KLHK Terus Hijaukan Hulu Sungai Citarum

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus melakukan perbaikan di kawasan hulu Sungai Citarum. Berbagai program terkait rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) di daerah aliran sungai (DAS) telah digulirkan sejak 2015 silam.

Menurut Kepala Sub Direktorat Pemolaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Saparis Sudarjanto, dalam perbaikan ini pihaknya fokus menanami kembali lahan-lahan kritis di kawasan hulu sungai tersebut.

Selain untuk mengurangi banjir karena mampu menghasilkan kawasan resapan air, penghijauan ini pun sangat diperlukan untuk mengurangi pencemaran.

Dia menyebut, erosi di kawasan hulu menyebabkan pencemaran dan sedimentasi di sepanjang aliran sungai. Sebagai contoh, pada 2015, erosi di lahan kritis DAS Citarum mencapai 6,1 juta ton per tahun. Kondisi ini terjadi akibat adanya lahan kritis seluas 79.549 hektare, dengan rincian di dalam kawasan hutan 38.963 hektare dan di luar 40.585 hektare.

Oleh karena itu, sejak 2015 hingga saat ini, pihaknya telah melakukan RHL di seluas 18.925 hektare. Hasilnya, saat ini erosi di lahan kritis DAS Citarum berkurang menjadi 5,2 juta ton per tahun. Pada 2018 ini, pihaknya kembali melakukan hal serupa di atas 2.500 hektare lahan kritis.

"Kami mengalokasikan anggaran Rp38 miliar, untuk reboisasi dan agroforestry di atas 555 hektare," katanya saat meninjau lokasi RHL DAS Citarum, di Kampung Babakan Cianjur, Desa Malasari, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (28/2).

Dia menjelaskan, agroforestry diperlukan mengingat lahan-lahan kritis ini pun merupakan milik masyarakat. Sehingga, mereka tidak menolak lahan-lahannya dihijaukan karena akan memberi nilai ekonomi.

"Jadi selain ditanami tumbuhan kuat seperti kayu, dengan agroforestry ini pun lahan-lahannya ditanami kopi, tomat, dan apa pun yang memberi nilai ekonomi," ujarnya.

Dengan begitu, dia optimistis target Presiden Joko Widodo yang akan menuntaskan persoalan di Citarum selama 7 tahun bisa tercapai. Terlebih, lanjut dia, jika semua pihak memiliki komitmen yang sama untuk mengatasinya.

"Dengan catatan di sini, yang lain juga digerakkan. Kita persoalannya sinergi, koordinasi," katanya.

Oleh karena itu, menurutnya, perlu instrumen baku untuk menyinergikan seluruh unsur terkait. Salah satunya dengan aturan terkait penataan ruang yang memiliki keberpihakan terhadap konservasi kawasan hulu.

Melalui aturan tata ruang yang jelas, dia berharap setiap wilayah hulu difungsikan sebagai kawasan lindung sehingga mampu mencegah terjadinya kerusakan yang mengakibatkan bencana. Terlebih, menurutnya, dengan menjadikan wilayah hulu sebagai kawasan lindung, sama dengan menambah penampungan air yang kapasitasnya lebih besar jika dibandingkan dengan waduk buatan.

"Jadi kita buat waduk hijau dengan adanya kawasan lindung ini. Dengan luas yang sama, waduk buatan seluas 135 ribu hektare bisa menampung 730 juta meter kubik air. Kalau waduk hijau seluas itu, bisa menampung air 773 juta meter kubik," katanya seraya menyebut hal ini pun sudah dilakukan negara-negara maju yang kembali menghutankan lahan-lahannya.

Di tempat yang sama, Ketua Kelompok Tani Kopensari, Kampung Babakan Cianjur, Desa Malasari, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Sahru Suhenda, mengatakan, dia bersama 15 kelompok tani lainnya melakukan agroforestry di atas lahan 25 hektare. Kegiatan yang diinisiasi KLHK ini dilakukan di atas lahan-lahan pribadi milik warga.

"Jenis tanaman kayu ada mindi, suren. Lalu ada gambalina," katanya.

Selain menanam tanaman untuk kepentingan konservasi itu, pihaknya menanam tanaman yang memiliki nilai ekonomis seperti kopi, kacang, dan tomat.

"Tanaman kayu juga memberi nilai ekonomi, tapi dipanennya 5-8 tahun sekali," katanya.

Dia mengakui, sebelum ada program RHL dari KLHK, kawasan hulu milik warga itu dibiarkan begitu saja sehingga menjadi lahan tidur. Selain tidak digarap, kondisinya pun gundul sehingga mengakibatkan erosi di saat musim hujan.

"Dulunya ini lahan tidur. Bukan produksi, malah lahan kritis," ucapnya.

Meski begitu, dia berharap lahan-lahan yang berperan besar terhadap kestabilan lingkungan ini bisa ditanami tanaman yang lebih ekonomis tanpa mengurangi fungsi konservasi. Di antaranya dengan mengganti tanaman kayu oleh buah-buahan seperti alpukat, nangka, dan durian.

"Itu juga kan pohon-pohonnya kuat. Tapi buahnya juga bisa dipanen dalam waktu yang lebih cepat," katanya.



Sumber ( http://www.mediaindonesia.com/news/read/147288/klhk-terus-hijaukan-hulu-sungai-citarum/2018-02-28)

  >> Ke Indeks Berita 

Link

Polling

  Berapa banyak pohon yang anda tanam dalam setahun?
1 - 5 pohon
5 - 10 pohon
10 - 15 pohon
lebih dari 15 pohon
tidak menanam pohon