Dinas Kehutanan Prov Jabar

INOKULASI GAHARU YANG LESTARI

Y.M.M. Anita Nugraheni1 dan Lutfi Anggadhania2

1Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Tanaman Huan

Jalan Pakuan, Ciheuleut PO BOX 105 Bogor 16001

2Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Jalan Dharma Bhakti No 7 Langko Lingsar Lombok Barat 83371

 

email : 1yosephinmartha@gmail.com, 2anggadhania.lutfi@gmail.com

 

Pendahuluan

Gaharu telah dikenal luas sebagai salah satu komoditas yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Selain karena kegunaannya yang beragam, ketersediaannya di alam mulai menipis. Budidaya gaharu menjadi salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut. Selain budidaya gaharu dengan penanaman, saat ini induksi gaharu secara buatan untuk memperoleh gaharu tanpa memburunya di alam juga telah banyak dilakukan.

Menurut Mulyaningsih (2015) pada tahun 1970-an, salah satu wilayah di Lombok yaitu Ampenan merupakan salah satu daerah pengekspor gaharu yang terkenal. Tujuannya ke daerah Timur Tengah terutama Arab Saudi. Akan tetapi semakin lama ekspor semakin berkurang karena gaharu di alam semakin sulit dicari. Pada tahun 2003, populasi pohon penghasil gaharu di NTB (Sumbawa) diperkirakan tinggal 100.000 pohon yang terdiri atas populasi pohon 15 batang per ha dan anakan 10.000 batang per ha. Sehingga pada tahun 1996 pemerintah daerah terutama Kabupaten Lombok Barat mencanangkan untuk membudidayakan pohon penghasil gaharu, baik di kawasan hutan yang selanjutnya digunakan sebagai sumber benih gaharu, maupun di kawasan kebun milik penduduk, sebagai salah satu upaya untuk melestarikan keberadaan pohon gaharu di daerah tersebut (Mulyaningsih, 2015).

Banyak kalangan yang tertarik untuk bergerak di dunia pergaharuan karena nilai ekonomisnya yang tinggi dan manfaatnya yang beragam, antara lain untuk industri parfum hio, dupa, kosmetik, penghasil antioksidan, obat-obatan, dan daunnya bisa dimanfaatkan sebagai teh (Mega dan Swastini, 2010; Samsuri dan Fitriani, 2013; Siran dan Turjaman, 2010). Baru-baru ini juga diketahui bahwa pada essensial oil dari gaharu (Aquilaria crassna) mengandung senyawa anti pankreatik kanker (Dahham, Tabana, Hassan, Ahamed, Majid, Majid, 2016), serta dari teh gaharu tersebut juga mengandung senyawa obat seperti antibakteri, antitumor, anti-inflamatori, antidiabetik, antihistamin, antiarthritik, antifungal, dan analgesik (Adam, Lee, Mohamed, 2017). Masyarakat Lombok sendiri sudah sejak lama mengenal kayu gaharu, dan lebih banyak mengenalnya dengan nama daerah, yaitu Ketimunan. Pemanfaatan gaharu ini oleh masyarakat Lombok juga masih berkisar pada hasil gubal gaharunya saja, sehingga pohon ketimunan di Lombok juga terancam kelestariaanya.


Inokulasi Gaharu pada Cabang

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu di bawah koordinator Puslitbang Hutan sejak tahun 2013 telah menerapkan teknik inokulasi gaharu pada cabang dengan tujuan panen gaharu yang lestari. Ada 2 metode yang telah dilakukan, yaitu menggunakan inokulan cair dan implan. Kedua metode ini menerapkan inokulasi hanya pada cabang tanpa melukai bagian batangnya. Tujuannya adalah agar inang pembentuk gaharu yang diinokulasi tidak mengalami kematian dan batang utama masih tegak berdiri. Tujuan lainnya adalah agar kelestariannya dapat terjaga, sehingga selain dipanen gaharunya, masih dapat dipanen juga buahnya, untuk tujuan pembudidayaan. Upaya ini perlu dilakukan karena untuk memperoleh pohon penghasil gaharu yang siap untuk diinokulasi memerlukan waktu yang cukup lama karena pertumbuhannya yang cukup lambat. Siap yang dimaksud dalam hal ini adalah memiliki ukuran diameter cabang yang cukup besar, sehingga saat diinokulasi tidak mudah rusak (patah/pecah).

Inang gaharu yang dipilih biasanya memiliki kriteria sebagai berikut: sehat, tidak terserang hama maupun penyakit tertentu, belum pernah diinokulasi, telah berumur lebih dari 7 tahun atau sudah memiliki perakaran yang kuat dan cabang yang cukup besar untuk diinokulasi, cabang yang akan diinokulasi minimal berdiameter 5 cm, diupayakan dipilih pohon yang memiliki cabang yang cukup banyak, agar diperoleh cabang yang banyak, sebelum dilakukan inokulasi dapat dilakukan pemangkasan atau perlakuan pendahuluan (Nugraheni, Anggadhania, & Mansyur, 2013).


Inokulasi Cabang menggunakan Inokulan Cair

Metode inokulasi menggunakan inokulan cair (Gambar 1) dilakukan dengan alat mata bor ulir berukuran diameter 3 mm, dosis inokulan sebesar 2 ml, dengan posisi spiral / melingkari cabang yang diinokulasi (Nugraheni & Anggadhania, 2014).





Metode inokulan cair
Sumber : Nugraheni & Anggadhania, (2014)



Hasilnya setelah 1,5 tahun
Sumber : Nugraheni & Anggadhania, (2014)

Berdasarkan pengamatan setelah 1,5 tahun inokulasi, terlihat bahwa tidak ditemukan gejala kematian, tajuk pohon yang diinokulasi juga tetap hijau, tidak terlihat daun yang rontok ataupun tanda busuk pada batang/pangkal batang, sehingga diharapkan teknik inokulasi ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif yang mendukung upaya pelestarian tanaman penghasil gaharu (Nugraheni & Anggadhania, 2014).

 

Inokulasi Cabang Metode Implan

Metode implan dilakukan dengan cara setiap cabang dibor dengan bor 12 mm, jarak dari pangkal pohon 10 cm, serta interval tiap lubangnya sepanjang 10 cm (Gambar 2). Kayu penyangga yang sudah direndam dalam kultur spora dimasukkan ke dalam sedotan. Sedotan berfungsi untuk menjaga masuknya air hujan pada lubang inokulasi yang dapat menyebabkan pelapukan. Pohon G. verstegii yang telah diinokulasi dilakukan pemeliharan setiap dua bulan dengan memberikan medium ekstrak tauge yang telah diencerkan 10 kali. Medium tersebut diberikan dengan dosis 1 ml tiap lubangnya. Pemeliharaan ini dilakukan selama 12 bulan. Setelah 12 bulan dilakukan pemanenan dengan memotong pangkal cabang pohon yang telah diinokulasi. Dari lubang terluar perlakuan pada masing-masing cabang diukur 10 cm dan dipotong (Anggadhania, Nugraheni, Soetariningsih, & Suryawan, 2013).



Induksi gaharu menggunakan metode implan
Sumber : Anggadhania, Nugraheni, Soetariningsih, & Suryawan, (2013)

Kedua teknik inokulasi tersebut berorientasi pada cabang pohon penghasil gaharu. Kedua teknik memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pemilihan metode inokulasi dapat dilakukan berdasarkan pada kondisi lokasi dimana pohon gaharu yang akan diinokulasi tumbuh. Serta kemudahan bagi pelaku inokulasi dalam menerapkan metode inokulasi.

 

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Harry Budi Santoso M.P atas dorongan dan arahannya, kepada Prof Riset Erdy Santoso, Dr. Maman Turjaman, dan Ir. Ragil Irianto M.Si atas bimbingan dan masukannya, kepada Bapak Mansyur dan Bapak Syakur atas bantuan selama di lab maupun di lapangan, Bapak Bambang di Lombok Timur yang telah berkenan meminjamkan pohon Gyrinops versteegii miliknya sebagai bahan penelitian, segenap tim penelitian serta dewan redaksi yang membantu terbitnya tulisan ini.


Daftar Pustaka

Adam, A.Z., Lee, S.Y., Mohamed, R. (2017). Pharmacological properties of agarwood tea derived from Aquilaria (Thymelaeaceae) leaves : An emerging contemporary herbal drink. Journal of Herbal Medicine, (10), 37–44.

Anggadhania, L., Nugraheni, Y.M.M.A., Soetariningsih, A.E., & Suryawan, I. G. A. (2013). Peningkatan Strain Kapang Pembentuk Gaharu pada Jenis Gyrinops versteegii di NTB. Mataram.

Dahham, S.S., Tabana, Y.M., Hassan, L.E.A., Ahamed, M.B.K., Majid, A.S.A., Majid, A.M.S.A. (2016). In vitro antimetastatic activity of agarwood (Aquilaria crassna) essential oil against pancreatic cancer cells. Alexandria Journal of Medical, (52), 141–150.

Mega, I. M., & Swastini, D. A. (2010). Screening Fitokimia dan Aktivitas Antiradikal Bebas Ekstrak Metanol Daun Gaharu (Gyrinops versteegii). Jurnal Kimia, 4(2), 187–192.

Mulyaningsih, T. (2015). Ekologi Gaharu Gyrinops versteegii (Gilg.) Domke di Hutan Lombok Barat. Universitas Gadjah Mada.

Nugraheni, Y.M.M.A., & Anggadhania, L. (2014). Inokulasi Sembilan Isolat Asal Nusa Tenggara Barat untuk Pembentukan Gaharu pada Cabang Gyrinops versteegii. In Hendarto, K.A., Idris, M.H., Usman, K., Santoso, H. B., Surata, I.K., Susila, I W.W. (Ed.), Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian HHBK (pp. 191–199). Mataram: Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu bekerjasama dengan Universitas Nusa Tenggara Barat dan Program Studi Kehutanan Universitas Mataram.

Nugraheni, Y.M.M.A., Anggadhania, L. & Mansyur. (2013). Eksplorasi dan Isolasi Jamur Pembentuk Gaharu. Mataram.

Samsuri, T., & Fitriani, H. (2013). Pembuatan Teh dari Daun Gaharu Jenis Gyrinops versteegii. Bioscientist: Jurnal Ilmiah Biologi, 1(2).

Siran, S.A. & Turjaman, M. (2010). Pengembangan Teknologi Produksi Gaharu Berbasis Pemberdayaan Masyarakat. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam.



Telah Dibaca:144 Kali


Artikel Lainnya

*MEMBIDIK KONSUMEN HASIL PENELITIAN MELALUI PENGEMBANGAN
*PENGELOLAAN HHBK HATA SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN DI CITUMANG KABUPATEN PANGANDARAN, POTENSI YANG HARUS DI LESTARIKAN
*AGROFORESTRI DAN PENGELOLAAN HUTAN LESTARI MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN
*PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL TAKABONERATE : EKOWISATA BERKEMBANG DAN EKOSISTEM LESTARI
*INOKULASI GAHARU YANG LESTARI

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon


Home   Contact   Email   LogIn



Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat