Jum'at, 4 Januari 2008
Sejarah dan Fakta Menarik Kawasan Konservasi di Indonesia

Trubus.id -- Alam Indonesia sangat kaya. Ekosistemnya beragam, ada hutan, laut, savana, danau dan rawa, dataran rendah, dataran tinggi, gunung dan sebagainya. Kemudian jenis tumbuhan dan satwa di setiap ekosistem tersebut sangat beraneka ragam. 

Bahkan, tumbuhan dan satwa khas wilayah tropis banyak di antaranya yang hanya ada Indonesia. Karena keanekaragaman hayati yang tinggi itulah Indonesia lekat dengan sebutan "Megadioversity" 

Kekayaan alam berikutnya adalah panorama alam, indah dan unik seperti danau, gunung, laut, air terjun, pantai, terumbu karang lekat dalam nuansa keindahan.

Permasalahannya, semua keragamaman dan keindahan rentan terhadap gangguan yang menyebabkan perubahan struktur maupun perubahan biofisik lainnya yang menyebabkan rentetan kehancuran lainnya.  Itulah kenapa dasar konservasi menjadi penting untuk diterapkan. 

Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno mengatakan, kawasan konservasi adalah suatu wilayah yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan konservasi yang dilindungi agar kondisinya tetap lestari.  Suatu wilayah dijadikan sebagai kawasan konservasi karena memiliki keunikan dan kekhasan serta peranan yang penting bagi lingkungan di sekitarnya. 

"Jika dikelompokan sesuai fungsinya, kawasan konservasi itu ada tiga, kawasan pelestarian alam, kawasan suaka alam, dan taman buru. Kawasan pelestari alam dibedakan menjadi tiga taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya. Sedangkan kawasan suaka alam dibagi menjadi cagar alam, suaka margasatwa," Jelas Wiratno, di Jakarta, Selasa (10/7)

Sebelum mengenal jenis-jenis kawasan konservasi, ada baiknya mengenal sejarah kawasan konservasi di Indonesia

Sejarah Kawasan Konservasi di Indonesia

Sejarah konservasi Sumber Daya Alam Indonesia secara sederhana dibagi menjadi tiga periode, yaitu :  zaman kerajaan nusantara, zaman kolonial, dan zaman kemerdekaan.

Pada zaman kerajaan nusantara, sebelum abad ke-15, tradisi sakral sangat mewarnai segenap kehidupan masyarakat.  Kehidupan masyarakat waktu itu sangat kental dengan kepercayaan mistis dan kekuatan alam, yang terwujud dalam penabuhan benda-benda, pendirian situs-situs, dan tindakan tertentu. 

Misalnya, terdapat larangan dalam masyarakat untuk tidak mengambil jenis-jenis pohon atau batu-batu tertentu, larangan memasuki kawasan tertentu, seperti gunung, rawa, ataupun hutan yang dianggap keramat.

Pada waktu itu hubungan antara manusia dengan alam atas dasar membangun hubungan yang harmonis.  Alam dianggap sebagai sesuatu yang suci (sacred), yang dapat memberikan berkah bagi kehidupan. Para raja menjalankan ritual-ritual berupa penghormatan kepada penguasa alam yang diyakininya dengan mendirikan tempat pemujaan dewa-dewa dan roh-roh leluhur.

Di zaman kolonial Belanda, praktek pelestarian alam tidak dapat terlepas dari dua peristiwa kecil.  Pada 1714, Chastelein mewariskan dua bidang tanah persil seluas 6 ha di Depok kepada para pengikutnya yang  digunakan sebagai Cagar Alam (Natuur Reservaat).  Chastelein mengharapkan agar kawasan tersebut bisa dipertahankan, tidak dipergunakan sebagai arela pertanian. 

Selanjutnya, pada 1889 berdasarkan usulan Direktur Lands Plantentuin (Kebun Raya) Bogor, kawasan hutan alam Cibodas ditetapkan sebagai tempat penelitian flora pegunungan, yang kemudian diperluas hingga pegunungan Gede dan Pangrango pada 1925.

Wacana konservasi kembali muncul pada akhir abad 19, tepatnya pada 1896, dimana saat itu pemerintah kolonial belanda mendapat tekanan dari luar Hindia Belanda tentang penyelundupan burung cendrawasih secara liar.

Pada saat itu, seorang entomology amatir M.C. Piepers yang juga mantan pegawai Departemen hukum Hindia Belanda mengusulkan agar tindakan perlindungan burung cendrawasih serta beberapa flora dan fauna lainnya yang terancam punah.  Ia menyarankan agar dibuat suatu taman nasional seperti Yellowstone National Park yang secara resmi melindungi spesies-spesies terancam punah.

Tekanan untuk kejadian burung-burung cendrawasih tersebut kemudian melahirkan undang-undang Perlindungan Mammalia liar dan Burung Liar yang dikeluarkan pada 1910.  Undang-undang tersebut berlaku di seluruh Indonesia.

Pada 1912 pernah didirikan Nederlands Indische Vereniging tot Natuur Bescherming (perhimpunan Perlindungan Alam Hindia Belanda) oleh Dr. S.H. Koorders dkk.  Kemudian, pada 1913 perhimpunan ini berhasil menunjuk 12 kawasan yang perlu dilindungi di Pulau Jawa.  Setelah dilanjutkan dengan penunjukan kawasan lindung di pulau jawa hingga Sumatera dan Kalimantan.

Tonggak sejarah baru dimulai pada 1932, dengan diundangkannya Natuur Monumenten Ordonatie atau Ordonasi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa.  Ordonasi ini kemudian diterbitkan oleh Peraturan Perlindungan Alam.  Pada tahun tersebut mulai dimungkinkan adanya kegiatan di kawasan konservasi dengan izin, misalnya berburu di taman alam.

Selama pendudukan Jepang (1942 - 1945) secara umum kondisi perlindungan alam di Indonesia kurang diperhatikan.  Sebelumnya, dalam sejarah pengelolaan jati di Jawa oleh Belanda, pada 1929 telah berhasil menata 31 unit wilayah pengelolaan hutan seluas 627.700 ha.  Namun pada saat pendudukan Jepang, telah terjadi eksploitasi besar-bearan dan merugikan. 

Tercatat pada tahun 1944, kayu jati telah ditebang mencapai 120.000 - 150.000 m3 untuk membuat kapal. Kayu-kayu dari hutan juga banyak dibakar guna mendukung pabrik-pabrik yang menggerakan kereta api.  Pada masa tersebut, Jepang banyak menguras hutan jati di Jawa untuk keperluan perang Asia Timur Raya.

Setelah kemerdekaan, pada 1947 upaya perlindungan alam dimulai kembali, yakni dengan penunjukan Bali Barat sebagai suaka alam baru atas prakarsa dari Raja-raja Bali Sendiri. Setelah itu, pada 1950 Jawatan Kehutanan RI mulai menempatkan seorang pegawai yang khusus diserahi tugas untuk menyusun kembali urusan-urusan perlindungan alam.

Pada tahun 1955, F. J. Appelman seorang rimbawan senior Indonesia menulis artikel tentang konservasi alam di Indonesia dalam majalah kehutanan Tectona.

Perhatian pemerintah mulai timbul lagi sejak tahun 1974, diawali oleh kegiatan Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam yang berhasil menyusun rencana pengembangan kawasan-kawasan konservasi di Indonesia dengan bantuan FAO/UNDP (Food and Agriculture Organization of the United Nations Development Programme), dan usaha penyelamatan satwa liar yang terancam kepunahan dengan bantuan NGO.

Pada waktu pertemuan teknis IUCN (International Union for The Conservation of Nature and Natural Resources) ke-7 di New Delhi, India pada tanggal 25-28 November 1969, Indonesia mengirimkan beberapa utusan, diantaranya adalah Ir. Hasan Basjarudin dan Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng.

Pada konferensi tersebut wakil dari Indonesia menyampaikan makalahnya dengan judul "Suaka Alam dan Taman Nasional di Indonesia: Keadaan dan permasalahannya" dan "Pendidikan Konservasi Alam di Indonesia". Kedua makalah tersebut mendapat tanggapan positif dari peserta konferensi, sehingga perhatian dunia luar terhadap kegiatan konservasi alam di Indonesia semakin meningkat.

Pada tahun 1982 di Bali diadakan Kongres Taman Nasional Sedunia ke-3 yang melahirkan Deklarasi Bali. Terpilihnya Bali sebagai tempat kongres mempunyai dampak yang positif bagi perkembangan pengelolaan hutan suaka alam dan taman nasional di Indonesia. 

Pada tahun 1978 tercatat tidak kurang dari 104 jenis telah dinyatakan sebagai satwa liar dilindungi. Pada tahun 1985, keadaannya berubah menjadi 95 jenis mamalia, 372 jenis burung, 28 jenis reptil, 6 jenis ikan, dan 20 jenis serangga yang dilindungi.

Kemajuan kegiatan konservasi alam di Indonesia juga banyak dirangsang oleh adanya World Conservation Strategy, yang telah disetujui pada waktu sidang umum PBB tanggal 15 Maret 1979. Pada tahun 1983 dibentuk Departemen Kehutanan, sehingga Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam statusnya diubah menjadi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) yang tugas dan tanggung jawabnya semakin luas.

Di fakultas-fakultas kehutanan dan biologi sudah mulai diajarkan ilmu konservasi alam dan pengelolaan satwa liar. Bahkan di beberapa fakultas kehutanan sudah dikembangkan jurusan Konservasi Sumber Daya Alam.

Dari segi undang-undang dan peraturan tentang perlindungan alam juga banyak mengalami kemajuan, beberapa undang-undang dan peraturan peninggalan pemerintah Hindia Belanda, telah dicabut dan diganti dengan UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dan pada tahun 1990-an mulai banyak berdiri LSM di Indonesia yang menangani tentang konservasi alam.

Tiga Jenis Kawasan Konservasi

Kawasan Konservasi pada dasarnya memiliki memiiki fungsi sebagai sistem penyangga kehidupan. Dengan kondisi dan potensi alamnya, tempat ini dijadikan konservasi dengan fungsi tertetu. 

Kawasan Suaka Alam 

kawasan Suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah penyangga kehidupan. Kawasan konservasi yang termasuk kawasan suaka alam adalah: 

A. Cagar  Alam 

Cagar alam merupakan kawasan konservasi tertua di Indonesia. Telah ada sejak zaman kolonial Belanda dengan nama "Natuurmonumenten". Saat ini di Indonesia terdapat 219 cagar alam yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia 

Kawasan dijadikan cagar alam karena di wilayah tersebut terdapat keunikan jenis tumbuhan. Sebagai contoh Cagar Alam Panunjang Pangandaran, Jawa Barat yang mempunyai habitat bunga langka Raflesia patma. 

Selain itu, kondisi alam yang khas dan unik juga dapat menjadi dasar suatu kawasan dijadikan sebagai cagar alam, contohnya Cagar Alam Pulau Krakatau di Selat Sunda. 

Beberapa Cagar alam yang kini sudah dikembangkan menjadi taman nasional contohnya Cagar Alam Bantimurung Bulusarsaraung dengan ciri kondisi alamnya yang khas berupa goa-goa karst. 

B. Suaka Margasatwa

Alasan suatu kawasan dijadikan sebagai suaka margasatwa adalah karena di dalamnya hidup jenis satwa endemik dan dilindungi. Contohnya, Harimau Sumataera, Badak Jawa, Badak Sumatera, Gajah Sumatera, Maleo, Anoa, Tarsius dan jenis satwa lainnya. Di Indonesia saat ini terdapat 72 Suaka Margasatwa.

Beberapa contoh Suaka Margasatwa antara lain SM Pulau Rambut di Jakarta menjadi tempat berbagai jenis burung.

SM Dangku di Sumatera Selatan menjadi tempat habitat  Harimau Sumatera dan SM Cikepuh, Jawa Barat yang menjadi tempat bertelurnya Penyu Hijau

Kawasan Pelestarian Alam

Apa bedanya  kawasan pelestarian alam dengan kawasan suaka alam? Ada tambahan dalam definisi kawasan pelestarian alam yaitu pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 

Namun, ini bukan berarti bahwa sumber daya alam di kawasan suaka alam tidak boleh dimanfaatkan. Boleh, tetapi sangat dibatasi.

Misalnya untuk penelitian tumbuhan dan satwa. Di kawasan pelestarian alam kegiataan pemanfaatan bersifat lebih luas meskipun tetap dalam batasan tertentu. Misalnya pemanfaatn untuk kegiatan wisata alam, pemanfaatan air dan pemanfaatan panas bumi. 

Namun, itupun tetap hanya dapat dilakukan di tempat-tempat yang telah ditetapkan sebagai zona pemanfaatan selain dari lokasi tersebut tidak diperbolehkan. 

Pada kawasan pelestarian alam juga dapt dilakukan pembangunan sarana wisata alam oleh perusahaan swasta, namun tentunya harus yang telah mendapatkan izin dari pemerintah. 

Kawasan konservasi yang termasuk kawasan pelestari alam adalah 

A. Taman Nasional 

Taman Nasional adalah kawasan pelestari alam yang memiliki ekositem asli dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan penelitian, pengetahuan, pendidikan menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.Ada yang berupa hutan, laut, danau, rawa, savana atau gabungan dari beberapa ekosistem tersebut. 

Taman Nasional dapat dikatakan sebagai kawasan konservasi yang memiliki fungsi paling lengkap dibandingkan kawasan konservasi lainnya.  Sistem zonasi menjadi gambaran kelengkapan fungsi tersebut. 

Ada zona inti yang tidak bisa dimasuki sembarangan, ada zona rimba yang bisa dimasuki untuk beberapa kegiataan tertentu dan juga ada zona pemanfaatan di mana didalamnya dapat dilakukan beberapa kegiataan pemanfaatan seperti wisata alam dan rekreasi.

B.Taman Wisata Alam 

Di indonesia saat ini terdapat 118 taman wisata alam. Nama tersebut bukan berarti seluruh kawasannya dapat digunakan untuk kegiataan wisata. Hanya pada lokasi lokasi yang telah ditentukan saja pengunjung dapat masuk untuk berwisata. Selebihnya adalah wilayah yang dijaga  agar tidak terganggu aktivitas manusia. 

C Taman Hutan Raya

Kawasan konservasi ini terutama ditunjukan sebagai tempat koleksi tumbuan atau satwa. Artinya di taman hutan raya dapat ditumbuhi jenis-jenis tumbuhan atau satwa yang berasal dari seluruh Indonesia. Selain bermanfaat untuk memelihara keanekaragaman hayati Indonesia. Koleksi tumbuhan dan satwa tersebut dapat digunakan untuk penelitian. 

Taman Buru 

Taman Buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu. Artinya di kawasan tersebut dapat dilakukan kegiatan berburu, namun tentunya tidak sembarangan. Satwa yang diburu dibatasi pada jenis, umur dan jumlah tertentu yang sudah ditentukan. Di Indonesia saat ini terdapt 11 taman buru. [KW]



Sumber  : https://life.trubus.id/baca/19033/sejarah-dan-fakta-menarik-kawasan-konservasi-di-indonesia
Penulis  :
File  : ---
Telah Dibaca  : 336 Kali

  >> Ke Indeks Sorotan Kita 

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon