Dinas Kehutanan Prov Jabar

TANAMAN NYAMPLUNG (Calophyllum Inophyllum) DI PULAU JAWA

JENIS TANAMAN POTENSIAL UNTUK BIOENERGI ALTERNATIF

Oleh :

Arif priyanto

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta

SEBARAN DAN POTENSI  NYAMPLUNG DI PULAU JAWA

Di Indonesia nyamplung tersebar mulai dari bagian barat sampai bagian timur Indonesia. Distribusi pohon nyamplung di Indonesia tersebar di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara Timur dan Papua. Jenis tersebut dijumpai hampir di selluruh daerah terutama pada daerah pesisir pantai antara lain: Taman Nasional (TN) Alas Purwo, TN Kepulauan Seribu, TN Baluran, TN Ujung Kulon, Cagar Alam (CA) Pananjung Pangandaran, Kawasan Wisata (KW) Batu Karas, Pantai Carita (Banten), P. Yapen (Jayapura), Biak, Nabire, Manokwari, Sorong, Fakfak (Wilayah Papua), Halmahera dan Ternate (Maluku Utara), TN Berbak (Pantai Barat Sumatera) (Balitbanghut, 2008).

Tegakan nyamplung di Pulau Jawa hampir tersebar diseluruh propinsi. Secara umum distribusi sebaran ada di hutan alam dan hutan tanaman. Sebaran Alam tanaman nyamplung bisa kita dapatkan di Banyuwangi tepatnya di lokasi Taman Nasional (TN) Alas Purwo dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sedangkan untuk tegakan dari hutan tanaman bisa didapatkan di Gunung Kidul, Purworejo, Cilacap dan Ciamis.

Tabel. Populasi, potensi tegakan dan buah nyamplung di Pulau Jawa

No

Provenan/

ras lahan

Luas

(ha)

Kerapatan (pohon/ha)

Perkiraan

Jumlah Pohon

Potensi buah

(ton/tahun)

1.

Banyuwangi (Jatim)

40

100

4.000

200

2.

Gunung Kidul (DIY)

2

535

1070

53,5

3.

Purworejo (Jateng)

86,2

125

10.814

500

4.

Cilacap (Jateng)

17

34

550

27,5

5.

Ciamis (Jabar)

8

12

85

4,25

6.

Pandeglang  (Banten)

12,5

10

125

6,25

 

Jumlah

165,7

 

 

791,5

*Sumber data ( Leksono B, dkk 2011).

Dari Tabel diatas dapat dilihat bahwa dari total tegakan nyamplung seluas 165,7 Ha dapat dihasilkan potensi buah sebesar 791,5 ton/tahun. Tegakan  tersebut dapat digunakan sebagai sumber benih untuk pengembangan budidaya tanaman nyamplung maupun sebagai sumber bahan baku bioenergi yaitu pengolahan minyak nyamplung untuk biofuel.

Gambar. Tegakan alam nyamplung di TN Alas Purwo , Banyuwangi (Jawa Timur) dan Batukaras, Pangandaran (Jawa Barat)

TANAMAN  NYAMPLUNG PENGHASIL BAHAN BIOENERGI

Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) merupakan salah satu tanaman hutan yang memiliki prospek dan potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai bahan baku biofuel. Tanaman ini dipilih sebagai sumber energi biofuel karena biji nyamplung memiliki rendemen yang tinggi (diperkirakan mencapai 65%) dan dalam pemanfaatannya diduga tidak akan berkompetisi dengan kepentingan untuk bahan pangan. Proses pembuatan biofuel dari biji nyamplung adalah seperti alur gambar di bawah ini :


Hasil analisis kandungan rendemen minyak atau minyak mentah nyamplung dari beberapa populasi di Pulau Jawa (Leksono B dkk, 2014)  adalah sebagai berikut :

No

Provenan/ ras lahan

Rendemen Minyak (%)

1.

Banyuwangi (Jatim)

42.58 %

2.

Gunung Kidul (DIY)

48.57 %

3.

Purworejo (Jateng)

45.79 %

4.

Cilacap (Jateng)

40.48 %

5.

Ciamis (Jabar)

40.00 %

6.

Pandeglang  (Banten)

37.02 %


Berdasarkan informasi rendemen minyak nyamplung dari beberapa populasi tersebut diatas, maka selanjutnya perlu dikembangkan plot tanaman nyamplung yang mempunyai rendemen tinggi pada tingkat lapang dengan skala yang lebih luas, ini diperlukan  tidak hanya untuk meningkatkan bahan baku di dalam pembuatan biofuel tetapi juga untuk kepentingan pembangunan tegakan benih nyamplung.

PEMULIAAN TANAMAN NYAMPLUNG

Untuk mengembangkan dan meningkatkan produktifitas nyamplung maka strategi pemuliaan tanaman nyamplung menjadi alternatif yang harus dilaksanakan di tingkat lapang. Strategi yang sudah dikembangkan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan saat ini adalah dengan membangun tegakan uji provenan dan tegakan benih provenan nyamplung. Tegakan uji provenan dibangun dengan memanfaatkan buah dari bebera populasi pulau di jawa yaitu yang berasal dari Banyuwangi, Gunung Kidul, Purworejo, Cilacap, Ciamis dan Banten. Sedangkan tegakan benih provenan diambil dari buah yang mempunyai rendemen minyak tertinggi dari populasi di Pulau Jawa. Rendemen minyak tertinggi di dapat dari buah asal populasi Gunung Kidul (48.57%). Berikut adalah beberapa plot uji provenan nyamplung yang dilakukan di lahan pantai berpasir di Pangandaran (Jawa Barat) dan plot uji provenan nyamplung yang ditanam di lahan mineral Wonogiri (Jawa Tengah).

Gambar. Plot Uji  Provenan Nyamplung di Lahan Pantai Berpasir (Pangandaran, Jawa Barat) &

Plot Uji  Provenan Nyamplung di Lahan Mineral (Wonogiri, Jawa Tengah)


PENGEMBANGAN TANAMAN NYAMPLUNG KEDEPAN

Saat ini untuk mengembangkan tanaman nyamplung secara masif dan intensif di lokasi lahan masyarakat ataupun lahan negara menjadi tantangan terbesar. Komitmen negara untuk mengembangkan energi baru terbarukan yang berbasis tanaman penghasil bioenergi harus dijalankan secara nyata tidak berhenti pada slogan-slogan tanpa aksi nyata dilapangan. Kegagalan pengembangan tanaman jarak sebagai salah satu tanaman penghasil energi harus menjadi pembelajaran untuk pengembangan tanaman penghasil energi kedepan. Payung hukum dan road map pengembangan tanaman penghasil bioenergi haus disusun dan dijalankan dengan komitmen tinggi demi terwujudnya energi baru terbarukan.

Salah satu solusi pengembangan tanaman nyamplung kedepan seyogyanya dapat dikembangkan melalui pilot project di hutan tanaman dan di hutan kemasyarakatan :

1.      Hutan Tanaman

Hutan tanaman sebagai sebagai salah satu instrument pengembangan tanaman nyamplung kedepan sangat bisa diharapkan untuk diwujudkan sebagai pilot project oleh pemerintah. Akan tetapi sampai dengan saat ini rencana untuk pengembangan Hutan Tanaman nyamplung dalam skala besar dengan luasan minimal >100 Ha belum bisa terlaksana, ini dikarenakan minat untuk mengembangan jenis ini masih kecil. Hal ini dimungkinkan karena publikasi jenis tanaman ini masih relatif kecil sehingga kurang dikenal dan juga mungkin karena faktor lain seperti pendanaan yang terbatas. Stakeholder yang berkepentingan dari pemerintah (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian ESDM, Dinas Kehutan), BUMN (Pertamina, Perhutani, Inhutani), Swasta (HPH, Pemegang izin usaha kayu lainnya), mestinya bisa menjadi pionir untuk bisa mengembangkan tanaman nyamplung berbasis hutan tanaman.

2.      Hutan Kemasyarakatan

Pada level pengembangan hutan kemasyarakatan, kegiatan ini  harus bertumpu pada beberapa hal yang langsung berdampak kepada masyarakat, terutama harus bisa meningkatakan pendapatan petani, mempercepat usaha rehabilitasi lahan, dan bisa memperbaiki kondisi lingkungan setempat dan terbebas dari potensi bencana alam (Lembaga Penelitian IPB, 1986). Tanpa mempunyai nilai seperti diatas akan sangat susah mengembangkan suatu jenis tanaman ditengah masyarakat. Widiarti, A dkk (2000) menjelaskan bahwa karakteristik hutan rakyat di lapangan berbeda di hampir setiap lokasi, sehingga dalam pembinaan dan pengembangan hutan rakyat harus berdasarkan nilai-nilai setempat. Apabila hal ini bisa diterapkan maka hutan rakyat sebagai sumber daya alam akan tetap lestari yang mencakup lestari hasil, lestari pendapatan dan lestari lingkungan.

Hal yang bisa ditempuh/diambil jalan tengah dalam mengembangkan tanaman nyamplung saat ini adalah mengembangkan tanaman nyamplung di hutan masyarakat sebagai tanaman konservasi. Ini bisa diaplikasikan oleh masyarakat dengan menanam dilahan-lahan marginal ataupun dibatas batas kepemilikan lahan. Untuk mendapatkan nilai produktifitas buah yang tinggi maka tanaman yang disiapkan untuk ditanam sebaiknya diambilkan dari benih unggul hasil pemuliiaan tanaman yang sudah dikembangkan.

PENUTUP

Tanaman nyamplung cukup menjanjikan untuk dikembangkan sebagai tanaman penghasil bioenergi. Sebaran nyamplung di jawa cukup banyak dan berpotensi sebagai bahan baku untuk diolah menjadi bioenergi. Plot uji tanaman pada skala plot penelitian sudah dilakukan pada beberapa tipe lahan dengan tingkat keberhasilan yg cukup baik. Untuk membangun tanaman penghasil energi yg lebih besar, sudah selayaknya pola pengembangan tanaman nyamplung  bisa dikembangkan pada tahapan luasan yang lebih besar baik dengan pola hutan tanaman ataupun hutan kemasyarakatan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Balitbanghut (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan). 2008. Nyamplung (Calophyllum inophyllum L) Sumber energi biofuel yang potensial. Jakarta.

Leksono B, Hendrati RL, Windyarini E dan Hasnah T, 2014. Variation of biofuel potency of twelwe Calophyllum inophyllum populations in Indonesia. Indonesian Journal of Forestry Research. Vol. I No. 2.

Leksono, B., Lisnawati, Y., Rahman, E., Putri, K.P. 2011. Potensi tegakan dan karakteristik lahan enam populasi nyamplung (Callophyllum inophyllum) ras jawa. Prosiding Workshop sintesa Hasil Penelitian Hutan Tanaman, Bogor. Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan. Bogor.

Widiarti, A. Dkk. 2000. Tinjauan Tentang Pola Tanam. Dishut Jawa Barat. 15 April 2012. Diakses dari dishut.jabarprov.go.id/…/Tinjauan Tentang Pola Tanam… 32 p.


Sumber : Surili Edisi 74



Telah Dibaca:2982 Kali


Artikel Lainnya

*SEKILAS TENTANG BUDIDAYA MADU KLANCENG DI CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH I
*MERANCANG PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN METODE PARTISIPATORY RURAL APPRAISAL
*TANAMAN NYAMPLUNG (CALOPHYLLUM INOPHYLLUM) DI PULAU JAWA JENIS TANAMAN POTENSIAL UNTUK BIOENERGI ALTERNATIF
*MEMBIDIK KONSUMEN HASIL PENELITIAN MELALUI PENGEMBANGAN
*PENGELOLAAN HHBK HATA SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN DI CITUMANG KABUPATEN PANGANDARAN, POTENSI YANG HARUS DI LESTARIKAN

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon


Home   Contact   Email   LogIn



Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat