LIPI Ajarkan Metode Survei Tumbuhan dan Satwa Liar untuk Pengelola Ekosistem Hutan

Cipanas, Humas LIPI. Indonesia tercatat sebagai negara yang meratifikasi Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) dalam pengelolaan tumbuhan dan satwa liar agar mencegah terjadinya kepunahan. Sebagai pemegang scientific authority, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memiliki wewenang untuk memberikan rekomendasi pada management authority yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait status tumbuhan dan satwa liar. "LIPI berdasarkan hasil riset dapat memberikan masukan tentang status tumbuhan dan satwa liar terutama terkait perdagangan dan budidaya yang bisa mengancam keberadaannya di alam," ujar peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidy di Cipanas, Jawa Barat pada Senin (7/5) lalu.Amir mengatakan, jumlah tumbuhan dan satwa liar penting diketahui dan dihitung jumlahnya dalam kurun waktu tertentu. "Pengelola Ekosistem Hutan harus memahami misalnya bagaimana cara menghitung kodok di alam liar dan mengidentifikasi jenisnya. Metode ini bisa diajarkan dengan cara yang mudah dipahami oleh masyarakat awam," ungkapnya.

Menurut Amir, peneliti biasanya melihat tren perkembangan satwa liar di alam selama lima tahun terakhir. "Misalkan kuota perdagangan sebelumnya memperbolehkan sepuluh kodok yang dikomersilkan. Nanti akan dievaluasi lima tahun terakhir apakah jumlah itu merusak keberadaannya di alam," jelas Amir.
 
Lebih lanjut, Hellen Kurniati, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI memaparkan cara menghitung kodok di populasinya dengan metode transek atau area wilayah survey. "Transek sepanjang 300 meter dibentang di bagian tepi pematang sawah dengan mengikuti bentuk alur tepi pematang sawah. Tali rafia digunakan sebagai pengukur jarak transek. Tali rafia sepanjang 300 meter diberi nomor sebanyak 31 untuk menandakan jarak setiap 10 meter," terangnya.
 
Tali rafia dibentang satu jam sebelum sensus atau pengamatan, agar pada waktu sensus dimulai posisi kodok di mikrohabitatnya kembali ke posisi semula. "Kita biasanya melakukan pengamatan dengan berjalan perlahan menyusuri tepi pematang sawah antara pukul 19.00-24.00 di malam hari menggunakan lampu senter kepala yang bersinar kuat untuk menyilaukan matanya supaya kodok tetap diam ditempat sewaktu diamati atau ditangkap," jelas Hellen.
 
Selain itu, luas areal yang diamati adalah 2,5 meter ke kanan dan 2,5 meter ke kiri tepi pematang sawah. Kemudian setiap kodok yang dijumpai dicatat di atas lembar data. "Jumlah orang yang terlibat minimal tiga orang dalam satu bentangan transek dengan jalan selalu beriring dengan kecepatan yang sama. Jarak 100 meter dilakukan minimal selama satu jam sensus, penghitungan individu dan pengamatan," pungkas Hellen



Sumber ( http://lipi.go.id/berita/LIPI-Ajarkan-Metode-Survei-Tumbuhan-dan-Satwa-Liar-untuk-Pengelola-Ekosistem-Hutan/20503)

  >> Ke Indeks Berita 

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon