Dinas Kehutanan Prov Jabar

Membidik Konsumen Hasil Penelitian Melalui pengembangan

Oleh : Fasis Mangkuwibowo

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

Jalan Palagan Tentara Pelajar Km. 15 Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta

 

Telah banyak hasil hasil penelitian yang telah dilahirkan, baik dari lembaga riset perguruan tinggi dan pemerintahan namun banyak sekali yang tidak dapat diaplikasikan pada masyarakat. Pasalnya, para peneliti melakukan penelitian hanya untuk memuaskan keingintahuan diri sendiri, kurang bergaul dengan masyarakat, dan tidak menyadari tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Sebetulnya peneliti di Indonesia sudah cukup mendapat dana dari pemerintah, tetapi peneliti sendirilah yang membuat masalah karena terlalu mementingkan diri sendiri. Banyak peneliti hanya meneliti untuk mendapatkan poin penilaian agar bisa naik pangkat dan golongan yang berpengaruh pada besarnya tunjangan fungsional. Sementara hasil penelitiannya hanya masuk ke perpustakaan tanpa bisa dinikmati masyarakat.

Pengembangan hasil penelitian merupakan suatu upaya untuk menjembatani agar penelitian tersebut bisa diaplikasikan pada skala operasional di tingkat pengguna atau apabila penelitian tersebut merupakan suatu produk seperti benih unggul, maka akan memberikan peningkatan produksi.

Pengembangan hasil penelitian di bidang pemuliaan tanaman hutan yang dilakukan di Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Yogyakarta bisa diartikan sebagai upaya memaksimalkan hasil penelitian tersebut agar lebih bermanfaat, baik yang bermanfaat secara ilmiah maupun pemanfaatan non ilmiah. Pengembangan hasil penelitian ini juga bisa diartikan sebagai penyempurnaan teknik maupun produk hasil penelitian. Program penelitian pemuliaan difokuskan dapat mengatasi  permasalahan yang ada sehingga luaran yang dihasilkan dapat menjadi bahan strategis dalam pengambilan kebijakan guna mendukung kebutuhan bahan baku industri kayu. Penelitian dapat dikatakan berhasil apabila teknologi/ hasil penelitian itu dimanfaatkan oleh pengguna yaitu praktisi seperti perusahaan HTI, petani hutan rakyat/HTR, pengusaha agribisnis, dan pengambil kebijakan di tingkat pusat maupun daerah, di samping untuk meningkatkan khasanah IPTEK.

Dalam upaya mempertegas kemanfaatan hasil penelitian dalam bidang pemuliaan maka sasaran yang harus dituju harus jelas sesuai dengan hasil inovasi maupun produk yang dihasilkan. Untuk itu sasaran dari pengguna hasil penelitian ini harus diidentifikasi secara cermat siapakah yang paling membutukan agar hasil penelitian yang diaplikasikan nantinya  tepat sasaran 

PEMANFAATAN HASIL PENELITIAN

Pembangunan Kebun Benih Unggul

Untuk mewujudkan agar hasil penelitaian dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Yogyakarta dapat bermanfaat dan dipakai oleh pengguna, langkah pertama adalah dengan mengidentifikasi hasil-hasil penelitian yang sekiranya bisa diaplikasikan. Diantara produk hasil pemuliaan jenis yang sudah bisa dimanfaatkan adalah benih unggul Acacia mangium, Kayu Putih, Jabon merah dan Eucalyptus pellita.

Hasil penelitian dari BBPPBPTH yang bisa diaplikasikan adalah produk benih unggul yang secara langsung bisa dimanfaatkan oleh masyarakat / pengguna. Sedangkan hasil lain berupa teknologi inovasi yang bisa ditularkan kepada masyarakat. Untuk teknologi hasil inovasi ini dapat dilakukan pada pendampingan-pendampingan para pemulia dalam pembangunan kebun benih.

Mekanisme yang digunakan untuk menjembatani antara produk hasil penelitian BBPPBPTH kepada pengguna, dilakukan melalui kegiatan pembangunan Kebun Benih Semai (KBS) Jenis Acacia mangium dan Jabon merah melalui kerjasama pengembangan antara Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan dengan BBPPBPTH di Tahun 2013. Skenario yang dibangun atas kerjasama ini adalah agar Pemkab Pacitan dapat memiliki sumber benih unggul kualitas terbaik karena KBS yang dibangun tersebut merupakan KBS generasi  ketiga atau F3. Dalam kerjasama ini Pemkab cukup menyediakan lahan untuk lokasi pembangunan KBS serta mengalokasikan sedikit anggaran untuk penanaman dan pemeliharaannya karena bibitnya telah disiapkan BBPPBPTH termasuk pendampingan dalam menentukan desain, penanaman pengukuran dan seleksi tanaman sampai KBS tersebut telah menghasilkan benih unggul.  Selanjutnya pendampingan terus dilakukan dalam upaya sertifikasi KBS tersebut untuk mendapatkan legalitas sebagai sumber benih yang dapat dikomersilkan.

Manfaat positif yang didapatkan Pemerintah Kabupaten Pacitan bersumber dari nilai komersial benih unggul yang diproduksi dari KBS tersebut, dimana permintaan benih unggul cukup banyak terutama untuk kegiatan Hutan Tanaman Industri (HTI), selain itu harga benih unggul lebih tinggi dibandingkan benih dari tegakan sembarang yang belum disertifikasi.  Dari penjualan hasil benih unggul inilah Pendapatan Asli Daerah kabupaten Pacitan  dapat ditingkatkan.

Untuk memberikan keyakinan kepada Pemkab akan pentingnya membangun KBS ini maka pada waktu bersamaan  dilakukan pula upaya penanaman bibit unggul di masyarakat. Pada tahun yang sama dilakukan penanaman bibit unggul Acacia mangium dan Jabon merah di lahan masyarakat Kecamatan Purwogondo Kabupaten Pacitan. Selain maksud tersebut diatas penanaman di lahan masyarakat ini juga bermanfaat sebagai alat verifikasi produk penelitian yang diterpakan pada skala operasional.


Pengembangan Hasil Penelitian Selanjutnya

Dengan menjamurnya industri kayu lapis dari Jawa Barat sampai ujung Jawa Timur yang memanfaatkan kayu sengon sebagai satu-satunya sumber bahan baku, maka bisa dibayangkan akan begitu besarnya kebutuhan pasokan kayu sengon dari masyarakat, yang akhirnya akan bermuara pada kebutuhan bibit sengon berkualitas dalam jumlah yang besar pula.  Peluang seperti itulah yang seharusnya ditindaklanjuti oleh semua pihak untuk saling bekerjasama antara pemerintah, masyarakat dan pengusah untuk mendapatkan manfaat yang saling menguntungkan. Tahun 2018 ini BBPPBPTH akan menghasilkan  benih sengon dengan kualitas tahan karat tumor dan produktivitas yang tinggi  (pertumbuhan dan kelurusan yang baik). Benih unggul ini adalah hasil dari KBS Sengon generasi pertama (F-1).  Pola pengembangan hasil penelitian yang sama seperti yang dilakukan di Kabupaten Pacitan akan dilakukan untuk jenis ini. Namun karena pasokan kayu sengon ini berasal dari hutan rakyat maka mekanisme kerjasama pengembangan yang saling menguntungkan tersebut dilakukan melalui kerjasama pengembangan antara Pemerintah Daerah sebagai penyedia benih unggul melalui pembangunan KBS-nya, masyarakat sebagai pemilik lahan serta Industri yang sebagai pengada bibit unggul dari KBS. Memang diperlukan kejelian, komunikasi yang baik dan sedikit akrobatik untuk menghubungkan mata rantai yang terkait dari hasil penelitian agar dapat dirasakan sampai tingkat pengguna.  Untuk itu BBPPBPTH membuka pintu seluasnya kepada  piha-pihak yang tertarik untuk memanfaatkan hasil penelitian, tidak terkecuali Pemerintah Daerah dan masyarakat di Jawa Barat untuk memanfaatkan komoditas sengon yang saat ini menjadi primadona.


Sumber : Surili Dishut Jabar edisi 74



Telah Dibaca:613 Kali


Artikel Lainnya

*SEKILAS TENTANG BUDIDAYA MADU KLANCENG DI CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH I
*MERANCANG PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN METODE PARTISIPATORY RURAL APPRAISAL
*TANAMAN NYAMPLUNG (CALOPHYLLUM INOPHYLLUM) DI PULAU JAWA JENIS TANAMAN POTENSIAL UNTUK BIOENERGI ALTERNATIF
*MEMBIDIK KONSUMEN HASIL PENELITIAN MELALUI PENGEMBANGAN
*PENGELOLAAN HHBK HATA SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN DI CITUMANG KABUPATEN PANGANDARAN, POTENSI YANG HARUS DI LESTARIKAN

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon


Home   Contact   Email   LogIn



Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat