Dinas Kehutanan Prov Jabar

Pengelolaan  Taman Nasional  Takabonerate : Ekowisata Berkembang dan Ekosistem Lestari

Oleh : Redaksi

Letak dan Status

Taka Bonerate adalah sebuah kawasan terumbu karang atoll yang terletak di sisi selatan Pulau Sulawesi, atau berada di Laut Flores, yang secara geografis terletak pada posisi 120°55´ - 121°25´ Bujur Timur dan  6°20´ - 7°10´ Lintang Selatan.  Dan secara administratif merupakan bagian wilayah Kecamatan Takabonerate, Kabupaten Selayar Propinsi Sulawesi Selatan.

Taka Bonerate dalam bahasa bugis berarti karang diatas pasir, yang mengacu pada karakteristik kawasan yang berupa terumbu karang atoll seluas 220.000 ha.  Kawasan ini diidentifikasi sebagai atoll terluas di Asia Tenggara, dan ketiga terluas di dunia setelah Atoll Kwajilein di Kepulauan Marshall dan Atol Suvadiva di Maldives.

Sebagai kawasan terumbu karang atoll terluas di Indonesia  dengan tingkat biodiversitas yang sangat tinggi, dan habitat bagi berbagai biota laut yang langkah dan dilindungi, maka pada tahun 1989 ditetapkan sebagai Cagar Alam Laut berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 100/KPTS-11/1989, dan sejak tahun 1992, kawasan Taka Bonerate  ditetapkan menjadi kawasan Taman Nasional berdasarkan SK Menhut No 280/Kpts-II/92, tanggal 26 Pebruari 1992, dengan luas 530.765,00 Ha.   

Taka Bonerate dulunya disebut Atoll Harimau atau Tiger Islands (Molengraff, 1929), sedang nama-nama pulau di Taka Bonerate telah mengalami perubahan tiga kali yaitu nama yang diberikan pada zaman Molengraff 1929, nama dari peta Dishidros dan nama yang sekarang dipergunakan oleh masyarakat lokal.

Kawasan ini terdiri dari pulau-pulau dan laguna-laguna, umumnya terbentuk dari endapan pasir dan bioerosi (pecahan terumbu karang dan kerang-kerangan), yang sudah mengalami pembulatan, pelapukan sehingga terbentuk tanah-tanah muda.  Kawasan ini selain terdiri atas puluhan taka dan bungin  juga terdapat 21 buah pulau.  Pulau-pulau yang ada di wilayah Taka Bonerate berada pada ketinggian sekitar 3 - 4 m dari permukaan laut, terdiri dari pulau-pulau kecil, dengan tekstur tanah pasir berlempung.

Potensi Wisata di Taman Nasional Taka Bonerate

Bila memperhatikan profil kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, maka kawasan ini sangat potensial untuk dijadikan salah satu daerah tujuan wisata bahari.  Sebagai salah satu kawasan pelestarian alam, maka konsep pariwisata yang dikembangkan adalah ekowisata atau pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Selain potensi wisata alam, adat istiadat dan budaya yang ada pada masyarakat lokal kawasan Taman Nasional Taka Bonerate yang didominasi oleh etnis bugis dan bajo memiliki kekhasan tersendiri dan dlingkupi oleh budaya kemaritiman serta nuansa islami yang sangat kental menjadi atraksi budaya menjadi faktor penunjang pengembangan wisata budaya.

Obyek wisata alam yang cocok dikembangkan di Takabonerate adalah pemancingan, berperahu, rekreasi pantai, menyelam dan berjemur.  Berperahu dapat dilakukan dengan rute antar pulau.  Sedangkan rekreasi pantai dapat dilakukan hampir disetiap pulau karena pulau-pulau pantai semua mendatar dengan pasir putih.  Obyek wisata selam dapat dilakukan di setiap lokasi yang berada diluar goba yang mempunyai lereng terumbu yang terjal.  Banyaknya variasi bentuk lereng terumbu dan tingginya rugositas terumbu yang menghadap keluar, merupakan daya tarik untuk wisatawan yang mempunyai hobby menyelam dan tinggal lebih lama di Takabonerate.

Kerusakan Terumbu Karang dan Keterbatasan Tanaga Pengamanan

Degradasi Terumbu karang  akibat Ilegal dan Destructive Fishing dengan menggunakan bom dan bahan kimia merupakan permasalahan terbesar dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Takabonerate. Dengan luasan 530.765 Ha hanya didukung oleh Polhut sebanyak 13 orang dan keterbatasan sarana prasarana untuk patroli makin menambah luas kawasan yang terdegradasi.

Sementara itu, berbagai aspek terkait kepentingan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya serta pengaruhnya terhadap perilaku konservasi mereka tidak dapat dipisahkan dalam pengelolaannya. Pemberdayaan bukan sekedar untuk menghentikan kerusakan kawasan, tetapi harus memperhatikan upaya pelestarian kawasan dalam aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Pemberdayaan juga diarahkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat yang mengarah pada kemauan dalam mengembangkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan untuk kesejahteraan.

Salah satu upaya yang sudah berhasil diterapkan adalah mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam patrol sebagai  Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan pembentukan Model Desa Konservasi (MDK). MDK merupakan program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi dan konservasi yang dilaksanakan  Taman Nasional Takabonerate. Upaya meningkatkan pemahaman terhadap karakteristik masyarakat dan menerapkan pendekatan pemberdayaan yang sesuai dengan kondisi masyarakat merupakan hal penting dan relevan dalam mewujudkan kemandirian masyarakat.

Dengan mengalihkan mata pencaharian masyarakat dari illegal Fishing ke Usaha Wisata Alam maka makin berkurang aktifitas illegal fishing yang timbul dari kesadaran sendiri akan pentingnya menjada salah satu potensi daya tarik wisata alam yaitu keindahan terumbu karang Taman Nasional Takabonerate.

MDK Desa Jinato dan Rajuni

Sejalan dengan kebijakan tersebut, Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan pada bulan Oktober tahun 2013 telah membentuk Model Desa Konservasi (MDK) di 2 (dua) desa yang berada dalam kawasan TNTBR yaitu Desa Rajuni yang mewakili Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Tarupa dan Desa Jinato yang mewakili SPTN Wilayah II Jinato.

Program pemberdayaan masyarakat di Model Desa Konservasi, terdiri dari program peningkatan kapasitas masyarakat dan program pengembangan usaha ekonomi produktif. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir aktivitas masyarakat yang merusak kawasan yang mengakibatkan kerusakan sumberdaya alam hayati di Taman Nasional Takabonerate  sehingga dapat mempertahankan keutuhan ekosistem serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan Taman Nasional Takabonerate  dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Setelah dibentuk tahun 2016, kelompok Model Desa Konservasi (MDK) Jinato Marannu   dengan anggota terdiri dari 30 orang  memiliki MDK Jinato Marannu terdiri dari 5 divisi (Homestay, Seni budaya, Kepemanduan, Cinderamata dan Kuliner).

Dalam pengembangan MDK  berpedoman pada master plan yang dirancang untuk 5 tahun ,  salah satunya adalah kegiatan Kegiatan peningkatan kapasitas Kelompok MDK dengan target penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas bidang/divisi Cinderamata. Dan sesuai program rencana kerja melakukan kegiatan pembahasan AD/ART, Rancangan Rencana Aksi dan Peningkatan Kapasitas di devisi Cinderamata.

Memang menurut pengamatan Redaksi Surili masih sedikit  ditemukan Cinderamata sebagai bahan oleh-oleh dan kenang kenangan yang bisa dibawa pulang oleh wisatawan.

Pentingnya Peran Pendampingan

Keberhasilan Program Pemberdayaan masyarakat salah satunya adanya pentingnya peran pendamping dalam membimbing kelompok MDK.  Hal ini belajar dari pengalaman pembentukan kelompok budidaya rumput laut dan adanya bantuan  peralatan usaha. Namun, dalam pengembangan usaha budidaya rumput laut selanjutnya, tidak adanya pendampingan menyebabkan pelaksanaan program tidak bisa optimal. Rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya jiwa kewirausahaan juga turut berpengaruh.

Peranan LSM dan Fasilitator lokal yang bertindak sebagai lembaga penyuluhan/pendamping yang selalu berupaya mendekatkan stakeholder lain seperti pemerintah daerah maupun instansi vertikal serta badan perwakilan internasional yang langsung memberi perhatian dan bantuan terhadap kehidupan nelayan Takabonerate memberi motivasi kepada para nelayan untuk lebih menyadari secara bersama akan pentingnya lingkungan alam untuk kehidupan mereka sendiri sebab jangankan mereka yang harus sadar orang lainpun diluar mereka mau membantu pihak lain.

Pelaksanaan pendampingan pada program tersebut sebagai suatu proses yang mendorong kemandirian nelayan terutama dalam pengambilan keputusan bersama yang mengarah kepada peningkatan keserjahteraannya, seperti ditandai dengan beberapa bentuk keberhasilan; 1). Pembelian kapal penangkapan ikan milik bersama, 2). Teridentifikasi dan terlaksananya kegiatan potensial mata pencaharaian alternative (MPA) melalui pemupukan modal dana bergulir yang memungkinkan nelayan daapat menjual hasil tangkapannya kepasar dengan harga yang lebih baik. 3). Tersusunnya rencana terumbu karang yang disetujui masyarakat yang selanjutnya menjadi dasar dalam pelaksanaan pengawasan secara bersama, 4). Terlaksananya program pengawasan terumbu karang oleh masyarakat, 5). Terlaksananya pemantauan kondisi terumbu karang dan hasil tangkap persatuan usaha dalam lingkup pulau/desa. Serta 6). Terlaksananya atauran pengelolaan karang secara partisipatif.

Adopsi Pohon dan Transplantasi Karang

Kerusakan ekosistem terumbu karang, baik yang secara alamiah (bleaching) maupun karena aktivitas manusia bertambah setiap tahun. Sementara pertumbuhan terumbu karang hanya mencapai 1-2 cm per tahun. Atas kesadaran itulah, Balai Taman Nasional Taka Bonerate bersama masyarakat desa melakukan upaya rehabilitasi terumbu karang melalui transplantasi karang yang diprogramkan di desa dalam kawasan taman nasional.

Program ini selain untuk upaya pemulihan juga ditujukan sebagai media pembelajaran tentang proses pemulihan ekosistem yang sangat rumit dan lama pada lokasi bekas illegal fishing dan sebagai spot kunjungan wisata yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat.

Partisipasi masyarakat dalam restorasi terumbu karang TN Taka Bonerate dilakukan masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MPP). MMP dilibatkan dalam kegiatan patroli pengamanan, penanaman, pengambilan, transportasi bibit/anakan karang, dan penataan rangka laba-laba. Keterlibatan MMP ini bertujuan untuk memastikan penanaman dan pengawasan berjalan lebih intensif.

Dalam hal patroli, MMP juga didukung dengan dana desa. Dana desa dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ditransfer melalui Pemerintah Kabupaten untuk kemudian diserahkan ke desa-desa di wilayahnya. Pemerintah Daerah Kabupaten Selayar saat ini sedang giat mempromosikan wisata Kepulauan Selayar dan TN Taka Bonerate menjadi objek utama destinasi wisata bahari di Kepulauan Selayar. Menariknya, anggota MMP di TN Taka Bonerate sebagian besar awalnya merupakan pelaku illegal fishing. Berkat pendekatan dan pembinaan, perlahan-lahan profesi tersebut mulai ditinggalkan. Apalagi, tingkat kerusakan terumbu karang yang tinggi menyebabkan mulai terbatasnya sumber daya perikanan. Tingkat persaingan antardesa dalam hal pengelolaan sumber daya juga semakin tinggi. Masyarakat pun mulai melirik potensi mata pencaharian lain, seperti yang terkait dengan pariwisata. Kegiatan wisata di TN Taka Bonerate cukup menjanjikan dan jumlah kunjungan wisatawan ke TN Taka Bonerate juga terus meningkat. Harapannya, alih profesi ini berdampak pada peningkatan penghasilan masyarakat, termasuk yang menjadi anggota MMP.

 


Telah Dibaca:279 Kali


Artikel Lainnya

*SEKILAS TENTANG BUDIDAYA MADU KLANCENG DI CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH I
*MERANCANG PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN METODE PARTISIPATORY RURAL APPRAISAL
*TANAMAN NYAMPLUNG (CALOPHYLLUM INOPHYLLUM) DI PULAU JAWA JENIS TANAMAN POTENSIAL UNTUK BIOENERGI ALTERNATIF
*MEMBIDIK KONSUMEN HASIL PENELITIAN MELALUI PENGEMBANGAN
*PENGELOLAAN HHBK HATA SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN DI CITUMANG KABUPATEN PANGANDARAN, POTENSI YANG HARUS DI LESTARIKAN

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon


Home   Contact   Email   LogIn



Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat