Dinas Kehutanan Prov Jabar

PENGELOLAAN HHBK HATA

SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN DI CITUMANG KABUPATEN PANGANDARAN, POTENSI YANG HARUS DI LESTARIKAN

Oleh :

SUYARNO

(Teknisi, Balai Litbang Teknologi Agroforestry, Ciamis)

 

Pendahuluan


Hutan sebagai sumber daya alam mempunyai potensi menghasilkan kayu sebagai komoditi utamanya dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) sebagai hasil ikutannya. Pengelolaan hutan lestari harus bisa menjaga kelestarian baik hasil utamanya berupa kayu maupun hasil hutan bukan kayu, karena dalam perkembangnnya hutan telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar seperti untuk pemenuhan kebutuhan akan pangan dan energi, bahan bangunan bahkan lahan untuk bercocok tanam.


Beberapa jenis hasil hutan bukan kayu baik dari kawasan hutan maupun hutan rakyat yang telah dikenal antara lain, seperti bambu, buah-buahan, getah, bibit, tanaman obat. Berbeda hal nya dengan hata sebagai komoditi HHBK sejenis paku-pakuan yang belum banyak dikenal secara luas di masyarakat tetapi memiliki potensi yang cukup tinggi.


Hata sebagai komoditi HHBK meskipun belum dikenal secara luas tetapi sudah populer dikenal oleh masyarakat di Bali dan Lombok sebagai bahan baku kerajinan, bahkan di KPHL Rinjani Barat tanaman hata diarahkan menjadi HHBK unggulan sebagai bahan baku kerajinan anyaman hata yang telah diangkat menjadi salah satu kerajinan unggulan Provinsi NTB terutama Pulau Lombok. Tingkat permintaan kerajinan anyaman hata baik untuk pasar dalam negeri maupun untuk keperluan ekspor terus meningkat, ditunjukkan dengan para pengrajin hata di Lombok pada saat sekarang kebutuhan bahan bakunya sudah dipasok dari daerah lain dari Pulau Sumbawa, NTT, Kalimantan dan bahkan juga berasal dari Citumang Jawa Barat.


Citumang sebagai salah satu daerah yang mensuplay kebutuhan bahan baku hata di Lombok mempunyai potensi yang cukup besar dengan ketersediaan bahan baku hata yang melimpah untuk dikembangkan menjadi pusat kerajinan hata.  Potensi ini akhirnya menarik pihak stake holder pemda Kab. Ciamis yaitu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ciamis (saat ini pindah ke Pangandaran) tertarik untuk mengembangkan hata menjadi centra kerajinan hata di Citumang Kabupaten  Pangandaran.


Hata/Ketak


Hata adalah nama daerah masyarakat Jawa Barat, sedangkan untuk di Lombok lebih dikenal dengan nama ketak, merupakan bahan baku utama kerajinan di Citumang. Hata/ketak  dalam bahasa latinnya Lygodium circinnatum (Burm.f) Sw. adalah tumbuhan paku merambat (Schizaeaeceae) yang panjangnya dapat mencapai 10 m dan diameter batang 2-5 mm. Bentuk daunnya menjari 2-5 dengan tepi daun bergerigi, pada permukaan bawahnya terdapat sporangium. Jenis ini memiliki rimpang pendek kurang dari 10 cm, sedikit berdaging dan menjalar di dalam tanah. Secara umum Lygodium mempunyai akar yang merayap, berambut tapi tidak bersisik, daun-daunnya monostichous, melilit dan pertumbuhannya tidak dapat didefinisikan. Rantingnya tidak panjang, ranting primernya pendek, ujungnya terhenti dan ditutupi oleh rambut dan setiap ujungnya terdapat sepasang ranting sekunder. Hata tumbuh subur pada tempat-tempat terbuka dan hutan-hutan sekunder mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1.500 m dpl.


Hata Sumber Pendapatan Bagi Masyarakat Citumang


Hata secara umum oleh masyarakat Jawa Barat dianggap sebagai tanaman liar atau bahkan gulma karena merambat pada pohon yang berada di sekitarnya sehingga sering kali tanaman ini dibersihkan/dibabat  pada saat musim kemarau. Demikian halnya oleh masyarakat Citumang pada awalnya menganggap hata itu tanaman liar atau gulma yang tidak ada manfaatnya sehingga dibersihkan pada saat musim kemarau dibuang dan di bakar.


Persepsi dan anggapan tersebut mulai berubah bahwa hata adalah tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang dapat dijual sejak tahun 1999 dipelopori oleh dua orang tokoh masyarakat yaitu Pak Misman dan Ibu Ida yang sekarang menjadi ketua kelompok pengrajin ketak, karena adanya permintaan batang hata dari Jawa Timur 


Tahun 1999 atas prakarsa dua tokoh masyarakat tersebut  hata yang awalnya tanaman yang tidak bernilai bahkan dianggap gulma, menjadi komoditi andalan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari oleh banyak kepala keluarga di Citumang.


Masyarakat Citumang memperoleh pendapatan dari hata terbagi dalam tiga bagian yaitu 1). Masyarakat mencari hata dan menjual dalam bentuk bahan baku mentah 2). Masyarakat menjual dalam bentuk bahan baku jadi dan 3) masyarakat menjual hata dalam bentuk hasil kerajinan.


1.    Masyarakat mencari hata dan menjual dalam bentuk bahan baku mentah

Hata oleh para pemilik lahan banyak  yang tidak dimanfaatkan dan dianggap tanaman pengganggu oleh karena itu pada saat ada orang yang mencari hata sangat dipersilahkan dan tidak perlu membeli kepada pemilik lahan. Dalam perkembangannya permintaan bahan baku hata yang terus meningkat sehingga pada saat ini hampir 80% penduduk kampung Citumang menjadi pemungut hata di sela-sela pekerjaan utamanya bertani.

Banyaknya permintaan dan banyaknya para pemungut hata menyebabkan keberadaan hata semakin langka dan untuk memenuhi kebutuhan permintaan dari Bali dan Lombok, para pemungut mencari hata hingga ke wilayah luar Citumang bahkan sampai ke wilayah Tasikmalaya dan  Garut. Pemungut hata menjual hata dalam bentuk batang utuh basah dan belum dibersihkan ruasnya dengan harga Rp. 7.500/ikat. Pengiriman ketak/hata oleh Ibu Ida dilakukan sebulan sekali sebanyak satu mobil bak dengan jumlah 200.000 – 400.000 batang per pengiriman. Rata –rata jumlah ketak yang di suplay oleh pemungut setiap harinya sebanyak 100 ikat (10.000 batang), dengan rata rata satu orang pemungut mensuplay 10 ikat per hari.



2.    Masyarakat menjual dalam bentuk bahan baku jadi

Bahan baku mentah adalah batang hata yang masih utuh, adapun bahan baku jadi adalah batang hata yang sudah dibagi menjadi 4 dan sudah kering. Pembagian batang hata menjadi 4 menggunakan alat bantu berupa obeng bunga. Batang hata yang sudah terbagi menjadi 4 selanjutnya dijemur selama 1 hari dan diikat per 100 batang.


Harga beli hata dari pemungut yang sudah kering sebesar Rp. 11.000/ikat untuk ukuran panjang 140 cm. Ketak dengan ukuran panjang 120-130 cm dibeli dengan harga Rp. 70/btg atau Rp. 7.000/ikat.



3.    Masyarakat menjual hata dalam bentuk hasil kerajinan.

Citumang menjadi centra kerajinan hata di mulai pada tahun 2015 dengan fasilitator Bapak Asep Barnas (Dewan Kerajinan Nasional) dari Tasikmalaya melatih sebanyak 30 orang warga Citumang untuk membuat kerajinan  anyaman dari hata. Pelatihan tersebut menghasilkan kerajinan berupa anyaman tas, topi, gelang dll. Kerajinan hata sampai dengan saat sekarang masih ditekuni oleh 10 orang dengan penjualan secara rutin mengirimkan gelang hata sebanyak 1.000 biji dengan harga Rp. 3.500/biji ke Toko Mirota Batik di Yogyakarta setiap 6 bulan sekali. Produk lain yang dijual ke Yogyakarta berupa tatakan gelas yang dijual oleh pengrajin dengan harga Rp. 4.500/buah. Produk kerajinan yang lainnya berupa tas, topi dijual di shouroom di Citumang dengan pangsa pasar para wisatawan body rafting.


Peluang Pasar Kerajinan Hata


Citumang sebagai daerah penghasil bahan baku hata hampir seluruh penjualannya untuk mensuplay bahan baku kerajinan di Lombok. Kerajinan ketak di Lombok masih mempunyai peluang besar untuk menerima hata dari Citumang. Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian NTB (2010) dalam  Devy PK. dkk. 2015, menyatakan bahwa produk kerajinan anyaman ketak terdapat di 6 (enam) kabupaten yaitu Kabupaten Bima, Dompu, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara dan Lombok Timur dengan 69 sentra, unit usaha 15.649 buah dan dapat menampung tenaga kerja sebanyak 26.331 orang serta menyerap investasi sebesar 3.816.663.000 dengan nilai produksi sebesar 26.862.701.


Disamping itu, peluang usaha hata  juga di dapat dari keberpihakan pemda Kabupaten Pangandaran dalam hal penjualan produk dan promosi produk kerajinan hata dengan mengundang dan memfasilitasi dalam hal pameran seperti Inacraft dll. Pemda Kabupaten Pangandaran juga telah memfasilitasi adanya pengiriman pengrajin hata untuk studi banding langsung ke tempat kerajinan hata di Lombok, karena kerajinan anyaman hata telah menjadi salah satu kerajinan unggulan di Provinsi NTB terutama di Pulau Lombok. Hasil penelitian Tauhid (2012) dalam Devy PK. dkk. 2015, menunjukkan bahwa produksi anyaman ketak/hata di Pulau Lombok telah menembus pasar mancanegara seperti Jepang, Thailand hingga Eropa


Kendala Dalam Kelestarian Hasil dan Kelestarian Budidaya


Pengelolaan hata sebagai komoditi HHBK untuk menuju pengelolaan hutan lestari, baik dari segi kelestarian hasil maupun kelestarian budidayanya, menghadapi berbagai tantangan sebagai berikut:

 

a.    Kendala Kelestarian Hasil

Ketersediaan bahan baku semakin berkurang

Tingkat permintaan bahan baku di Citumang yang terus meningkat menyebabkan semakin jauhnya orang mencari bahan baku hata di kebun dan sampai dengan saat sekarang bahan baku hata sudah dikirim dari Kecamatan Cijeungjing yang berjarak hampir 100 km.


 

Informasi pasar kerajinan hata masih terbatas

Kerajinan hata Citumang masih sebatas mensuplay kebutuhan ke Yogyakarta, Lombok dan penjualan ditempat. Informasi pasar masih sangat terbatas sehingga belum bisa merambah ke daerah lain.


 

Promosi dan publikasi masih terbatas

Pelaksanaan pameran kerajinan yang difasilitasi dari Pemda masih sangat terbatas, promosi kerajinan di tempat wisata juga masih terbatas. Promosi dan publikasi kerajinan hata masih sangat minim sehingga menyebabkan masyarakat belum banyak yang tau tentang kerajinan hata dengan segala kelebihannya.


 

b.    Kendala Kelestarian Budidaya

Bahan baku yang semakin sulit disebabkan oleh ketidak seimbangan antara pertumbuhan hata secara alami di alam dan tingkat pemanenan, disamping faktor perbanyakan tanaman hata yang sangat sulit di lakukan. Hata di citumang dan daerah lainnya di Jawa Barat masih mengandalkan hata yang tumbuh secara alami, sehingga stok tanaman semakin habis dengan tingkat pemanenan yang tinggi.


 

Pertumbuhan alami masih diandalkan oleh para pencari hata karena  adanya persepsi masyarakat bahwa tanaman hata merupakan tanaman pengganggu

 

Kondisi demikian akan mengancam kepunahan bahan baku kerajinan hata dan lebih jauhnya dapat menurunkan tingkat biodiversitas dari hutan. Oleh karena itu kepedulian dari berbagai stakeholder terkait sangat di perlukan untuk menjaga kelestarian HHBK hata yang telah memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat yang bergerak di bidang usaha hata dan kerajinannya.


Penutup

Peluang pasar yang masih sangat terbuka baik pada tingkat kebutuhan bahan baku kering maupun kerajinan ketak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat citumang khususnya dan umumnya masyarakat yang bergerak dibidang usaha hata untuk terus mengembangkan usahanya.


Kerajinan hata citumang sudah berjalan tetapi masih sangat potensial untuk terus dikembangkan mengingat tingkat kebutuhan kerajinan hata yang masih tinggi. Peranan pemerintah masih sangat diperlukan oleh para pengrajin hata dalam hal pameran, publikasi dan promosi dalam berbagai even sehingga kerajinan hata lebih dikenal oleh masyarakat luas.


Dalam hal perbanyakan tanaman hata yang masih menjadi kendala, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry pada saat sekarang ini masih terus melakukan uji coba perbanyakan tanaman hata dengan menggunakan spora.


Sinergi dari berbagai pihak untuk peduli terhadap pengembangan hata masih sangat diperlukan dengan harapan hata tetap lestari dari faktor budidayanya maupun kerajinannya sehingga dapat meningkatkan tingkat pendapatan petani pengrajin hata dan dapat dijadikan sebagai kerajinan khas Citumang Kabupaten Pangandaran.


Daftar Pustaka

Kuswantoro, D.P., W. Handayani, T.S. Widianingsih, D. Maharani dan Suyarno. 2015. Laporan Hasil Penelitian Potensi Pengembangan HHBK Jenis Ketak dengan Pola Agroforestry untuk Mendukung Kawasan Lindung di KPHL Rinjani Barat. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry. Ciamis


Kuswantoro, D.P., T.S. Widianingsih, W. Handayani, 2015. Peluang dan Tantangan Pengembangan Paku Ketak  (Lygodium circinnatum (Burn. F) Swartz) di Pulau Lombok. Prosiding Seminar Sewindu BPTHHBK Mataram. Balai Litbang HHBK, Mataram

 

 Sumber : Surili Dishut Jabar Edisi 74

 


Telah Dibaca:2609 Kali


Artikel Lainnya

*SEKILAS TENTANG BUDIDAYA MADU KLANCENG DI CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH I
*MERANCANG PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN METODE PARTISIPATORY RURAL APPRAISAL
*TANAMAN NYAMPLUNG (CALOPHYLLUM INOPHYLLUM) DI PULAU JAWA JENIS TANAMAN POTENSIAL UNTUK BIOENERGI ALTERNATIF
*MEMBIDIK KONSUMEN HASIL PENELITIAN MELALUI PENGEMBANGAN
*PENGELOLAAN HHBK HATA SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN DI CITUMANG KABUPATEN PANGANDARAN, POTENSI YANG HARUS DI LESTARIKAN

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon


Home   Contact   Email   LogIn



Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat