Dinas Kehutanan Prov Jabar

AGROFORESTRI DAN PENGELOLAAN HUTAN LESTARI MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN


Oleh. Aji Winara, S.Hut. M.Si


“KOPI” saat ini menjadi alat diplomasi Gubernur Jawa Barat, Dr. Ahmad Heriyawan dengan dunia internasional. Kopi java preanger selalu menjadi souvenir Gubernur Jawa Barat dalam kunjungannya ke luar negeri seperti ke Jepang, Tiongkok, Australia, Finlandia dan Swedia. Terakhir Swedia membangun hubungan dagang komoditas kopi dengan Jawa Barat (www.pikiran-rakyat.com/luar-negeri/2018-04-29).

Kopi merupakan salah satu komoditi unggulan agroforestri dari Jawa Barat khususnya agroforestri di wilayah dataran sedang hingga dataran tinggi. Hadirnya agroforestri kopi menjadi solusi bagi sistem pertanian yang ekonomis namun tetap menghadirkan hutan di dalamnya atau kebalikannya tetap hutan terjaga namun tanaman bernilai ekonomi tinggi tetap tersedia. Hal ini terjadi karena hadirnya pohon dapat meningkatkan produktivitas kopi yaitu memberikan naungan yang diperlukan oleh kopi. Selain itu hadirnya hutan sebagai penaung tanaman kopi dapat meningkatkan fungsi hidrologi untuk kawasan-kawasan dengan kelerengan curam atau hutan lindung dengan munculnya mata air baru. Secara sosial agroforestri kopi dapat meningkatkan peran gender dan mengurangi pengangguran sebagaimana pengalaman seorang pengusaha agroforestri kopi di wilayah dataran tinggi Bandung. Agroforestri kopi merupakan salah satu contoh sukses pengelolaan hutan lestari yang melibatkan secara langsung masyarakat di Jawa Barat baik dikawasan perhutanan sosial, kawasan hutan lindung maupun kawasan hutan milik atau hutan rakyat.


Gambar 1. Agroforestri sengon dan kopi di Kabupaten Ciamis

Konsep Agroforestri Secara Umum

Agroforestri merupakan sebuah sistem pengelolaan hutan yang mengakomodasi hadirnya sistem budidaya non kehutanan (pertanian, peternakan dan perikanan) didalam sistem budidaya kehutanan (silvikultur) atau sebaliknya. Hadirnya agroforestri menjadi bagian penting dalam konsep pengelolaan hutan lestari yakni hutan lestari dan masyarakat sejahtera dalam arti kelestarian produksi tetap berjalan, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya dari hutan dan lingkungan tidak terganggu atau bertambah lebih baik kualitasnya. Implementasi agroforestri biasanya dilakukan pada kawasan hutan negara maupun hutan milik  atau areal penggunaan lain.

Agroforestri dapat dikategorikan menurut himpunan kriteria berdasarkan struktur, fungsi, sosial ekonomi dan ekologi. Kriteria struktur mengacu pada komposisi komponennya baik pengaturan spasial, vertikal, horizontal maupun temporal. Contoh agroforestri berdasarkan komposisi komponennya meliputi: 1) kombinasi silvikultur dan budidaya pertanian   disebut wanatani atau agrisilvikultur (pohon dan tanaman pangan atau rempah-rempah), wanafarma (pohon dan tanaman obat) dan wanadaya (pohon dan tanaman penghasil energi); 2) kombinasi silvikultur dan budidaya peternakan  meliputi silvopastural (pohon dan pakan ternak) dan serikultur (pohon dan lebah madu); 3) kombinasi silvikultur dan budidaya perikanan meliputi silvofishery (pohon dan tambak atau kolam ikan). Pohon dalam definisi agroforestri ini tidak hanya pohon sebagai penghasil kayu pertukangan namun termasuk pohon dan palem atau pandan (hasil hutan bukan kayu), sebagai contoh pohon penghasil minyak atsiri (kayu putih dan eukaliptus), penghasil pangan (sukun, matoa, pohon buah-buahan lainnya), penghasil rempah-rempah (kemiri), penghasil getah (pinus, damar, tengkawang), penghasil obat-obatan (jamblang), penghasil energi (kaliandra, akasia auri), penghasil biodiesel (nyamplung dan malapari). Sementara itu kriteria struktur berdasarkan pengaturan ruang (spasial) seperti pohon sebagai pembatas (tree along boarder), sistem lorong (alternate row) atau sistem campuran tidak beraturan.

Kriteria agroforestri berdasarkan fungsi ekologi mengacu pada fungsi utama atau peran sistem tersebut yang biasanya diperankan oleh komponen pohon. Contohnya pohon sebagai penaung utama (bagi tanaman kopi, kakao, kapulaga), pohon sebagai pelindung angin di laut (windbreak), pohon sebagai sabuk pelindung atau pohon sebagai konservasi tanah dan air.

Adapun kriteria agroforestri berdasarkan aspek sosial ekonomi lebih menitikbertakan pada pengelolaan agroforestri dan nilai ekonomi. Berdasarkan hal tersebut maka agroforestri bersifat komersial, pertengahan dan subsisten. Agroforestri komersial bertujuan utama pada produksi untuk dijual yang biasanya komoditi tunggal atau agroforestri sederhana, skalanya besar dengan pemilik lahan bisa pemerintah, perusahaan atau swasta dengan tenaga kerja menggunakan buruh atau tenaga kontrak. Agroforestri intermediet atau pertengahan tergolong antara komersil dan subsisten yang biasanya menggunakan tanaman cepat tumbuh dan tanaman tahunan seperti kopi dan coklat sebagai penyusun atau kebun campuran antara penghasil kayu dengan buah-buahan. Sementara itu agroforestri subsisten lebih menggunakan lahan agroforestri untuk pemenuhan kebutuhan harian rumah tangga seperti tanaman pokok semusim (padi, jagung, ketela pohon, ubi,sayuran), tanaman tahunan dan tanaman pohon sebagai tambahan atau pelengkap. Pola subsisten banyak dilaksanakan oleh masyarakat sekitar hutan atau pedesaan.

Agroforestri dan Pengelolaan Hutan Lestari

Konsep pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management) secara umum adalah pengelolaan hutan yang menjamin lestarinya fungsi produksi, fungsi sosial dan fungsi lingkungan atau ekologi. Dalam konsep agroforestri, ketiga pilar pengelolaan hutan lestari tersebut tetap terjaga.

Kelestarian fungsi produksi sangat kental nuansanya pada sistem agroforestri meskipun pada komoditi yang mana lebih banyak sangat bergantung pada kriteria sebagaimana dijelaskan sebelumya. Agroforestri tetap menjaga kelestarian fungsi produksi tanaman kehutanan baik penghasil kayu ataupun HHBK. Demikian pula kesletarian fungsi produksi komoditi non kehutanan seperti kelestraian hasil pertanian pada agrisilvikultur, kelestarian komoditi peternakan pada silvopastural atau kelestarian komoditi perikanan pada silvofishery.

Kelestarian fungsi sosial banyak menjadi perhatian utama dalam agroforestri karena agroforestri sangat kuat kaitannya dengan masyarakat sekitar hutan sebagai aktor utama. Agroforestri hadir juga sebagai salah satu solusi dalam mengatasi konflik lahan pada hutan negara khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan lahan garapan dengan diberikannya hak garap bukan hak milik kepada masyarakat yang terlanjut sudah merambah. Contoh agroforestri sebagai solusi resolusi konflik di hutan negara adalah agroforestri hasil hutan bukan kayu (kemiri, pakem dan kedawung) dan tanaman obat-obatan (temulawak, kunyit, jahe, cabe jawa) di Taman Nasional Meru Betiri Jawa Timur. Lahan tersebut sebelumnya telah mengalami penebangan liar dan masyarakat banyak merambah taman nasional hingga zona inti untuk mencari pohon tumbuhan obat seperti pakem dan kedawung. Saat ini agroforestri di kawasan hutan negara masuk dalam program perhutanan sosial (PS), hutan kemasyarakatan (HKm) atau kemitraan pengelolaan hutan. Contohnya agroforestri di kawasan hutan produksi yang dikelola oleh PT Perhutani di Pulau Jawa menggunakan konsep pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) dimana salah satu contoh  prakteknya adalah pola agrisilvikultur  atau menanam tanaman tanaman pangan diantara tanaman pepohonan jati atau pinus guna pemenuhan kebutuhan pangan lokal masyarakat (bersifat subsisten). 

Sementara itu kelestarian fungsi ekologi tetap diperhatikan sebagai unsur penting pada agroforestri khususnya untuk menjaga bahkan meningkatkan kualitas tapak (tanah), hidrologi dan ruang hidup bagi biodiversitas. Adanya pemupukan dengan pupuk organik serta hadirnya seresah pohon diharapkan mampu memperbaiki kualitas tanah. Sementara itu adanya konsep multistrata pada agroforestri diharapkan dapat mengurangi erosi tanah. Selain itu adanya multijenis tumbuhan pada penyusun agroforestri dapat menyediakan ruang tumbuh yang lebih luas bagi biodiversitas. Begitu beragamnya pola agroforestri menunjukkan bahwa agroforestri sangat potensial sebagai solusi bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hariannya namun tetap dapat menghadirkan fungsi ekologis tanaman kehutanan dalam pola tanamnya.

Agroforestri dan Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan menjadi prioritas nasional pemerintah saat ini. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik kuantitasnya, kualitas, aman, merata dan terjangkau. Permasalahan utama ketahanan pangan yang dirasakan saat ini adalah pertumbuhan permintaan akan pangan lebih cepat daripada pertumbuhan penyediaan produksi pangan, sementara itu kendala konversi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian serta menurunnya kualitas kesuburan lahan masih menjadi kendala utama khususnya di Pulau Jawa.

Kekurangan pangan masih identik dengan masyarakat sekitar hutan karena aksesnya terhadap lahan budidaya pertanian yang terbatas disamping daya jualnya komoditi yang dihasilkan masih rendah.   Kawasan hutan memiliki areal yang cukup luas dan memungkinkan untuk dilakukan kegiatan budidaya pertanian khususnya tanaman pangan, sehingga kehutanan diwajibkan untuk tetap berkontribusi dalam mendukung program nasional ketahanan pangan khususnya bagi masyarakat disekitar hutan. Salah satu akses budidaya tanaman pangan di kawasan hutan adalah kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan perhutanan sosial di wilayah produksi atau zona pemanfaatan tradisional bagi kawasan lindung dan kawasan konservasi meskipun dengan bingkai aturan tertentu.

Tabel 1. Contoh jenis-jenis komoditi pada agroforestri sumber pangan dari kawasan hutan

Jenis Pohon

Tanaman Pangan

Pola Tanam

Ciri khas

Sengon, Manglid, Gmelina, Suren, Pinus, Jati, Mahoni, Akasia, Manglid, kayu putih, Pohon buah-buahan

Padi, jagung, kedelai, kacang ijo, kacang tanah, ketela pohon, ubi jalar, pisang, sayuran

Lorong, pembatas luar

  • Jarak tanam pohon lebar (pembagian ruang 30 % pohon : 70 % tanaman bawah)
  • Biasanya bertahan hingga 3 tahun pertama jika jarak tanam pohon standar monokultur
  • Pohon lebih sebagai tabungan

  • Strategi ruang cahaya pada prunning pohon yang tinggi

Porang, garut, ganyong, talas, gadung, jalawure

Bawah tegakan

  • Tanamannya bukan sumber makanan pokok atau masih alternatif
  • Pemanfaatan lahan kosong dibawah tegakan
  • Diperlukan manajemen pruning hingga naungan tidak lebih dari 50 %
  • Pohon sebagai tanaman utama

 

Tantangan Agroforestri

Agroforestri sebagai salah satu sistem silvikultur harus mampu menjamin berlanjuntan fungsi produksi, fungsi sosial dan fungsi lingkungan dari sistem tersebut. Beberapa tantangan dalam mewujudkan agroforestri yang lestari antara lain daya dukung teknis budidaya, ekonomi dan sosial.

Kendala teknis budidaya yaitu karakteristik agronomi sebagian besar tanaman pangan khususnya tanaman pangan prioritas nasional yaitu padi, jagung dan kedelai (PAJALE), membutuhkan cahaya matahari yang cukup tinggi untuk berfotosintesis sehingga hadirnya pohon memberikan pembatasan cahaya matahari menuju lantai hutan karena adanya naungan. Kendala tersebut biasanya disiasati dengan adanya optimalisasi tanaman pangan di tiga tahun pertama penanaman tanaman kehutanan atau dilakukan pengaturan jarak tanam bagi tanaman kehutanan menjadi lebih lebar sehingga tersedia ruang tumbuh yang cukup optimum bagi tanaman pertanian. Produktivitas tanaman per satuan luas pada agroforestri tidak bisa dibandingkan dengan produktivitas pada pola monokultur baik untuk tanaman kehutanan maupun pertanian. Misalnya sengon monokultur tentu lebih tinggi produktivitasnya per hektarnya dibandingkan hasil agroforestri karena ruang tumbuhnya lebih banyak, demikian pula tanaman pertanian secara monokultur lebih tinggi dibandingkan yang ditanam pada pola agroforestri. Namun produktivtas keseluruhan agroforestri jika digabung antara pertanian dengan kehutanan bisa lebih tinggi jika dikelola secara intensif apalagi terdapat beberapa jenis tanaman pertanian yang mensyaratkan adanya naungan untuk optimum dalam berproduksi seperti garut, kopi, coklat, kapulaga dan lada.

Kendala ekonomi dalam pengembangan agroforestri adalah berawal dari pemilihan jenis tanaman. Agroforestri dapat memberikan nilai ekonomi tinggi jika jenis tanaman yang dipilih untuk ditanam adalah jenis yang bernilai ekonomi tinggi atau tanaman yang telah memiliki pasar disekitar lokasi agroforestri. Beberapa jenis tanaman pertanian dapat bernilai ekonomi tinggi dan idealnya dipadukan dengan tanaman kehutanan karena membutuhkan naungan. Namun tanaman tersebut membutuhkan syarat lingkungan tertentu untuk produktif seperti kopi dan kapulaga biasanya di dataran sedang hingga tinggi,  lada di dataran sedang. Selain itu produktivitas tanaman pun sangat bergantung sama varietasnya, misalnya padi lahan basah lebih tinggi produktivitasnya dibandingkan padi lahan kering (padi gogo) bahkan padi lahan kering lebih lama masa panennya. Dengan demikian pemilihan jenis sangat menentukan nilai ekonomi sistem agroforestri.

Sementara itu kendala sosial lebih pada budaya menanam dan ketersediaan waktu untuk mengolah lahan. Para petani di sekitar hutan lebih mengutamakan tanaman bawah dibandingkan tanaman kayu sehingga fokus pada penyediaan ruang tumbuh dan akses cahaya matahari pada lahan. Yang terjadi biasanya jarak tanam sangat lebar sehingga jumlah pohon sangat sedikit atau persentase prunning sangat tinggi. Selain itu para petani sekitar hutan yang bertani pada lahan basah seperti sawah cenderung lebih banyak menggunakan waktu utama untuk bersawah, sedangkan hutan atau kebun hanya menggunakan waktu sisa. Hal ini akan berakibat pada pemilihan jenis yang cenderung tidak diperlukan intensif dalam pemeliharaan, padahal pemeliharaan tanaman secara intensif akan meningkatkan produktivitas tanaman. Secara sosial terdapat pula kendala teknis yang berdampak pada kondisi lingkungan akibat kebiasaan dalam budidaya. Contohnya penyiapan lahan yang intensif untuk tanaman bawah (pada lahan dengan kelerengan curam dapat menimbulkan erosi tanah berlebih), pencemaran akibat penggunaan bahan kimia berlebih (herbisida, pestisida) dan penyiapan lahan dengan membakar.

Sumber : Surili Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Edisi 74
Telah Dibaca:6501 Kali


Artikel Lainnya

*SEKILAS TENTANG BUDIDAYA MADU KLANCENG DI CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH I
*MERANCANG PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN METODE PARTISIPATORY RURAL APPRAISAL
*TANAMAN NYAMPLUNG (CALOPHYLLUM INOPHYLLUM) DI PULAU JAWA JENIS TANAMAN POTENSIAL UNTUK BIOENERGI ALTERNATIF
*MEMBIDIK KONSUMEN HASIL PENELITIAN MELALUI PENGEMBANGAN
*PENGELOLAAN HHBK HATA SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN DI CITUMANG KABUPATEN PANGANDARAN, POTENSI YANG HARUS DI LESTARIKAN

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon


Home   Contact   Email   LogIn



Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat