Hero section image background

Tahura Djuanda Gelar Pasar Pasisian Leuweung, Wadah UMKM Hasil Hutan

Selasa, 8 September 2026

Produk Hasil Hutan

1

Postingan ini dilihat

0

Postingan ini dibagikan

Poster post Tahura Djuanda Gelar Pasar Pasisian Leuweung, Wadah UMKM Hasil Hutan

 

BANDUNG, TAHURA DJUANDA (05/09/2026) 

Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda kembali menjadi lokasi penyelenggaraan Pasar Pasisian Leuweung, sebuah pasar rakyat yang digelar di halaman Goa Belanda pada Sabtu–Minggu, 5–6 September 2026. Acara ini menjadi ajang bagi para pelaku UMKM untuk memamerkan sekaligus memasarkan produk-produk hasil hutan kepada masyarakat luas.

Pasar Pasisian Leuweung menjadi wadah bagi Kelompok Tani Hutan (KTH), UMKM, dan pelaku usaha sekitar kawasan untuk memperkenalkan hasil usaha mereka. Berbagai hasil olahan dan karya dapat ditemui, mulai dari jajanan khas Tahura, rempah, kopi, dan madu, hingga kerajinan tangan dan aksesori dari daur ulang plastik.

Salah satunya adalah lapak aksesori manik-manik hasil daur ulang botol plastik yang dikelola Dwi bersama rekan-rekannya, Caca dan Ocit. Menurut Dwi, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program yang telah berjalan sekitar tiga bulan terakhir, hasil kolaborasi antara mahasiswa dan ibu-ibu PKK di sekitar Tahura.

Dwi mengaku sangat terbantu dengan digelarnya Pasar Pasisian Leuweung karena membuka ruang promosi yang lebih luas bagi produknya. “Terbantu banget, karena banyak engagement dari masyarakat yang datang. Banyak juga anak muda yang tertarik dengan aksesori-aksesori seperti ini, jadi produk kami makin laris,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran pasar semacam ini penting bagi pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di bidang daur ulang, karena turut mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah. Dwi berharap Pasar Pasisian Leuweung dapat terus berkembang, bahkan mampu menarik minat wisatawan mancanegara, tidak hanya dari dalam Jawa Barat. “Semoga bisa lebih meriah dan lebih terbuka lagi,” katanya.

Antusiasme terhadap Pasar Pasisian Leuweung juga dirasakan oleh pengunjung. Putri Agil, warga Soreang, Kabupaten Bandung, mengaku baru pertama kali datang ke Tahura sekaligus baru mengetahui keberadaan Pasar Pasisian Leuweung saat sedang membeli bandros di lokasi. Menurutnya, suasana pasar ini berbeda dari yang biasa ia temui di daerah asalnya. “Seru, rame. Di Soreang biasanya nggak ada yang seperti ini, di sini juga ada makanan-makanan unik,” ujarnya. Ia berharap Pasar Pasisian Leuweung semakin ramai ke depannya.

Selain gelar produk, panitia juga memberikan bibit tanaman secara gratis kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya mendorong kepedulian terhadap pelestarian lingkungan. Kegiatan ini turut dimeriahkan dengan pentas seni bernuansa estetika Jawa Barat, hiburan rakyat, dan pembagian doorprize bagi pengunjung yang beruntung. Kehadiran unsur budaya tersebut menjadikan suasana pasar lebih meriah dibanding sekadar transaksi jual-beli semata.

Melalui acara ini, para pelaku UMKM diharapkan mendapat ruang promosi yang lebih luas sekaligus memperkenalkan produk mereka kepada wisatawan yang berkunjung ke Tahura Djuanda. Di sisi lain, pengunjung juga bisa menikmati suasana pasar yang berbeda dengan nuansa hutan sebagai latar belakangnya.

Pihak pengelola Tahura menyelenggarakan kegiatan ini secara rutin setiap awal bulan sebagai upaya mendorong pertumbuhan industri kreatif berbasis hasil hutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan kelompok tani dan pelaku usaha di sekitar kawasan. Masyarakat diundang untuk berkunjung bersama keluarga maupun kerabat guna menyaksikan langsung ragam produk serta hiburan yang disajikan sepanjang penyelenggaraan Pasar Pasisian Leuweung.

Penulis: Adela Sintia Rahmayanti dan Silvi Lestari

Tags

  • dinaskehutanan
  • pasarpasisianleuweung
  • tahuradjuanda
  • kelompoktanihutan
  • umkm