Rehabilitasi Hutan dan Lahan 2019 : Menanam dan Membangun Hutan

Infonawacita.or.id | Jakarta,- Dalam rangka mendukung keberhasilan penanaman, KLHK akan menerapkan langkah-langkah korektif (corrective actions) pada kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di tahun 2019.

Direktur Konservasi Tanah dan Air, Muhammad Firman, saat mewakili Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL), membuka Workshop Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI), di Bogor (01/08).

"KLHK melalui Ditjen PDASHL telah menyusun operasionalisasi corrective actions, yang merupakan arahan Presiden dan Menteri LHK. Aksi disini bukan hanya untuk menanam, tetapi juga membangun hutan", papar Firman.

Disampaikannya, pada tahun 2019, KLHK memiliki target RHL sebesar 230.000 Ha, dan sasaran RHL difokuskan pada lahan kritis dalam kawasan hutan, di 65 Daerah Tangkapan Air (DTA) Waduk/Bendungan, 15 DAS Prioritas dan 15 Danau prioritas, serta daerah rawan bencana.

"Dua kebijakan utama dalam corrective actions dimaksud adalah, lokasi RHL harus berada di dalam kawasan hutan, dimana terdapat pengelola hutan atau pemangku hutan, serta tidak adanya pembatasan jenis tanaman RHL, yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan keinginan masyarakat", jelas Firman.

Ditambahkannya pula, pengelolaan kawasan hutan yang dimaksud bukan merupakan wilayah konsesi, akan tetapi merupakan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), kawasan konservasi, dan lokasi Perhutanan Sosial.

Sementara keberadaan pemangku kawasan dipandang Firman sangat penting, untuk mendukung optimalisasi pemantauan dan pemeliharaan penanaman. Pelibatan masyarakat dalam pemilihan jenis tanaman tanaman keras, maupun tanaman MPTS/HHBK, dimaksudkan agar pelaksanaan RHL berhasil.

"Pemilihan jenis tanaman ini merupakan implementasi perencanaan partisipatif, sehingga masyarakat diakomodir kebutuhannya, dan bersemangat untuk melakukan inovasi dalam penanaman", lanjut Firman optimis.

Dengan kemampuan rata-rata RHL melalui dana APBN sebesar 200.000 Ha per tahun, sedangkan target RHL per tahun adalah sebesar 1,1 juta, diakui Firman, memerlukan dukungan dari seluruh pihak, baik masyarakat, pemerintah daerah, maupun pihak swasta.

"Masyarakat harus dipandang sebagai aset sosial bukan sebagai perambah sehingga harus didayagunakan. RHL dirancang tidak hanya untuk tujuan ekologis tapi juga untuk tujuan ekonomi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, yaitu dengan pemanfaatan HHBK baik melalui skema perhutanan sosial maupun  kemitraan", tegasnya.

Masyarakat Konservasi Tanah dan Air (MKTI) merupakan organisasi profesi yang didirikan sejak 4 November 1998, sebagai wadah untuk menggalang perhatian, minat dan daya upaya anggota masyarakat dari berbagai lingkungan, bidang profesi dan tingkat keahlian, yang berkenaan dengan konservasi tanah dan air.

Mengusung tema "Menyongsong Keberhasilan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Tahun 2019", Workshop MKTI dilaksanakan oleh Balai PDASHL Citarum Ciliwung, dan dihadiri oleh kurang lebih 150 peserta, yang terdiri dari perwakilan Kementerian/lembaga, jajaran KLHK, pengurus MKTI, Kodam III Siliwangi, Kepala UPT Ditjen PDASHL seluruh Indonesia, instansi pemerintah daerah, dan akademisi.

"Melalui workshop ini, diharapkan akan diperoleh strategi-strategi prakondisi di lapangan, yang dapat mendukung keberhasilan dalam membangun hutan berbasis masyarakat", tutur Djonli, Kepala Balai PDAS HL Citarum-Ciliwung.



Sumber ( http://infonawacita.or.id/2018/08/02/rehabilitasi-hutan-dan-lahan-2019-menanam-dan-membangun-hutan/)

  >> Ke Indeks Berita 

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon