AGROFORESTRI JALAWURE (Tacca leontopetaloides) : Model Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari dan Sumber Pangan Alternatif

Suhartono

Balai Penelitian danPengembangan Teknologi Agroforestry - Jl. Ciamis-Banjar Km. 4 Pamalayan CiamisEmail: har436@gmail.com Hp. 085229097072 

Kelestarian hutan dan ketahanan pangan seringkalimenjadi isu penting pada saat muncul masalah kerusakan hutan. Perilaku sebagianmasyarakat sekitar kawasan yang kurang menjaga hutan selalu dikaitkan dengankekurangan pangan. Terkait hal tersebut perlu dicari teknologi pemanfaatkanhutan yang medukung ketahanan pangan tanpa menimbulkan kerusakan hutan. Pembangunanhutan rakyat bisa menjadi solusi untuk menekan terjadinya alih fungsi kawasan hutansecara berlebihan. Perkembangan luashutan rakyatyang signifikan menjadi potensi untuk pengembangan jenis-jenissumber pangan alternatif yang tahan hidup di bawah tegakan.

Keanekaragaman hayatiIndonesia yang cukup besar menjadi potensi dan peluang untuk mendukungdiversifikasi pangan. Ada beberapa jenis penghasil pangan yang mampuberadaptasi dengan naungan dapat dimanfaatkan untuk sumber karbohidrat danpengganti tepung misalnya umbi-umbian. Salah satu jenis umbi-umbian yangmemiliki potensi sebagai pengganti tepung adalah Tacca leontopetaloides atau umbi taka.

Di Garut Jawa Barat tumbuhantaka dikenal dengan nama jalawure, tumbuh menyebar di pesisir pantai selatandibawah naungan pandan dan pohon ketapang. Penduduk setempat telah mengenal danmemanfaatkan umbinya menjadi sumber pangan alternatif pengganti tepung walaupunmasih terbatas. Walaupun sudah dimanfaatkan sebagai sumber pangan namun hinggasaat ini belum dibudidayakan secara khusus. Salah satu penyebabnya karena umbijalawure belum memiliki pasar yang jelas. Jalawure merupakan salah satu spesiesyang hendak dipromosikan sebagai bahan pangan alternatif berbasis komoditasyang dapat beradaptasi pada lahan pertanian di masa datang.

Apa itu jalawure...?

Jalawure merupakan salah satu spesies tumbuhanherba penghasil umbi yang dapat ditemui di daerah pantai beberapa pulau diIndonesia hingga ketinggian 220 m dpl, umumnya memiliki 2 umbi yaitu umbi empudan umbi anak. Asal usul jenis ini tidak diketahui dengan pasti. DiIndonesia, Tacca leontopetaloidessecara umum dikenal dengan nama umbi taka, kecondang (Jawa Tengah dan JawaTimur), jalawure (Garut, Jawa Barat), taka (Sumatra).

Jalawure mampu hidup pada berbagai tekstur tanah,tetapi terbaik pada tanah yang didominasi pasir. Habitat alaminya ada diwilayah pesisir tropis, tipe vegetasi pantai dengan ketinggian di bawah 200 m dpl,namun secara kebetulan juga didapatkan di ketinggian sampai 1100 m dpl. Jalawuresering kali dijumpai dalam kelompok kecil di tepi pantai, padang rumput, padangalang-alang, savana atau tumbuh berasosiasi dengan jenis-jenis cemara, pandan,ketapang dan eucalyptus.

Secara taksonomi taka termasuk dalam KingdomPlantae, Filum Tracheophyta, Kelas Liliopsidae, Ordo Liliales, FamiliDioscoreaceae, Genus Tacca, Spesies Taccaleontopetaloides (L.) Kuntze. Jalawure merupakan herba tegak dengan tinggi1,5-2,0 m, tidak berkayu dan tidak bercabang,memiliki bungadan umbi. Tumbuhan ini berakar serabut dan memiliki umbi yang berbentuk bulatagak melebar, kulit umbinya tipis dan halus. Kulit umbi muda berwarna putih danketika sudah tua akan berubah menjadi abu-abu tua kecokelatan. Daunnya memilikipelepah melekat pada batang, berwarna hijau muda berbintik putih kehijauan atauungu kehitaman. Cara reproduksinya dapat secara vegetatif (umbi) atau reproduktif(biji). Perbungaan menyerupai payung dengan jumlah bunga 20-40 buah.



Sumber: Http//Google.com

Gambar1. Morfologi Jalawure (a=umbi, b=anakan, c=batang dan daun, d= bunga)

 

Apa manfaat jalawure..?

Di Indonesia jalawure masih dianggap sebagai komoditaskurang memiliki nilai ekonomis, sehingga belumdibudidayakan secara intensif. Umbi jalawure tidak dapat dikonsumsi langsung karenarasanya yang pahit. Namun demikian, sebagian masyarakat di Desa Cigadog KecamatanCikelet Kabupaten Garut sudah memanfaatkan umbi jalawure yang diperoleh darialam diolah menjadi tepung untuk pembuatan olahan pangan.

Kegunaan jalawure di berbagai daerah sangatbervariasi, mulai dari pakan ternak, bahan pangan, kosmetik, hingga bahananyaman. Tepungnya sering dijadikan bahan dasar pembuatan kue karena kandungankarbohidratnya lebih tinggi dibanding dengan tepung terigu. Rasa pahit dankandungan racun pada kulit umbi dapat diatasi dengan mengupas dan mencuci umbihingga bersih, kemudian dimasak atau dibuat tepung.

Tabel 1. Kandungan giziumbi jalawure

No.

Jenis Gizi

Kandungan

1.

Lemak

0,43 - 1,90%

2.

Protein

6,73 - 7,84%

3.

Karbohidrat

77,09 - 82,65%

4.

Kadar Abu

2,67 - 2,71%

5.

Energi

352,36 - 365,83 Kkal / 100g

6.

Serat kasar

0,41 - 0,60%

7.

Magnesium

173,50 - 173,67 mg / 100g

8.

Besi

besi 4,00 - 8,69 mg / 100g

9.

Kalsium

69,89 - 87,72 mg / 100g

10.

Kalium

904,86 - 966,74 mg / 100g

11.

Fosfor

222,59 - 270,46 mg / 100g

Sumber: Susiarti (2015)

 

Sepertihalnya di Kecamatan Cikelet, masyarakat Pulau Kangean sudah mengenal jalawuredan memanfaatkan umbinya sebagai bahan pangan pengganti tepung terigu dalampembuatan berbagai penganan seperti bubur, serpot (semprit) dan eped-eped(dadar). Sementara di Kabupaten Belitung tepung nubong (jalawure) dimanfaatkansebagai pengganti tepung terigu untuk bahan pembuat kue, roti atau mie. Hasilolahan makanan yang menggunakan tepung nubong memeiliki cita rasa tidak kalahdengan tepung terigu, bahkan dapat lebih enak.

Di Kecamatan CikeletKabupaten Garut, umbi jalawure dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membuat kue,baik kue basah maupun kue kering. Pembuatan kue dari tepung jalawure masihterbatas untuk konsumsi keluarga. Tepung jalawure banyakdigunakan masyarakat saat menghadapi hari raya Idul Fitri dan perayaan hajatan. Tepung tersebutdiperoleh dari umbi jalawure yang tumbuh alami di pesisir Pantai Garut Selatan.

 

Percobaan penanaman jalawure di bawahtegakan hutan rakyat

Untuk mengetahui respontanaman tertentu pada kondisi lingkungan yang berbeda biasanya dilakukankegiatan uji lapang di beberapa agroekologi. Begitu pula jalawure yang memilikihabitat asli pada tanah berpasir, untuk mengetahui apakahcocok ditanam secara agroforestri perlu dicoba diadaptasikan dilingkungan yang berbeda dengan habitat asalnya. 

Di pesisir pantai Garutbagian selatan jalawure banyak tumbuh secara alami. Penduduk sekitar sudahmengenal tumbuhan ini sebagai bahan pangan alternatif pengganti tepung.Ketersediaannya di alam menjadi potensi sebagai sumber benih apabila tumbuhanini akan dibudidayakan. Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Cikelet telah mencoba membudidayakan jalawure secaraterbatas pada area terbuka namun pertumbuhan tanaman tidak sebaik jalawure yangtumbuh di bawah naungan pandan atau ketapang. Pada lahan terbuka jalawuretumbuh kurang maksimal, daunnya cepat menguning dibanding dengan yang tumbuhdibawah naungan.



Foto: Dokumentasi pribadi
Gambar 2. Pertumbuhan jalawure pada lahan terbuka

           

Salah satu kelompok tani di Desa Cigadog bekerjasama dengan Balai penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry mencobamendomestikasi jalawure di lahan hutan rakyat jati dengan beberapa perlakuansilvikultur seperti pengolahan tanah, pemeberian pupuk dan pengaturan jaraktanam. Bahan tanaman yang digunakan adalah umbi anak yang diperoleh darihabitat aslinya. Secara umum jalawure dapat tumbuh dengan baik di bawah tegakanjati dengan persentase tumbuh mencapai 70%. Untuk produktivitas umbi yangdihasilkan belum diketahui karena masih dalam proses penelitian.



Foto: Dokumentasi pribadi
Gambar2. Pertumbuhan jalawure dibawah tegakan jati

 

Bagaimana potensi pasarnya..?

Masyarakat di Kecamatan Cikelet belum tertarikuntuk membudidayakan jalawure secara khusus karena tanaman ini dinilai belummemiliki pangsa pasar yang jelas. Disamping itu waktu pengolahannya cukup lama.Namun demikian, sebagian masyarakat di Desa Cigadog Kecamatan Cikelet sudahmemanfaatkan umbi jalawure walaupun hanya pada musim tertentu seperti harilebaran. Masyarakat Desa Cigadog biasanya memungut umbi jalawure dari habitataslinya di pesisir pantai kemudian diolah menjadi tepung. Tepung inilah yang kemudiandiolah menjadi aneka olahan kue untuk keperluan lebaran. Menjelang musim perayaanlebaran, harga tepung jalawure dapat mencapai Rp. 25.000/kg. Walaupun harga tepungjalawure sangat tinggi, pada momen tertentu tepung ini banyak dicari olehpembeli. Hal ini menunjukkan bahwa tumbuhan jalawure yang selama ini dianggap komoditas minor memiliki potensi untukdikembangkan karena memiliki nilai manfaat yang cukup tinggi.

 

Peran agroforestry untuk kelestarian hutan

            Prinsip penanaman agroforestriadalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan dengan kombinasi jenis tanaman umurpanjang (kayu-kayuan) dan tanaman umur pendek (semusim). Tujuan yang ingindicapai dari pola penanaman ini adalah untuk meningkatkan produktivitas lahandan kelestariannya. Dengan diterapkannya pola tanam agroforestri diharapkanpemilik lahan dapat memperoleh hasil yang lebih dibanding dengan pola tanammonokultur kayu atau tanaman semusim. Melalui pola agroforestri akan terbentuktutupan tajuk yang multi strata. Adanya multi strata tajuk hutan dapat menahanair hujan langsung jatuh ke tanah sehingga dapat mengurangi terjadinya bahaya aliranpermukaan dan erosi. Selain tujuan produktivitas dan kesinambungan fungsihutan, yang terpenting adalah sistem agroforestri tersebut dapat diadopsi olehmasyarakat. Artinya sistem agroforestri yang dilaksanakan sesuai dengannorma-norma sosial yang ada di masyarakat.

Padasistem agroforestri, selain produksi kayu petani juga memperoleh hasil jangkapendek dari tanaman semusim. Adanya hasil jangka pendek yang diperoleh petani akanberpotensi merubah daur panen tanaman hutan (kayu) menjadi semakin panjang. Dengandemikian volume produksi kayu saat panen dapat lebih optimal karena tidak lagiterjadi penebangan karena kebutuhan. Hal ini selain menambah pendapatan petani,juga dapat meningkatkan potensi kelestarian hutan rakyat.



Sumber  : Surili Edisi 74
Penulis  :
File  : ---
Telah Dibaca  : 40 Kali

  >> Ke Indeks Sorotan Kita 

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon


Home   Contact   Email   LogIn



Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat