang telah diinokulasi dilakukan pemeliharan setiap dua bulan dengan memberikan medium ekstrak tauge yang telah diencerkan 10 kali. Medium tersebut diberikan dengan dosis 1 ml tiap lubangnya. Pemeliharaan ini dilakukan selama 12 bulan. Setelah 12 bulan dilakukan pemanenan dengan memotong pangkal cabang pohon yang telah diinokulasi. Dari lubang terluar perlakuan pada masing-masing cabang diukur 10 cm dan dipotong (Anggadhania, Nugraheni, Soetariningsih, & Suryawan, 2013).



Induksi gaharu menggunakan metode implan
Sumber : Anggadhania, Nugraheni, Soetariningsih, & Suryawan, (2013)

Kedua teknik inokulasi tersebut berorientasi pada cabang pohon penghasil gaharu. Kedua teknik memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pemilihan metode inokulasi dapat dilakukan berdasarkan pada kondisi lokasi dimana pohon gaharu yang akan diinokulasi tumbuh. Serta kemudahan bagi pelaku inokulasi dalam menerapkan metode inokulasi.

 

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Harry Budi Santoso M.P atas dorongan dan arahannya, kepada Prof Riset Erdy Santoso, Dr. Maman Turjaman, dan Ir. Ragil Irianto M.Si atas bimbingan dan masukannya, kepada Bapak Mansyur dan Bapak Syakur atas bantuan selama di lab maupun di lapangan, Bapak Bambang di Lombok Timur yang telah berkenan meminjamkan pohon Gyrinops versteegii miliknya sebagai bahan penelitian, segenap tim penelitian serta dewan redaksi yang membantu terbitnya tulisan ini.


Daftar Pustaka

Adam, A.Z., Lee, S.Y., Mohamed, R. (2017). Pharmacological properties of agarwood tea derived from Aquilaria (Thymelaeaceae) leaves : An emerging contemporary herbal drink. Journal of Herbal Medicine, (10), 37–44.

Anggadhania, L., Nugraheni, Y.M.M.A., Soetariningsih, A.E., & Suryawan, I. G. A. (2013). Peningkatan Strain Kapang Pembentuk Gaharu pada Jenis Gyrinops versteegii di NTB. Mataram.

Dahham, S.S., Tabana, Y.M., Hassan, L.E.A., Ahamed, M.B.K., Majid, A.S.A., Majid, A.M.S.A. (2016). In vitro antimetastatic activity of agarwood (Aquilaria crassna) essential oil against pancreatic cancer cells. Alexandria Journal of Medical, (52), 141–150.

Mega, I. M., & Swastini, D. A. (2010). Screening Fitokimia dan Aktivitas Antiradikal Bebas Ekstrak Metanol Daun Gaharu (Gyrinops versteegii). Jurnal Kimia, 4(2), 187–192.

Mulyaningsih, T. (2015). Ekologi Gaharu Gyrinops versteegii (Gilg.) Domke di Hutan Lombok Barat. Universitas Gadjah Mada.

Nugraheni, Y.M.M.A., & Anggadhania, L. (2014). Inokulasi Sembilan Isolat Asal Nusa Tenggara Barat untuk Pembentukan Gaharu pada Cabang Gyrinops versteegii. In Hendarto, K.A., Idris, M.H., Usman, K., Santoso, H. B., Surata, I.K., Susila, I W.W. (Ed.), Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian HHBK (pp. 191–199). Mataram: Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu bekerjasama dengan Universitas Nusa Tenggara Barat dan Program Studi Kehutanan Universitas Mataram.

Nugraheni, Y.M.M.A., Anggadhania, L. & Mansyur. (2013). Eksplorasi dan Isolasi Jamur Pembentuk Gaharu. Mataram.

Samsuri, T., & Fitriani, H. (2013). Pembuatan Teh dari Daun Gaharu Jenis Gyrinops versteegii. Bioscientist: Jurnal Ilmiah Biologi, 1(2).

Siran, S.A. & Turjaman, M. (2010). Pengembangan Teknologi Produksi Gaharu Berbasis Pemberdayaan Masyarakat. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam.


Tanggal : 2019-01-16
E-mail : surya32
Pilih File Inokulasi Gaharu yang Lestari.pdf
 (447  KB)
[download]
5
Pengelolaan Taman Nasional Takabonerate : Ekowisata Berkembang dan Ekosistem Lestari

Pengelolaan  Taman Nasional  Takabonerate : Ekowisata Berkembang dan Ekosistem Lestari

Oleh : Redaksi

Letak dan Status

Taka Bonerate adalah sebuah kawasan terumbu karang atoll yang terletak di sisi selatan Pulau Sulawesi, atau berada di Laut Flores, yang secara geografis terletak pada posisi 120°55´ - 121°25´ Bujur Timur dan  6°20´ - 7°10´ Lintang Selatan.  Dan secara administratif merupakan bagian wilayah Kecamatan Takabonerate, Kabupaten Selayar Propinsi Sulawesi Selatan.

Taka Bonerate dalam bahasa bugis berarti karang diatas pasir, yang mengacu pada karakteristik kawasan yang berupa terumbu karang atoll seluas 220.000 ha.  Kawasan ini diidentifikasi sebagai atoll terluas di Asia Tenggara, dan ketiga terluas di dunia setelah Atoll Kwajilein di Kepulauan Marshall dan Atol Suvadiva di Maldives.

Sebagai kawasan terumbu karang atoll terluas di Indonesia  dengan tingkat biodiversitas yang sangat tinggi, dan habitat bagi berbagai biota laut yang langkah dan dilindungi, maka pada tahun 1989 ditetapkan sebagai Cagar Alam Laut berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 100/KPTS-11/1989, dan sejak tahun 1992, kawasan Taka Bonerate  ditetapkan menjadi kawasan Taman Nasional berdasarkan SK Menhut No 280/Kpts-II/92, tanggal 26 Pebruari 1992, dengan luas 530.765,00 Ha.   

Taka Bonerate dulunya disebut Atoll Harimau atau Tiger Islands (Molengraff, 1929), sedang nama-nama pulau di Taka Bonerate telah mengalami perubahan tiga kali yaitu nama yang diberikan pada zaman Molengraff 1929, nama dari peta Dishidros dan nama yang sekarang dipergunakan oleh masyarakat lokal.

Kawasan ini terdiri dari pulau-pulau dan laguna-laguna, umumnya terbentuk dari endapan pasir dan bioerosi (pecahan terumbu karang dan kerang-kerangan), yang sudah mengalami pembulatan, pelapukan sehingga terbentuk tanah-tanah muda.  Kawasan ini selain terdiri atas puluhan taka dan bungin  juga terdapat 21 buah pulau.  Pulau-pulau yang ada di wilayah Taka Bonerate berada pada ketinggian sekitar 3 - 4 m dari permukaan laut, terdiri dari pulau-pulau kecil, dengan tekstur tanah pasir berlempung.

Potensi Wisata di Taman Nasional Taka Bonerate

Bila memperhatikan profil kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, maka kawasan ini sangat potensial untuk dijadikan salah satu daerah tujuan wisata bahari.  Sebagai salah satu kawasan pelestarian alam, maka konsep pariwisata yang dikembangkan adalah ekowisata atau pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Selain potensi wisata alam, adat istiadat dan budaya yang ada pada masyarakat lokal kawasan Taman Nasional Taka Bonerate yang didominasi oleh etnis bugis dan bajo memiliki kekhasan tersendiri dan dlingkupi oleh budaya kemaritiman serta nuansa islami yang sangat kental menjadi atraksi budaya menjadi faktor penunjang pengembangan wisata budaya.

Obyek wisata alam yang cocok dikembangkan di Takabonerate adalah pemancingan, berperahu, rekreasi pantai, menyelam dan berjemur.  Berperahu dapat dilakukan dengan rute antar pulau.  Sedangkan rekreasi pantai dapat dilakukan hampir disetiap pulau karena pulau-pulau pantai semua mendatar dengan pasir putih.  Obyek wisata selam dapat dilakukan di setiap lokasi yang berada diluar goba yang mempunyai lereng terumbu yang terjal.  Banyaknya variasi bentuk lereng terumbu dan tingginya rugositas terumbu yang menghadap keluar, merupakan daya tarik untuk wisatawan yang mempunyai hobby menyelam dan tinggal lebih lama di Takabonerate.

Kerusakan Terumbu Karang dan Keterbatasan Tanaga Pengamanan

Degradasi Terumbu karang  akibat Ilegal dan Destructive Fishing dengan menggunakan bom dan bahan kimia merupakan permasalahan terbesar dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Takabonerate. Dengan luasan 530.765 Ha hanya didukung oleh Polhut sebanyak 13 orang dan keterbatasan sarana prasarana untuk patroli makin menambah luas kawasan yang terdegradasi.

Sementara itu, berbagai aspek terkait kepentingan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya serta pengaruhnya terhadap perilaku konservasi mereka tidak dapat dipisahkan dalam pengelolaannya. Pemberdayaan bukan sekedar untuk menghentikan kerusakan kawasan, tetapi harus memperhatikan upaya pelestarian kawasan dalam aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Pemberdayaan juga diarahkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat yang mengarah pada kemauan dalam mengembangkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan untuk kesejahteraan.

Salah satu upaya yang sudah berhasil diterapkan adalah mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam patrol sebagai  Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan pembentukan Model Desa Konservasi (MDK). MDK merupakan program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi dan konservasi yang dilaksanakan  Taman Nasional Takabonerate. Upaya meningkatkan pemahaman terhadap karakteristik masyarakat dan menerapkan pendekatan pemberdayaan yang sesuai dengan kondisi masyarakat merupakan hal penting dan relevan dalam mewujudkan kemandirian masyarakat.

Dengan mengalihkan mata pencaharian masyarakat dari illegal Fishing ke Usaha Wisata Alam maka makin berkurang aktifitas illegal fishing yang timbul dari kesadaran sendiri akan pentingnya menjada salah satu potensi daya tarik wisata alam yaitu keindahan terumbu karang Taman Nasional Takabonerate.

MDK Desa Jinato dan Rajuni

Sejalan dengan kebijakan tersebut, Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan pada bulan Oktober tahun 2013 telah membentuk Model Desa Konservasi (MDK) di 2 (dua) desa yang berada dalam kawasan TNTBR yaitu Desa Rajuni yang mewakili Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Tarupa dan Desa Jinato yang mewakili SPTN Wilayah II Jinato.

Program pemberdayaan masyarakat di Model Desa Konservasi, terdiri dari program peningkatan kapasitas masyarakat dan program pengembangan usaha ekonomi produktif. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir aktivitas masyarakat yang merusak kawasan yang mengakibatkan kerusakan sumberdaya alam hayati di Taman Nasional Takabonerate  sehingga dapat mempertahankan keutuhan ekosistem serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan Taman Nasional Takabonerate  dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Setelah dibentuk tahun 2016, kelompok Model Desa Konservasi (MDK) Jinato Marannu   dengan anggota terdiri dari 30 orang  memiliki MDK Jinato Marannu terdiri dari 5 divisi (Homestay, Seni budaya, Kepemanduan, Cinderamata dan Kuliner).

Dalam pengembangan MDK  berpedoman pada master plan yang dirancang untuk 5 tahun ,  salah satunya adalah kegiatan Kegiatan peningkatan kapasitas Kelompok MDK dengan target penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas bidang/divisi Cinderamata. Dan sesuai program rencana kerja melakukan kegiatan pembahasan AD/ART, Rancangan Rencana Aksi dan Peningkatan Kapasitas di devisi Cinderamata.

Memang menurut pengamatan Redaksi Surili masih sedikit  ditemukan Cinderamata sebagai bahan oleh-oleh dan kenang kenangan yang bisa dibawa pulang oleh wisatawan.

Pentingnya Peran Pendampingan

Keberhasilan Program Pemberdayaan masyarakat salah satunya adanya pentingnya peran pendamping dalam membimbing kelompok MDK.  Hal ini belajar dari pengalaman pembentukan kelompok budidaya rumput laut dan adanya bantuan  peralatan usaha. Namun, dalam pengembangan usaha budidaya rumput laut selanjutnya, tidak adanya pendampingan menyebabkan pelaksanaan program tidak bisa optimal. Rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya jiwa kewirausahaan juga turut berpengaruh.

Peranan LSM dan Fasilitator lokal yang bertindak sebagai lembaga penyuluhan/pendamping yang selalu berupaya mendekatkan stakeholder lain seperti pemerintah daerah maupun instansi vertikal serta badan perwakilan internasional yang langsung memberi perhatian dan bantuan terhadap kehidupan nelayan Takabonerate memberi motivasi kepada para nelayan untuk lebih menyadari secara bersama akan pentingnya lingkungan alam untuk kehidupan mereka sendiri sebab jangankan mereka yang harus sadar orang lainpun diluar mereka mau membantu pihak lain.

Pelaksanaan pendampingan pada program tersebut sebagai suatu proses yang mendorong kemandirian nelayan terutama dalam pengambilan keputusan bersama yang mengarah kepada peningkatan keserjahteraannya, seperti ditandai dengan beberapa bentuk keberhasilan; 1). Pembelian kapal penangkapan ikan milik bersama, 2). Teridentifikasi dan terlaksananya kegiatan potensial mata pencaharaian alternative (MPA) melalui pemupukan modal dana bergulir yang memungkinkan nelayan daapat menjual hasil tangkapannya kepasar dengan harga yang lebih baik. 3). Tersusunnya rencana terumbu karang yang disetujui masyarakat yang selanjutnya menjadi dasar dalam pelaksanaan pengawasan secara bersama, 4). Terlaksananya program pengawasan terumbu karang oleh masyarakat, 5). Terlaksananya pemantauan kondisi terumbu karang dan hasil tangkap persatuan usaha dalam lingkup pulau/desa. Serta 6). Terlaksananya atauran pengelolaan karang secara partisipatif.

Adopsi Pohon dan Transplantasi Karang

Kerusakan ekosistem terumbu karang, baik yang secara alamiah (bleaching) maupun karena aktivitas manusia bertambah setiap tahun. Sementara pertumbuhan terumbu karang hanya mencapai 1-2 cm per tahun. Atas kesadaran itulah, Balai Taman Nasional Taka Bonerate bersama masyarakat desa melakukan upaya rehabilitasi terumbu karang melalui transplantasi karang yang diprogramkan di desa dalam kawasan taman nasional.

Program ini selain untuk upaya pemulihan juga ditujukan sebagai media pembelajaran tentang proses pemulihan ekosistem yang sangat rumit dan lama pada lokasi bekas illegal fishing dan sebagai spot kunjungan wisata yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat.

Partisipasi masyarakat dalam restorasi terumbu karang TN Taka Bonerate dilakukan masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MPP). MMP dilibatkan dalam kegiatan patroli pengamanan, penanaman, pengambilan, transportasi bibit/anakan karang, dan penataan rangka laba-laba. Keterlibatan MMP ini bertujuan untuk memastikan penanaman dan pengawasan berjalan lebih intensif.

Dalam hal patroli, MMP juga didukung dengan dana desa. Dana desa dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ditransfer melalui Pemerintah Kabupaten untuk kemudian diserahkan ke desa-desa di wilayahnya. Pemerintah Daerah Kabupaten Selayar saat ini sedang giat mempromosikan wisata Kepulauan Selayar dan TN Taka Bonerate menjadi objek utama destinasi wisata bahari di Kepulauan Selayar. Menariknya, anggota MMP di TN Taka Bonerate sebagian besar awalnya merupakan pelaku illegal fishing. Berkat pendekatan dan pembinaan, perlahan-lahan profesi tersebut mulai ditinggalkan. Apalagi, tingkat kerusakan terumbu karang yang tinggi menyebabkan mulai terbatasnya sumber daya perikanan. Tingkat persaingan antardesa dalam hal pengelolaan sumber daya juga semakin tinggi. Masyarakat pun mulai melirik potensi mata pencaharian lain, seperti yang terkait dengan pariwisata. Kegiatan wisata di TN Taka Bonerate cukup menjanjikan dan jumlah kunjungan wisatawan ke TN Taka Bonerate juga terus meningkat. Harapannya, alih profesi ini berdampak pada peningkatan penghasilan masyarakat, termasuk yang menjadi anggota MMP.

 

Tanggal : 2019-01-16
E-mail : surya32
Pilih File ./data/sosialisasi/jamurTiram.flv

6
Rancangan Undang-Undang Tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI 
[PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA]

 

Berdasarkan hasil masukan publik pada konsultasi publik di Jakarta, Medan dan Makassar terlampir revisi RUU Keanekaragaman Hayati.

 

Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran berikut :

1. RUU Tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati Update 28/03/2016

Tanggal : 2016-03-29
E-mail : surya32
Pilih File DIM RUU KEHATI.pdf
 (2.538  KB)
[download]
7
Rancangan Undang-undang Keanekaragaman Hayati

Berdasarkan hasil masukan publik pada konsultasi publik di Jakarta, Medan dan Makassar terlampir revisi RUU Keanekaragaman Hayati.

 

Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran berikut :

1. RUU Keanekaragaman Hayati Update 29/02/2016

Tanggal : 2016-03-01
E-mail : surya32
Pilih File DIM DRAF RUU KEHATI.pdf
 (2.309  KB)
[download]
8
DRAF PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

Tanggal : 2016-01-22
E-mail : surya32
Pilih File DIM DRAF RUU KEHATI.pdf
 (2.309  KB)
[download]
9
Draft Rancangan Revisi Permenhut P.20/2011

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA
Nomor : P. 20/Menhut-II/2011
TENTANG
PEDOMAN PEMETAAN KAWASAN HUTAN TINGKAT KABUPATEN/KOTA
Tanggal : 2014-04-10
E-mail : fuziincage
Pilih File Draft Rancangan Revisi Permenhut P20-2011.pdf
 (84  KB)
[download]
10
Draft Perubahan P.47/Menhut-II/2010

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : P. /Menhut -II/2014
TENTANG
PANITIA TATA BATAS KAWASAN HUTAN
Tanggal : 2014-04-10
E-mail : fuziincage
Pilih File Draft Perubahan P47-2010.pdf
 (74  KB)
[download]

Tanggal : Jum'at, 4 Januari 2008
E-mail :
Pilih File ./data/sosialisasi/jamurTiram.flv

1 2 3 4 5 6 Selanjutnya>> Terakhir>>

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon


Home   Contact   Email   LogIn



Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat