Hutan Mangrove, dari Penyedia Oksigen hingga Geliat Industri Kreatif

Di antara pembuatan kapal-kapal di sepanjang bantaran sungai Prajagumiwang dan sekitarnya, ada sisi lain yang berkaitan dengan lingkungan. Tambak-tambak ikan dan udang, memang sejak dulu. Tanaman mangrove kini menjadi sisi lain yang tumbuh bersama kesadaran masyarakat.

Realitas itu di kawasan pesisir itu seakan-akan menjadi gegas tersendiri. Para pembuat kapal terus menghasilkan karya. Nelayan-nelayan makin berhasil menjelajahi nusantara. Pelelangan ikan pun makin ramai. Di hamparan yang lain, para petambak juga menggenjot produksi ikan dan udang.

Panorama itu makin dilengkapi dengan pergerakan para pejuang lingkungan di pesisir itu. Mereka adalah warga yang memiliki kesadaran tetang pentingnya menyelamatkan lingkungan. Bagaimana agar tambak udang tidak terlalu jenuh oleh zat-zat kimia. Bagaimana pula agar ombak laut tidak menimbulkan abrasi maupun intrusi air laut ke daratan. 

Para pejuang lingkungan itu mengupayakan penanaman mangrove sejak satu dasawarsa lalu. Sekitar tahun 2007 beberapa tokoh masyarakat, seperti Tarika, Dulah, Ali Sodikin, Makrus, dll mengupayakan hal tersebut. Ber≠gerak bersama ribuan warga mangrove pun ditanam secara swadaya di sepanjang garis pantai, di garis depan tambak-tambak. 

Kini sudah menjelma hutan mangrove di sekitar pantai Karangsong, yang bahkan menjadi objek wisata yang menarik. Kawasan tersebut tampak dari kejauhan seperti landmark pantai yang terbebas dari abrasi, dengan tulisan Karangsong. 

"Adanya hutan mangrove itu merupakan sedekah oksigen bagi lingkungan. Sedekah oksigen itu harus ada, karena hasil oksigen dari mangrove lebih besar dari tanaman di darat, yakni satu berbanding lima," ujar Abdul Latif, pemilik Rumah Berdikari, yang bergerak dalam bidang proses pengolahan mangrove.

Mampu mengalihkan ketergantungan zat kimia

Perahu-perahu hilir-mudik di sisi hutan tersebut, yang merupakan muara sungai Prajagumiwang. Perahu-perahu itu menawarkan kepada para pengunjung untuk naik dan menikmati seputar hutan. Pemandu perahu yang merupakan nelayan setempat memberikan gambaran sepintas mangrove.

"Indah pemandangannya. Ada suasana lain di pesisir ini. Selain kapal-kapal dan proses pembuatannya, pelelangan ikan yang besar-besar, juga ada hutan mangrove," tutur seoang pengunjung, Aria bersama Roger.

Penanaman mangrove di kawasan pesisir sebelumnya pernah dilakukan Abdul Latif dkk di wilayah Pabean Udik pada tahun-tahun. Desa tersebut merupakan induk Desa Karangsong, sebelum Karangsong menjadi desa tersendiri.

"Saat itu sekitar tahun 2003 di Pabean Udik tambak-tambak udang dan bandeng seperti mengalami kejenuhan karena ketergantungan pada zat kimia. Akibatnya hasil panen gagal. Saat itu saya mulai menyadari pentingnya lingkungan tambak. Saya mengajak warga untuk melakukan penanaman mangrove. Alhamdulillah berhasil," tuturnya.

Keberhasilan itu bisa diukur dari tingkat kegairahan kembali hasil tambak. Ditambahkan Latif, juga ada kesadaran warga untuk melakukan keseimbangan lingkungan. Bukan hanya terpaku untuk menggejot produksi ikan. Bahkan pada tahun 2005 mereka secara swadaya melakukan penanaman 400.000 ≠bibit mangrove. 

Dalam pandangannya, kini masyarakat mulai menyadari keseimbangan itu, yakni perlu≠nya memperhatikan sisi ekologi, sosial, budaya, di samping ekonomi. "Kini beberapa teman menggarap ekologi, yakni pada kawasan hutan mangrove. Sedangkan saya dengan Rumah Berdikari menangani proses peng≠olahan dari mangrove," ungkapnya.

Hasil pengoalahan itu sudah banyak, seperti berupa makanan, minuman, obat-obatan, fungisida, insektisida, pakan ternak. Seluruhnya dari pohon mangrove itu. Mangrove bisa diolah untuk menghasilkan sesuatu memang sebelumnya tak populer. Banyak masyarakat yang tak mengetahui. Berdasarakan percobaan dan usaha coba-coba dari Abdul Latif dan Rumah Berdikari, ternyata ada hasilnya.

Dibuat berbagai barang konsumsi

Ditambahkan Tasuka, humas Rumah Berdikari, sampai kini sudah banyak jenis yang dihasilkan. "Sirup, masker, lulur, kecap, mi≠numan semacam kopi, pakan ternak, pakan ikan, obat herbal, obat untuk tanaman itu di antaranya. Bahkan wine pun bisa," ungkap Latif yang sudah berkecimpung dalam seluk-beluk mangrove sekitar 15 tahun. 

Salah satu produksi minuman ringan ber≠nama wedang pesisir mangrove Jackie Gold, yang diproduksi Rumah Berdikari. Diolah dari biji pedadah, salah satu tanaman mangrove. Minuman itu terasa segar dengan rasa asam bercampur manis.

Proses pengolahan sampai dengan hasil jadi ternyata bukan dari peniruan. Latif melakukannya dengan percobaan yang terus-menerus. Bahkan bisa juga dikatakan sebagai coba-coba. Misalnya pada produk berupa ≠lulur. Beberapa kali ia mencobanya, dengan hasil lulur itu membuat gatal-gatal di kulit. "Tetapi kini sudah berhasil. Lulur itu mampu memberi khasiat bagi badan," tuturnya lagi. 

Abdul Latif menjelaskan, di dunia terdapat 200-an jenis tanaman mangrove, dan 117 jenis di antaranya berada di Indonesia. Diungkapkannya, "Jenis yang ada di Indonesia itu, 60% di antaranya terdapat di Indramayu, termasuk juga di Pulau Biawak. Ada tiga jenis mangrove, yakni mangrove mayor, minor, dan asosiasi."

Dia kemudian menyebutkan beberapa tanaman yang tergolong mangrove mayor atau inti, seperti bakoan, api-api, pidada, jembatu, nipah atau daon. Rumah Berdikari yang ia dirikan berusaha terus melakukan proses pengolahan dari mangrove. Termasuk juga ide-ide kreatif, seperti berupa kerajinan tangan.

Muatan lokal mangrove di sekolah

Kini Bahkan kini sisi edukasi juga dilakukan. Mulai tahun ini mangrove masuk mata pelajaran muatan lokal di Sekolah Dasar yang terletak dikawasan pantai di Kab. Indramayu. "Bulan kemarin saya diminta untuk menjadi narasumber pelatihan bagi guru-guru SD di kawasan pesisir. Saya bagian proses ≠mangrove, sedangkan Tarika bagian ekologinya," ungkap Latif.

Menurut Suherna, salah Pengawas SD di Kab Indramayu, mulok mangrove diterapkan di beberapa kecamatan yang memiliki pesisir, seperti Pasekan, Indramayu, Balongan, Juntinyuat. Di wilayah tersebut kini ada tiga pelajaran mulok, yakni Pendidikan Budi Pekerti, Bahasa Indamayu, dan Mangrove.

Kesadaran ekologi terhadap mangrove makin menampakkan kegairahan baru bagi warga sekitar. Adanya obyek wisata hutan mangrove minimal mampu menyedot tenaga kerja, seperti para pemandu, tukang perahu yang mengantar ke kawasan hutan mangrove, para pedagang, dan tukang parkir.

Demikian pula pada proses pengolahan. Ada secercah harapan dari mangrove bisa diproduksi beberapa hasil, berupa makanan, minuman, obat-obatan, bahkan juga pakan ternak. Sebelumnya hal itu tidak terbayangkan.



Sumber ( http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2018/09/11/hutan-mangrove-dari-penyedia-oksigen-hingga-geliat-industri-kreatif-429992)

  >> Ke Indeks Berita 

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon