Budidaya Kapulaga : Kegiatan di Hutan Rakyat yang Memberdayakan Masyarakat Desa Kalijaya, Kabupaten Ciamis

Oleh

Suyarno,S.Hut

(BalaiPenelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry, Ciamis)

Pendahuluan

A.Compactum, yang di Indonesia dikenal sebagai kapulaga, memiliki beberapanama lokal diantaranya, kapulogo (Jawa), kapol (Sunda), karkolaka(Bali),

dangaridimong (Sulawesi Selatan). Tanaman kapulaga saat ini ditanam dan dihasilkansecara komersial terutama di Jawa Barat dan Sumatera bagian selatan

Sebagai tanaman yang telah dibudidayakan secara komersial di Jawa Barat,kapulaga secara umum dibudidayakan di bawah tegakan tanaman pokok. Sebagaitanaman bawah kapulaga mempunyai banyak manfaat baik secara  ekologi maupun ekonomi. Secara ekologi sangatbermanfaat diantaranya untuk menahan erosi dan meningkatkan infiltrasi air tanah. Manfaat ekonomi kapulaga secara umumsudah dirasakan oleh petani karena harga yang cukup tinggi. Pada tahun 2018kisaran harga kapulaga kering Rp. 80.000 - 120.000,-/kg.

Harga yang cukup tinggimenjadi salah satu faktor yang menyebabkan kapulaga banyak di budidayakan olehmasyarakat hampir di seluruh Jawa Barat. Faktor lainnya yaituperkembangan hutan rakyat dengan tanaman pokok sengon, karena kapulaga dapattumbuh baik dengan salah satunya di bawah tegakan sengon. Perpaduan sengon dengan kapulaga berpotensimenimbulkan interaksi positif sebab sebagai jenis legum sengon mampu mengikat Nbebas untuk peningkatan kesuburan tanah dan disisi lain kapulaga memerlukannaungan (Indrajaya dan Sudomo, 2013).

         Budidayatanaman kapulaga hampir merata di Jawa Barat termasuk di Desa Kali JayaKecamatan Banjar Anyar, Kabupaten Ciamis. Budidaya kapulaga di Desa Kalijaya telahmembudaya dan menjadi salah satu kegiatan yang memberdayakan masyarakat. Tulisanini bertujuan untuk menginformasikan kegiatan budidaya kapulaga di DesaKalijaya dan peranannya dalam pemberdayaan masyarakat. 


BudidayaKapulaga di Desa Kalijaya

            Mayoritaspetani di Desa Kalijaya berdasarkan hasil survey dan wawancara, membudidayakankapulaga di bawah tegakan sengon sebagai tanaman pokok.  Sengon merupakan jenis tanaman kayu utama yangbanyak dibudidayakan di Desa Kalijaya. Alasan pemilihan sengon diantaranyaadalah pertumbuhannya yang cepat dan pemasarannya. Hal ini sejalan denganAchmad et al. a (2009) yang menyatakanbahwa hutan rakyat dengan jenis sengon merupakan jenis kayu terbesar  yang dihasilkan dari hutan rakyat mengisihampir 50% kayu rakyat di Kabupaten Ciamis

            Hutanrakyat sudah dibudidayakan oleh petani di Desa Kalijaya sejak dulu dan bersifatturun menurun. Berdasarkan hasil wawancara diketahui informasi bahwa secaraumum petani membudidayakan hutan rakyat dengan pola yang sudah ada sebelumnyanamun dengan perbaikan-perbaikan dari segi pemilihan jenis tanaman untuktanaman pokok maupun pengisi dan kegiatan pemeliharaan.

Diniyati et al. (2010) menyebutkan bahwa lahan di Desa kalijaya palingbanyak digunakan untuk hutan rakyat sebagaimana tertera pada Tabel 1. Hutanrakyat di Kalijaya berkembang selain karena adanya bantuan dari berbagaiprogram pemerintah juga karena kesadaran petani untuk menanam pohon secaraswadaya.


Tabel 1 . Penggunaan Lahan di Desa Kalijaya

No

Penggunaan Lahan

Luas (ha)

% dari luas wilayah

1.

Hutan Rakyat

12.420

53

2.

Sawah

1.617

7

3.

Pekarangan dan Rumah

725

3

4.

Kolan ikan

141

1

5.

Lainnya

8.365

36

Sumber : Diniyati et al, 2010.



Meningkatnyabudidaya sengon di Desa Kalijaya berbanding lurus dengan  berkembangnya budidaya kapulaga sebagaitanaman bawah yang menjadi pilihan petani. Budidayakapulaga di Desa Kalijaya berkembang baik dari segi luasan maupun jumlah petaniyang membudidayakannya. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktordiantaranya :

1.   Bibit mudah diperoleh

Masyarakatdi desa Kalijaya dapat dengan mudah memperoleh bibit kapulaga dari petani didesanya yang terlebih dahulu membudidayakan kapulaga.

2.   Tanaman mudah dibudidayakan

Berdasarkanhasil survey dan wawancara, petani cukup mudah membudidayakan kapulaga karenatidak memerlukan perlakuan khusus. Kapulaga dirasa mudah untuk dibudidayakansejak penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. 

3.   Kapulaga mudah dijual 

MasyarakatDesa Kalijaya mudah untuk menjual hasil panen kapulaga karena terdapat banyakpembeli yang berada di desa mulai dari warung, ranting dan bandar.

4.   Kapulaga tidak mudah busuk

Kapulaga yang sudahdikeringkan tidak mudah busuk dan dapat bertahan lama.

Disamping faktor tersebut, sifatlegum dari sengon bisa menyuburkan tanah dan daun sengon yang kecil pada saat  berguguran tidak mengganggu proses pembungaandan pembuahan dari kapulaga. Jenis tanaman daun lebar relatif kurang cocokmenjadi tanaman naungan bagi kapulaga. Penelitian Sudomo dan Handayani (2013),menunjukkan pertumbuhan kapulaga (jumlah batang/rumpun) pada keempat jenistegakan mulai dari yang terbaik adalah sengon dan kapulaga (35,67 tunas),manglid dan kapulaga (30,40 tunas), pohon campuran dan kapulaga (17,25 tunas) sertagmelina dan kapulaga (9,36 tunas).

Kapulaga di Desa Kalijaya secaraumum bisa dipanen pada bulan ke 9 sejak penanaman karena didukung kesesuaintempat tumbuh dan tegakan pohon penaung. Kapulaga dapat dipanen setahun sekali dengandurasi selama kurang lebih 3 bulan dan periode panen 2 minggu sekali.



Kapulagadan Pemberdayaan  Masyarakat

Perkembangan budidaya kapulagatidak terlepas dari hasil nyata yang sudah dirasakan oleh petani di DesaKalijaya. Hasil dari kapulaga sudah menjadi salah satu sumber pendapatanandalan bagi petani di Desa Kalijaya. Kegiatan budidaya kapulaga memiliki perandalam memberdayakan masyarakat di Desa Kalijaya yang dapat dilihat daribeberapa aspek diantaranya :

1.   Tingkat partisipasi dan kesadaran petani dalammenanam/budidaya kapulaga.

Budidayakapulaga sudah berjalan lama sejak duhulu dan dilakukan di bawah tegakan. Berdasarkan hasil wawancara, sebelumtahun 2011 jumlah petani yang membudidayakan kapulaga sekitar 40%. Seiringdengan mudahnya penjualan, harga yang cukup tinggi dan stabil maka terjadipeningkatan kesadaran dan kemauan petani untuk menanam kapulaga secara mandiritanpa tergantung proyek. Sejak tahun 2011 hingga sekarang, jumlah petani diDesa Kalijaya yang menanam kapulaga sebanyak kurang lebih 90%.

2.    Penggunaankapulaga sebagai alat tukar.

Kapulaga menjadi tanaman favorit sebagianpetani dan menjadi salah satu alat tukar barang. Beberapa petani yang memilikikapulaga sering membawa kapulaga ke warung di sekitar rumahnya dan menukarnyadengan barang-barang kebutuhan petani tersebut.

3.  Munculnyapara pelaku usaha kapulaga.

Berkembangnyabudidaya kapulaga berdampak pada munculnya para pelaku usaha yang melakukantransaksi pemasaran kapulaga baik dalam skala kecil yaitu pemilik warung yangmembeli kapulaga dalam jumlah sedikit sekitar  1-3 kg, pelaku skala menengah yaitu  ranting/pengepul yang membeli kapulaga daripetani, dan pembeli skala besar yaitu bandar yang membeli kapulaga dariranting/pengepul. Di Desa Kalijaya terdapat  3-5 orang bandar yang membeli dan menampungkapulaga yang selanjutnya dijual ke wilayah Tasikmalaya, Cirebon dan Banjar.

4.  Aktifitaspenjualan bibit

Melimpahnya tanaman kapulaga di DesaKalijaya dimanfaatkan oleh sebagian petani sebagai sumber bibit yang dijualhingga ke luar jawa.



5.  Munculnyalapangan pekerjaan

Alurkegiatan dalam budidaya kapulaga sejak penanaman hingga pemanenan sertakegiatan pasca panen cukup banyak. Kegiatan tersebut diantaranya wiwil(memisahkan biji kapulaga) dan penjemuran. Bagi petani yang mempunyai lahanyang luas, tidak semua pekerjaan tersebut sanggup di kerjakan sendiri sehinggamenyuruh tenaga kerja untuk mengerjakan kegiatan tersebut. Hal tersebutmemunculkan beberapa lapangan pekerjaan bagi masyarakat di desa.

            Perkembanganbudidaya kapulaga di Desa Kalijaya menuntut petani untuk mencari informasi danmenambah pengetahuan terkait budidaya dan pascapanen kapulaga. Hal tersebutmenyebabkan masyarakat semakin berdaya dengan belajar dan melakukan pertukaraninformasi terkait usaha hutan rakyat terutama kapulaga.

Penutup

Perkembangan budidaya kapulagadi Desa Kalijaya dapat dijadikan sebagai cermin bahwa komoditi  apapun jika sudah dirasakan hasilnya oleh petanimaka dapat menumbuhkan kesadaran dan kemauan petani tersebut untuk menanamnya. Padasaat komoditi itu berkembang luas baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, makadapat berperan untuk memberdayakan petani baik pada aspek partisipasi, ekonomimaupun pengembangan kapasitas.

Daftar Pustaka

Achmad,B., S. Mulyana, T Puspitodjati, Darsono, dan N. Sutrisna. 2009. Laporan HasilPenelitian " Kajian Pemanfaatan dan Pemasaran Hasil Hutan Rakyat". BalaiPenelitian Kehutanan. Ciamis.Tidak diterbitkan


Diniyati,D., E. Fauziyah, TS. Widyaningsih., Suyarno, dan E. Mulyati. 2010. LaporanHasil Penelitian " Pola Agroforestry di Hutan Rakyat Pengahasil KayuPertukangan Sengon".  Balai PenelitianKehutanan. Ciamis. Tidak diterbitkan

 

IndrajayaY. dan Aris Sudomo. 2013. Analisis Finansial Agroforestry Sengon dan Kapulagadi Desa Payungagung. Kecamatan Panumbangan. Balai Penelitian TeknologiAgroforestry, Ciamis

 

SudomoA. dan Wuri Handayani. 2013. Karakteristik Tanah Pada Empat Jenis TegakanPenyusun Agroforestry Berbasis Kapulaga (Amomumcompactum ex Maton). Balai Penelitian Teknologi Agroforestry, Ciamis




Sumber  : Surili Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Edisi 75
Penulis  :
File  : ---
Telah Dibaca  : 252 Kali

  >> Ke Indeks Sorotan Kita 

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon


Home   Contact   Email   LogIn



Copyright © 2019 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat